MajmusSunda News, Bandung, 20/12/2025 – Bisnis yang paling sulit mendapat saingan dari negara lain sejatinya adalah bisnis berbasis budaya. Budaya tidak bisa direplikasi secara instan, karena ia lahir dari sejarah, rasa, dan pengalaman kolektif suatu bangsa. Negara seperti Jepang memahami betul hal ini. Berbagai atraksi seni budaya mereka selalu mendapat sambutan dari warga negaranya sendiri, lalu tumbuh menjadi kekuatan ekonomi, diplomasi, dan identitas nasional.
Namun di Indonesia—atau lebih spesifik lagi, di tanah Sunda—ceritanya tidak selalu semudah itu. Budaya sering kali membutuhkan effort yang jauh lebih besar agar bisa dimonetisasi dan dihargai secara layak. Ia kerap dipuji sebagai warisan, tetapi jarang diposisikan sebagai masa depan.
Di tengah realitas itulah sosok Dhany Irfan menempuh jalan sunyi inovasi. Lulusan Biologi UPI Bandung ini pernah menjadi staf di KBRI Tokyo, dan sejak lama konsisten berkreasi dengan bungkusan budaya Sunda. Pada tahun 2012, ia meraih Anugerah Inovasi Jawa Barat melalui karyanya iAngklung—sebuah aplikasi yang memungkinkan orang memainkan angklung melalui iPhone dan Android. Sebuah terobosan yang pada masanya belum banyak dibayangkan.
Kreativitas Dhany tidak berhenti pada satu medium. Ia mengembangkan berbagai aplikasi alat seni tradisi seperti kecapi, gamelan, tarawangsa, celempung, hingga talempong, sehingga seni tradisi bisa diakses dan dimainkan melalui smartphone. Lebih jauh lagi, ia mengembangkan berbagai alat seni tradisi Sunda dalam versi elektrik. Gamelan yang sebelumnya berbobot ratusan kilogram kini dapat direpresentasikan melalui sensor dan pad, sangat membantu para nayaga yang harus tampil di luar negeri tanpa membawa instrumen besar dan berat.
“Saya memang sangat menyukai seni tradisi Sunda, meskipun latar belakang pendidikan biologi di UPI Bandung. Saya aktif di Kabumi, dan berbagai komunitas seni,” ujar Dhany.
Menariknya, jalur teknologi yang ia tempuh lahir dari ruang dialog dan persahabatan.
“Tapi soal teknologi, ada orang yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri yang membuat saya jadi terinspirasi membuat seni tradisi dalam bentuk digital. iAngklung, teknologi Augmented Reality, adalah hasil diskusi kami sejak kami berkenalan di tahun 2008. Saya pun tidak menyangka, dia yang pernah kuliah di Fisika ITB pun senang dengan seni tradisi. Terima kasih saya untuk Kang Eep yang selalu support, bukan sekadar teman diskusi, tapi kami eksekusi bersama-sama,” papar Dhany.
Selain sebagai inovator teknologi budaya, Dhany Irfan juga dikenal sebagai pencipta lagu, pencipta Wayang Comot, serta pembuat angklung pertama dari kayu—sebuah terobosan organologis yang memperluas kemungkinan ekspresi angklung yang selama ini identik dengan bambu. Karya-karya ini menunjukkan bahwa ia bekerja tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada wilayah rasa, estetika, dan narasi budaya.
Baru-baru ini, Dhany kembali menunjukkan konsistensinya dengan memenangkan lomba desain ikon atau maskot pariwisata Kabupaten Bandung Barat. Sebuah penegasan bahwa berkarya di jalur budaya bukan soal cepat atau viral, melainkan soal kesetiaan pada proses panjang.
Kisah Dhany Irfan mengajarkan satu hal penting: pelestarian budaya tidak selalu berarti membekukannya dalam bentuk lama. Budaya justru hidup ketika diberi ruang untuk berdialog dengan teknologi dan zaman. Orang-orang seperti Dhany—yang mampu menjahit seni, teknologi, dan tradisi—bukan sekadar seniman atau kreator, melainkan arsitek kebudayaan Nusantara masa depan.
Karena itu, talenta seperti ini seharusnya mendapat perhatian semua pihak. Bukan hanya sebagai objek apresiasi, tetapi sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan. Sebab jika mereka dibiarkan berjalan sendiri, yang kita kehilangan bukan hanya karya, tetapi arah dan masa depan budaya itu sendiri.
*****
Judul: Budaya, Teknologi, dan Jalan Sunyi Inovasi Nusantara
Penulis: Eep S. Maqdir












