Dari Suara Muhammadiyah 1915 hingga Hari Pers dan Literasi: Menelusuri Jejak Literasi Muhammadiyah

Tanggal 13 Agustus akan Ditetapkan Menjadi Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir - (Sumber: Istimewa)
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir - (Sumber: Istimewa)

MAJMUSSUNDA NEWS, Yogyakarta, Rabu (12/08/2026) – Perayaan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah pada Rabu, 12 Agustus 2026, di Yogyakarta, bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah penjelmaan dari sebuah tradisi panjang yang telah mengakar kuat dalam denyut nadi organisasi Islam modern terbesar di Indonesia ini.

Sejak awal kelahirannya, Muhammadiyah telah menunjukkan kepeloporan dan kepedulian yang luar biasa terhadap dunia pers dan literasi, sebuah warisan yang kini diabadikan dalam momentum bersejarah ini.

Jauh sebelum era digital mendominasi, Muhammadiyah telah merajut narasi melalui media cetak. Sejarah mencatat, tepatnya pada 13 Agustus 1915, “Suara Muhammadiyah” lahir sebagai embrio gerakan pers di kalangan persyarikatan.

Logo Muhammadiyah
Logo Muhammadiyah – (Sumber: Istimewa)

Tak lama kemudian, “Suara Aisyiyah” menyusul, menjadi corong perjuangan kaum perempuan. Jejak ini terus berlanjut dengan penerbitan media cetak di berbagai daerah pada masa-masa awal, membuktikan bahwa semangat literasi dan penyebaran informasi telah menjadi DNA yang tak terpisahkan dari Muhammadiyah.

Kepedulian terhadap pers dan literasi ini bukan muncul tiba-tiba. Ia berangkat dari tradisi keilmuan dan pencerahan yang menjadi fondasi Muhammadiyah. Para pendiri dan tokoh-tokoh awal memahami betul kekuatan pena dan kata-kata dalam menyebarkan dakwah Islam berkemajuan, meluruskan pemahaman, dan mencerdaskan umat. Media menjadi jembatan strategis untuk menyampaikan gagasan-gagasan reformis dan membangun kesadaran kolektif.

Berangkat dari kesadaran historis dan urgensi masa kini, pada bulan Agustus 2024, Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah berinisiatif mengajukan “Hari Pers Muhammadiyah” kepada Pimpinan Pusat. Sebuah gagasan yang kemudian dikoreksi oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah menjadi lebih komprehensif: “Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah”.

Koreksi tersebut menegaskan bahwa pers tidak dapat dipisahkan dari tradisi literasi yang lebih luas, sebuah sinergi yang esensial untuk pembangunan peradaban. Oleh karena itu, peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah hari ini dengan rangkaian kegiatan seperti Jambore Media AfiliasiMu dan penyerahan Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Prof. Dr. Haedar Nashir menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia adalah sebuah deklarasi ulang komitmen Muhammadiyah untuk terus berdakwah melalui jalur media, menghasilkan produk jurnalisme yang berkualitas, dan senantiasa menumbuhkembangkan budaya literasi di tengah-tengah masyarakat. Sebuah jembatan yang menghubungkan masa lalu yang penuh sejarah dengan masa depan yang penuh harapan.

***

Judul: Dari Suara Muhammadiyah 1915 hingga Hari Pers dan Literasi: Menelusuri Jejak Literasi Muhammadiyah
Jurnalis: Asep Zaenal Mustofa
Editor: Jumari Haryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *