MajmusSunda News, Bogor, 15/12/25 – Jakarta, Nurabi, 6 Juni 2008. Tanggal enam Juni dua ribu delapan, Jakarta sedang panas-panasnya. Bukan hanya oleh matahari, tetapi oleh ritme hidup yang seperti tidak memberi ruang bernapas. Di antara deru kendaraan dan langkah orang-orang yang tergesa, Kang Asaka berjalan pelan menuju mushala kecil di ujung gang. Sandalnya sudah tipis, tetapi langkahnya ringan, seakan ia tidak sedang membawa apa-apa.
Kang Asaka dikenal sebagai guru ngaji. Tapi ia sendiri tidak pernah merasa pantas disebut begitu. Ia hanya pembelajar—kata yang lebih ia sukai. Ia membaca banyak kitab, dari tafsir klasik sampai tulisan-tulisan sufi yang berat, tapi cara hidupnya sederhana. Ia lebih sering diam, mendengar, dan mengangguk. Bila bicara, kalimatnya pendek, seperti orang yang tidak ingin menambah beban dunia.
Hari itu, setelah Subuh, ia duduk sendiri. Tidak ada jamaah lain. Hanya suara burung yang tersisa dari malam. Di dadanya, ada kesadaran yang tumbuh pelan: bahwa hidup, betapapun riuhnya, selalu menyimpan ruang hening bagi siapa saja yang mau singgah.
Di Jakarta yang sama, Neng Denis berdiri di depan cermin besar di sebuah apartemen sewaan. Rambutnya tersanggul rapi, wajahnya bersih tanpa make-up. Ia menghela napas panjang sebelum mulai bekerja. Di atas meja, berderet kuas, foundation, bedak, dan lipstik—alat-alat yang selama ini membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan saat kecil di Nurabi, Garut.
Denis adalah Character Make-Up Artist. Pekerjaannya membentuk wajah orang lain agar sesuai karakter yang diinginkan. Ia terbiasa melihat perubahan—bagaimana garis wajah bisa diakali, bagaimana cahaya bisa diciptakan. Namun, belakangan ini, ia merasa ada bagian dalam dirinya yang tak bisa ia poles.
Ia cantik, supel, dan pintar membawa diri. Ia belajar keras agar bisa diterima di kalangan menengah Jakarta. Dari kampung, ia membawa keberanian dan mimpi. Dari ayahnya, ia belajar bekerja tanpa banyak bicara. Dari ibunya, ia belajar bertahan.
Ia mengenal Kang Asaka sejak lama. Dulu, ia gadis kecil yang duduk di tikar mushala Nurabi, mendengarkan suara Kang Asaka mengaji dengan nada datar tapi hangat. Kini, jarak dan waktu memisahkan mereka, tetapi dalam hatinya, Kang Asaka tetap seperti pintu—tempat bertanya tanpa dihakimi.
Pada tanggal itu, hidup Denis masih tampak baik-baik saja. Ia punya pekerjaan mapan, pacar seorang ekspatriat Amerika, dan rencana-rencana yang terlihat jelas. Ia merasa telah melakukan bagiannya. Ia bekerja, mencintai, dan berharap. Maka, menurut logika dunia, hidup seharusnya membalasnya dengan adil.
Ia belum tahu bahwa hidup tidak selalu berjalan dengan sistem tagihan.
Perpisahan itu datang tanpa suara. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada air mata dramatis. Hanya pesan singkat dan kalimat yang terasa dingin: kita sebaiknya berhenti sampai di sini.
Pacarnya—lelaki Amerika yang selama ini menjanjikan apartemen, deposito, dan masa depan—menghilang dari hidupnya. Janji-janji itu seperti debu yang tersapu angin. Denis terdiam lama di kamar. Untuk pertama kalinya, ia merasa bodoh. Bukan karena cinta, tetapi karena percaya.
Hari-hari berikutnya terasa berat. Ia tetap bekerja, tetap tersenyum pada klien, tetapi di dalam dadanya ada ruang kosong yang tidak terisi. Ia teringat semua rencana yang telah ia susun. Semua terasa sia-sia.
Akhirnya, ia menghubungi Kang Asaka. Mereka bertemu di sebuah warung kopi sederhana. Denis bicara panjang, seperti orang yang menahan napas terlalu lama.
“Kang,” katanya, suaranya pelan, “apa ada cara… supaya dia menepati janjinya?”
Kang Asaka tidak langsung menjawab. Ia menunggu kopi diaduk pelan, seperti menunggu kata menemukan tempatnya sendiri.
“Denis,” katanya akhirnya, “janji manusia itu rapuh. Kalau kita sandarkan hidup ke sana, kita ikut rapuh.”
“Tapi saya sudah terlanjur berharap,” Denis menunduk. “Kalau perlu, saya sedekah. Saya janji.”
Kang Asaka menggeleng pelan. “Sedekah itu bukan alat menagih. Ia cara bersyukur.”
Denis pulang dengan hati yang lebih berat dari sebelumnya. Beberapa minggu kemudian, luka itu makin dalam ketika ia tahu mantan pacarnya memberi materi besar kepada perempuan lain—seseorang yang bahkan masih dekat dengannya. Ada rasa ditinggalkan, direndahkan, dan tidak dianggap.
Tiga bulan berlalu. Dalam kelelahan emosional, Denis menerima cinta baru. Lelaki dari London. Direktur perusahaan mobil ternama. Ia tampak mapan, tenang, dan menjanjikan stabilitas. Ketika ia mengajak Denis pindah ke London, Denis menganggapnya jawaban atas semua luka.
Ia hijrah—bukan hanya tempat, tetapi harapan.
London dingin, tapi teratur. Denis menyukai ketertiban itu. Awalnya, hidup berjalan baik. Pacarnya bersikap perhatian. Denis disekolahkan di bidang Character Make-Up Artist secara profesional. Ia merasa dihargai sebagai individu, bukan sekadar pelengkap.
Namun, waktu selalu membuka lapisan yang tersembunyi. Setelah setahun, hubungan mereka mulai berubah. Kesibukan pacarnya meningkat. Percakapan menjadi singkat. Denis merasa sendirian di kota yang tidak memiliki kenangan masa kecilnya.
Masalah-masalah kecil menumpuk. Denis mulai bertanya-tanya tentang dirinya sendiri. Ia bekerja, belajar, tetapi ada kelelahan yang tak bisa dijelaskan. Hingga akhirnya, keputusan itu datang: mereka berpisah.
Denis tidak menangis keras. Ia hanya duduk lama di jendela apartemen, memandangi jalanan London yang basah. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apa yang harus ia harapkan.
Ia teringat kata-kata Kang Asaka tentang pujian yang tidak diucapkan. Tentang syukur yang tidak menunggu balasan. Ia mulai merasa bahwa selama ini, ia memuji hidup hanya ketika hidup memberinya apa yang ia mau.
Berita itu datang dari Nurabi: ayahnya meninggal dunia. Denis merasa dunia runtuh. Ia menyelesaikan pendidikannya dengan hati kosong, lalu pulang ke tanah air.
Di kampung, duka belum selesai ketika luka baru muncul. Ibunya memperlakukannya dingin. Tidak ada pelukan hangat. Tidak ada sambutan. Denis merasa seperti orang yang pulang tanpa membawa apa-apa.
Malam-malamnya sunyi. Ia menangis dalam diam. Ia mulai bertanya: kalau hidup tidak memberiku apa-apa, apakah aku masih bisa memujinya?
Di situlah pikirannya bekerja keras. Bukan untuk mencari solusi, tetapi untuk bertahan.
Suatu malam, Denis membuka Facebook. Ia menemukan Kang Asaka. Mereka berbincang panjang. Kang Asaka tidak memberi nasihat panjang. Ia hanya berkata:
“Denis, mungkin sekarang kamu sedang belajar memuji tanpa alasan.”
“Bagaimana caranya?” tanya Denis.
“Dengan menerima. Dengan hadir. Dengan tidak menagih.”
Sepulang ke Jakarta, Denis hampir tergoda lagi oleh pemuda ekspatriat. Namun kali ini, ia berhenti. Ada kesadaran baru. Ia memilih pulang ke Nurabi, bekerja sederhana, dan merawat dirinya sendiri.
Hidup tidak selalu cerah. Tidak selalu buram. Ia hanya bergerak.
Denis menikah di tanah air, dengan bimbingan Kang Asaka. Pernikahannya sederhana. Tidak ada janji besar. Hanya kesediaan untuk berjalan bersama.
Di Nurabi, Denis sering tersenyum tanpa alasan. Ia tidak lagi menagih hidup. Ia membiarkan hidup menjadi pujian itu sendiri.
Dan di situlah, perlahan, ia menjadi “orang yang banyak memujiNya”—manusia yang hidupnya sendiri adalah pujian: dalam senyum, dalam diam, dalam menerima.
*****
Judul: Cerpen Ketika Hidup Tidak Ditagih Lagi
Pengarang: Abah Ahmadin (Pengasuh Saung Larang)












