MajmusSunda News – Bandung, Minggu (20/09/2026) – Kabar berpulangnya H. Danny Setiawan, Gubernur Jawa Barat periode 2003–2008, pada Sabtu, 19 September 2026, membawa kembali ingatan saya pada sebuah perjalanan persaudaraan yang pernah kami ikhtiarkan antara warga Sunda di Ranah Minang dan masyarakat Minangkabau di Jawa Barat.
Saya tidak hendak menulis biografi beliau.
Saya juga tidak hendak mengulang apa yang telah ditulis orang tentang seorang gubernur yang pernah memimpin Jawa Barat.
Saya hanya ingin menyampaikan sebuah kesaksian kecil tentang kebaikan seorang manusia yang pernah saya rasakan sendiri dan yang menurut saya patut dikenang.
Sebab ada orang yang kita kenal karena jabatannya.
Ada pula orang yang kita kenang karena kebaikan yang ditinggalkannya.
Dan bagi saya, Danny Setiawan adalah bagian dari cerita itu.
Pintu Gedung Sate
Pada 18 Desember 2005, saya mendapat kesempatan melakukan audiensi dengan Gubernur Jawa Barat H. Danny Setiawan.
Ketika itu, saya dipercaya sebagai Ketua Panitia Silaturahmi Akbar Patepang Sono Warga Sunda di Sumatera Barat.
Kami datang bukan membawa kepentingan politik.
Kami datang membawa sebuah niat sederhana: mempertemukan kembali rasa persaudaraan antara urang Sunda yang hidup di Ranah Minang dengan tanah leluhurnya di Jawa Barat.
Audiensi tersebut difasilitasi oleh H. Lex Laksamana.
Saya menyampaikan langsung kepada Gubernur Danny Setiawan maksud kedatangan kami sekaligus mengundang beliau untuk hadir dalam acara yang akan dilaksanakan di Sumatera Barat pada 22 Januari 2006.
Ada sebuah hubungan yang hendak kami rawat.
Hubungan yang sebelumnya telah dibangun dengan penuh penghormatan antara masyarakat Sunda dan Minangkabau.
Dan ternyata, hubungan itu bukan sesuatu yang asing bagi beliau.
Dari “Mamak” menuju “Abah Rahkean”
Setahun sebelumnya, pada 2004, H. Danny Setiawan telah dikukuhkan sebagai warga kehormatan Minang di Jawa Barat dan mendapat kedudukan kehormatan sebagai “Mamak”.
Maka, ketika kami hendak menyelenggarakan Patepang Sono di Sumatera Barat, muncul sebuah gagasan yang bagi saya hingga hari ini tetap terasa indah:
kehormatan dibalas dengan kehormatan.
Pada 22 Januari 2006, Gubernur Sumatera Barat H. Gamawan Fauzi dikukuhkan sebagai warga kehormatan sekaligus Sesepuh Warga Sunda di Sumatera Barat.
Beliau kemudian dianugerahi gelar kehormatan “Abah Rahkean”.
Gelar tersebut diberikan oleh Pupuhu Paguyuban Pasundan Bandung, H. A. Syafei.
Danny Setiawan tidak dapat hadir secara langsung. Namun, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tetap hadir melalui Sekretaris Daerah H. Setia Hidayat.
Bagi saya, kehadiran itu memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar mewakili seorang gubernur.
Ia adalah tanda bahwa hubungan persaudaraan tersebut dihargai oleh kedua belah pihak.
Dan dokumen resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat memang menunjukkan bahwa pada masa itu Setia Hidayat menjabat sebagai Sekretaris Daerah Jawa Barat; dokumen bertanggal April 2006 masih mencantumkan namanya pada jabatan tersebut.
Persaudaraan yang tidak berhenti pada seremoni
Yang paling saya kenang dari masa itu justru bukan gelar dan seremoni.
Melainkan apa yang terjadi setelahnya.
Hubungan Sunda–Minang tidak berhenti pada panggung kehormatan.
Ada pertukaran mahasiswa.
Ada kesempatan pendidikan dan beasiswa bagi warga Jawa Barat untuk menempuh pendidikan di sejumlah perguruan tinggi di Sumatera Barat.
Begitu pula sebaliknya.
Anak-anak muda dari Sumatera Barat mendapat ruang untuk mengenal Jawa Barat, sementara mahasiswa asal Jawa Barat berkesempatan mengenal Ranah Minang lebih dekat.
Di situlah saya melihat bahwa kebudayaan tidak semestinya hanya disimpan sebagai kenangan.
Kebudayaan harus dipertemukan.
Dan pendidikan adalah salah satu jembatan terbaik untuk mempertemukannya.
Perhatian Danny Setiawan juga terasa melalui dukungan terhadap masyarakat Sunda di Sumatera Barat, termasuk pemberian gamelan dan perangkat seni Sunda untuk mendukung kehidupan kesenian warga Sunda di perantauan.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah seperangkat alat seni.
Tetapi bagi kami, gamelan bukan sekadar benda.
Ia adalah suara kampung halaman yang dibawa menyeberangi pulau.
Ia menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun seseorang merantau, akar budayanya tetap dapat hidup.
Seorang gubernur yang mau mendengar
Saya tentu tidak mengetahui seluruh perjalanan hidup dan seluruh kebijakan H. Danny Setiawan.
Saya juga tidak merasa memiliki kewenangan untuk memberikan penilaian menyeluruh terhadap masa pemerintahannya.
Tetapi saya mengetahui satu hal yang saya alami sendiri:
ketika kami datang membawa ikhtiar kebudayaan, pintu itu terbuka.
Kami didengar.
Kami difasilitasi.
Dan gagasan tentang persaudaraan Sunda–Minang mendapat ruang.
Bagi saya, seorang pemimpin tidak hanya dikenang dari gedung yang dibangun atau kebijakan yang ditetapkan.
Kadang-kadang, ia justru dikenang dari ruang yang ia bukakan bagi orang lain untuk bertemu, belajar, dan saling menghormati.
Di situlah saya menemukan makna kepemimpinan beliau.
Dari Ranah Minang, kami menghantar doa
Kini, hampir dua dekade setelah peristiwa itu, saya kembali mengingatnya.
Dulu kami datang dari Ranah Minang ke Jawa Barat membawa salam.
Kini dari Ranah Minang pula kami menghantarkan doa untuk beliau.
Waktu telah berjalan.
Orang-orang telah berganti.
Jabatan telah berlalu.
Tetapi persaudaraan yang pernah dibangun dengan ketulusan tidak semestinya ikut hilang bersama pergantian zaman.
H. Danny Setiawan telah berpulang.
Yang tinggal adalah kenangan.
Yang tinggal adalah jasa.
Yang tinggal adalah hubungan baik yang pernah beliau bantu tumbuhkan.
Dan bagi saya pribadi, salah satu kenangan itu adalah ketika pernah berdiri di hadapan beliau, membawa sebuah harapan sederhana:
agar orang Sunda di Ranah Minang tidak merasa jauh dari tanah leluhurnya, dan agar orang Minang di Jawa Barat merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar tanah Pasundan.
Hari ini saya menyadari:
mungkin itulah salah satu bentuk warisan seorang pemimpin yang tidak tercatat dalam angka-angka pembangunan.
Membangun jembatan antarmanusia.
Pangjajap Du’a
Untuk almarhum H. Danny Setiawan, dari Ranah Minang kami menyampaikan:
Pangjajap Du’a.
Semoga Allah SWT mengampuni segala kekhilafan beliau, menerima segala amal kebajikan yang pernah ditanamkan selama hidupnya, melapangkan kuburnya, menerangi tempat peristirahatannya, dan menempatkannya di tempat yang mulia di sisi-Nya.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT memberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan.
Kami tidak mampu membalas segala kebaikan yang pernah diberikan.
Maka, biarlah doa yang menjadi balasannya.
Sebab pada akhirnya, jabatan akan selesai.
Kekuasaan akan berakhir.
Nama akan perlahan menjadi sejarah.
Tetapi kebaikan yang pernah diberikan kepada manusia sering kali menemukan jalan untuk tetap hidup dalam ingatan.
Selamat jalan, Pak Danny.
Dari Ranah Minang, kami melepas kepergianmu dengan doa.
Semoga perjalanan pulangmu menuju hadirat-Nya mendapat rida dan rahmat Allah SWT.
Al-Fatihah.
Ranah Minang, 19 September 2026

Judul: Danny Setiawan, dalam Kenangan
Penulis: Amin Prabu (Ki Pamanah Rasa), Ketua AMS.106 Sumbar I Wakil Ketua FPK Provinsi Sumatera Barat)
Editor: Parkah












