MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (23/08/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “”Cuang Cieung”” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Dalam bahasa Sunda, frasa cuang cieung bermakna sebatang kara, hidup menyendiri, atau tanpa sanak saudara. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan perasaan atau kondisi seseorang yang sangat sepi, tidak memiliki teman, atau ditinggalkan sendirian. Contoh penggunaannya dalam kalimat “Kuring cuang cieung hirup sorangan di dunya ieu.” Artinya: Saya hidup sebatang kara dan menyendiri di dunia ini.
“Cuang cieung” itu bahasa Sunda gaul/slang. Ada juga yang mengartikan bengong, melamun, ngelamun, atau seperti orang linglung tidak fokus. Biasanya digunakan buat nyindir orang yang lagi kosong pikirannya. Atau diam saja sambil natap kosong. Contoh: “Kumaha sih maneh, ti tadi cuang cieung wae”. Artinya, “gimana sih kamu, dari tadi bengong saja” ? Kata ini memang masuk kategori bahasa gaul Sunda. Jadi kadang artinya bisa agak kasar tergantung nada bicaranya.

Cuang-cieung itu biasanya bukan karena mau, tapi karena keadaan hidup yang bikin seseorang jadi sebatang kara.
Beberapa alasan umum kenapa seseorang bisa cuang-cieung: Yang utama, faktor keluarga. Orang tuanya sudah meninggal sejak kecil, tidak punya saudara, atau hubungan keluarga retak sampai putus kontak. Jadi benar-benar tidak ada kerabat dekat.
Selanjutnya, faktor hidup / merantau.
Pindah jauh dari kampung halaman buat kerja atau sekolah, tapi tidak bawa keluarga. Lama-lama di tempat baru dia merasa sendirian, tidak punya siapa-siapa.
Kemudian, faktor sosial. Dikucilkan, konflik sama keluarga, atau trauma sehingga memilih menarik diri dan hidup menyendiri. Kadang orang milih jadi cuang-cieung karena kecewa sama orang sekitarnya.
Lalu, faktor waktu.
Semakin tua, teman sebaya atau saudara satu per satu meninggal. Anak cucu tinggal jauh. Akhirnya yang tersisa dia sendiri.
Jadi intinya, cuang-cieung itu gabungan dari kehilangan, jarak, dan pilihan hidup. Rasanya sangat sepi karena tidak ada “tempat pulang” secara emosional maupun keluarga.
Cuang-cieung kelihatannya sedih, tapi di dalamnya ada beberapa nilai filosofi Sunda yang sangat dalam yakni :
Pertama, eling ka Gusti, sadar diri.
Kalau udah nggak punya siapa-siapa, orang jadi lebih nurut, lebih inget ke Tuhan. Filosofi Sundanya: “Lamun sorangan mah, ukur Gusti nu nyaksian”. Artinya, kalau sendirian, cuma Tuhan yang jadi saksi. Jadi ngajarin tawakal dan ngandelin diri sendiri bareng Gusti.
Kedua, kuat mental dan mandiri.
Cuang-cieung memaksa seseorang buat bertahan hidup menggunakan tenaga sendiri. Tidak bisa manja, tidak bisa mengharapkan orang lain. Dari situ muncul nilai silih asah, silih asih, silih asuh versi diri sendiri dulu, mengasah kemampuan, mengasuh diri, biar tidak tumbang.
Ketiga, harta paling berharga bukan keluarga darah, tapi amal jeung silaturahmi.
Budaya Sunda mengingatkan kalau sudah cuang-cieung, berarti diuji buat mencari “keluarga baru” lewat kebaikan. Jadi lebih peka buat menolong orang, karena mengerti rasanya sepi. “Hirup teh ulah ngarasa sorangan, da mahluk Gusti mah loba”. Artinya, hidup jangan ngerasa sendirian, karena makhluk Tuhan itu banyak.
Keempat, pangeling-eling tentang fana.
Filosofi paling berat pada akhirnya semua orang bakal merasa cuang-cieung juga. Pas tua, pas ditinggal, pas mati. Jadi ini mengajarikan supaya jangan sombong, jangan putus silaturahmi, dan jangan sia-siakan orang di sekitar kita selagi masih ada.
Singkatnya cuang-cieung itu cermin. Dia mengingatkan manusia buat rendah hati, mandiri, dekat ke Tuhan, dan jaga hubungan baik sama sesama mumpung masih bisa. Semoga ada manfaatnya. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).
***
Judul: “Cuang Cieung”
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












