MajmusSunda News, Rubrik OPINI, Kamis (26/02/2026) – Esai berjudul “Cinta PHP” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Kata kamu mencintai negeri ini, seperti seseorang mencintai rumah masa kecil—penuh kenangan dan janji untuk menjaganya tetap utuh.
Kata kamu jabatan hanyalah jalan mengabdi, kuasa sekadar alat untuk menata yang kusut, menguatkan yang rapuh. Aku ingin percaya—sebab tak mungkin pendakuan demi negeri terus kamu sebut tanpa ada getar di hati.
Namun, negara ini sering tampak lelah. Bukan oleh kurangnya pidato, melainkan oleh berlimpahnya janji yang tak sempat tumbuh menjadi bukti. Ia lelah oleh tata kelola yang kian ugal-ugalan, arah yang berubah-ubah, dan elit yang lebih sibuk rebutan jatah proyek ketimbang memikirkan nasib rakyat. Di meja yang mestinya merancang masa depan, sajian yang lebih lahap disantap tertuju pada pembagian kue keuntungan.

Kata kamu kita menganut politik bebas aktif—berdiri tegak tanpa terikat, menjalin persahabatan tanpa tunduk pada siapa pun. Namun di tikungan kebijakan, mengapa retorika mandiri itu hanya bebas di kata. Namun, aktif mengekor politik luar negeri pihak lain dalam tindakan.
Kata kamu kita harus berdiri di atas kaki sendiri, memperkuat industri dalam negeri, memahirkan tangan-tangan anak bangsa agar tak selamanya menjadi pembeli di pasar rumahnya sendiri. Kamu bicara tentang kemandirian, tentang masa depan yang tak lagi bergantung pada luar.
Namun mengapa masih berhasrat mengimpor barang asing bernilai raksasa untuk sesuatu yang dapat dilahirkan dari rahim Ibu Pertiwi? Bukankah setiap pilihan adalah pernyataan paling jujur tentang kepercayaan?
Mungkin ada hitungan yang tak kami pahami di ruang rapat-rapat tertutup. Namun, dari luar pertanyaannya sederhana: apakah kita membangun rumah atau sekadar memperindah halaman dengan perabot pinjaman?
Kata kamu semua demi kemajuan. Semoga ia tak hanya megah diangka, tetapi juga tumbuh di dada rakyat yang merasa dipercaya, sebab kelangsungan negeri bukan hanya tentang hari ini, melainkan tentang keberanian menanam sendiri apa yang ingin kita tuai.
Bila kelak sejarah menatap kembali, semoga yang ditemukan bukan hanya namamu, tetapi juga jejakmu—yang tak sekadar gemerlap di panggung, melainkan tertanam di tanah, tempat cinta pada negeri benar-benar berakar.
***
Judul: Cinta PHP
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.
***












