Cara Maju Vietnam

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Rabu (15/07/2026)  Artikel berjudul “Cara Maju Vietnam” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, hingga dekade 1980-an, Vietnam bukan negeri yang banyak dibicarakan dengan nada kagum. Perang memang telah lama usai, tetapi damainya belum menghadirkan kesejahteraan. Inflasi melambung, barang kebutuhan pokok langka, industri berjalan tertatih, dan banyak keluarga masih bergantung pada kupon pangan. Di desa-desa, petani bekerja keras tanpa pernah benar-benar yakin bahwa jerih payah mereka akan mengubah hidup. Negeri yang menang di medan perang justru sedang kalah menghadapi kenyataan ekonomi.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Pembaharuan Pertanian

Dalam keadaan seperti itulah Vietnam memilih mengubah arah. Melalui kebijakan Đổi Mới—pembaruan—para pemimpinnya berani mengakui bahwa cara lama tidak lagi mampu membawa rakyat keluar dari kesulitan. Mereka tidak memulai dengan mengejar simbol-simbol kemajuan, tetapi memperbaiki fondasi paling mendasar: pertanian.

Vietnam memahami bahwa tidak ada industri yang kuat tanpa pangan yang cukup. Karena itu, perubahan dimulai dari sawah. Pemerintah memberikan hak pengelolaan lahan kepada keluarga petani dalam jangka panjang sehingga mereka memiliki kepastian untuk bekerja dan menikmati hasilnya. Namun Vietnam sadar bahwa memberikan lahan saja tidak cukup. Petani harus dibangun menjadi pelaku ekonomi yang memiliki pengetahuan, teknologi, dan akses pasar.

Penyuluhan pertanian diperkuat hingga tingkat desa. Petani didampingi untuk menggunakan varietas unggul, memperbaiki teknik budidaya, mengelola air, mengendalikan hama, dan meningkatkan kualitas hasil panen. Pemerintah memperbaiki irigasi, membuka akses pembiayaan, membangun jalan produksi, serta memperkuat hubungan antara petani dan pasar. Negara tidak sekadar meminta petani meningkatkan produksi, tetapi menciptakan ekosistem agar mereka mampu berkembang.

Langkah Vietnam tidak muncul dari ruang kosong. Dalam reformasi pertanian melalui Đổi Mới, Vietnam mempelajari pengalaman Indonesia yang pada masa itu dikenal sebagai salah satu contoh keberhasilan pembangunan pangan di Asia. Program intensifikasi pertanian, pembangunan irigasi, penyuluhan kepada petani, penggunaan benih unggul, serta dukungan pemerintah yang mengantarkan Indonesia mencapai swasembada beras pada 1984 menjadi salah satu rujukan penting.

Vietnam mengambil prinsip dasarnya: petani membutuhkan kepastian, ilmu pengetahuan, infrastruktur, dan dukungan negara. Prinsip itu kemudian disesuaikan dengan kondisi mereka sendiri hingga berhasil mengubah Vietnam dari negara yang pernah kekurangan pangan menjadi salah satu pengekspor beras terbesar dunia.

Pemajuan Industri dan SDM

Namun Vietnam tidak berhenti di sawah. Setelah fondasi pertanian menguat, perhatian bergeser kepada industri.

Vietnam membuka diri terhadap investasi asing, tetapi dengan tujuan yang jelas. Kawasan industri dibangun di dekat pelabuhan dan pusat logistik, jaringan jalan diperluas, pasokan listrik diperkuat, sementara prosedur perizinan dibuat lebih sederhana. Mereka tidak sekadar menawarkan tenaga kerja murah, tetapi menciptakan kepastian bagi siapa pun yang ingin menanamkan modal.

Investasi juga diarahkan untuk membangun kemampuan nasional. Pendidikan vokasi diperluas agar tenaga kerja memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri. Investasi tidak hanya dipandang sebagai masuknya modal, tetapi sebagai kesempatan memperoleh teknologi, pengetahuan, dan pengalaman baru.

Kesinambungan Pembangunan

Di balik semua kebijakan itu terdapat satu faktor yang sering menentukan keberhasilan pembangunan: kesinambungan.

Vietnam memahami bahwa pembangunan tidak selesai dalam satu periode pemerintahan. Karena itu, arah pembangunan dijaga agar tidak berubah setiap kali kepemimpinan berganti. Program yang telah terbukti berjalan tidak dibongkar, melainkan diperbaiki, disempurnakan, dan dilanjutkan agar hasilnya dapat tumbuh dalam jangka panjang.

Dalam hal kesinambungan pembangunan, Vietnam juga mempelajari pengalaman Indonesia melalui GBHN dan Repelita yang menekankan perencanaan jangka panjang—dari penguatan pertanian, pembangunan infrastruktur, hingga pengembangan industri dan kualitas manusia. Pelajaran yang diambil adalah bahwa negara membutuhkan visi yang melampaui satu masa kekuasaan; pergantian pemerintahan tidak berarti memulai kembali dari awal, tetapi menjaga arah besar sambil memperbaiki kekurangan.

Kesinambungan itulah yang kemudian menghasilkan perubahan nyata.

Kemajuan dan Tantangan

Dalam beberapa dekade, Vietnam berubah dari negara miskin pascaperang menjadi salah satu ekonomi yang tumbuh paling dinamis di Asia Tenggara. Tingkat kemiskinan turun secara drastis, pendapatan masyarakat meningkat, dan struktur ekonomi bergeser dari pertanian tradisional menuju industri dan jasa.

Di sektor pangan, Vietnam yang dahulu kesulitan memenuhi kebutuhan beras sendiri kini menjadi salah satu pengekspor beras terbesar dunia. Di sektor industri, Vietnam berkembang menjadi basis produksi berbagai perusahaan global, terutama dalam manufaktur elektronik, tekstil, dan produk berorientasi ekspor. Investasi asing meningkat, infrastruktur logistik berkembang, dan kemampuan produksi nasional terus bertambah.

Namun Vietnam bukan kisah tanpa persoalan. Pertumbuhan yang cepat juga menghadirkan tantangan baru: ketergantungan pada investasi asing, kesenjangan antara kawasan industri dan pedesaan, tekanan terhadap lingkungan, serta kebutuhan untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Vietnam masih menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi benar-benar menghasilkan kesejahteraan yang lebih merata.

Perbedaannya, Vietnam memiliki arah pembangunan yang relatif konsisten dan terus melakukan penyesuaian terhadap masalah yang muncul. Mereka tidak menganggap keberhasilan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai fondasi untuk menghadapi tantangan berikutnya.

Ironi dan Pelajaran Indonesia

Di sinilah sejarah menghadirkan sebuah ironi bagi Indonesia.

Vietnam pernah belajar dari Indonesia—tentang pembangunan pertanian, tentang pentingnya perencanaan jangka panjang, dan tentang bagaimana negara dapat mengarahkan transformasi ekonomi. Namun beberapa dekade kemudian, Vietnam mampu menjaga dan mengembangkan pelajaran tersebut secara konsisten hingga menjadi kekuatan pangan dan manufaktur, sementara Indonesia menghadapi tantangan untuk menghidupkan kembali sebagian keberhasilan yang pernah dicapainya.

Pelajaran dari Vietnam bukan bahwa Indonesia kekurangan potensi. Indonesia memiliki sumber daya, pasar, dan kemampuan manusia yang besar. Bahkan sejarah menunjukkan bahwa Indonesia pernah berada pada posisi yang menginspirasi negara lain.

Yang menentukan pada akhirnya adalah kemampuan menjaga arah.

Sebab pembangunan bukan hanya tentang menemukan kebijakan yang tepat. Pembangunan adalah tentang keberanian menjalankannya secara konsisten, memperbaikinya ketika kurang, dan menjaganya tetap hidup melewati pergantian pemerintahan.

Kadang-kadang, seorang murid melampaui gurunya bukan karena menemukan pelajaran yang lebih hebat, tetapi karena ia lebih tekun menjalankan pelajaran yang pernah diberikan.

***

Judul: Cara Maju Vietnam
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *