MajmusSunda News, Jawa Barat, Minggu (30/08/2026) – Kepada banyak kawan, saya sering menyampaikan bahwa gagasan harus terus dijaga konsistensinya, sekaligus diperbarui melalui interaksi dan pengetahuan baru. Membaca, berpikir kritis, menulis, berdialog, dan menyebarkan pengetahuan adalah bagian dari ritual yang harus terus dilakukan sebagai warga.
Kalau dalam agama yang saya anut, manusia diberi amanah menjadi khalifah di muka bumi. Mungkin salah satu tugasnya adalah terus belajar, menjaga pengetahuan, dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat sebelum kita sendiri akhirnya punah.
BBC76 Community on Arts and Science for Everyone adalah salah satu muara kecil dari perjalanan itu. Tradisi yang terus dipelihara oleh kedua orang tua saya sejak lama.
Di sebuah rumah yang berada di dalam gang di Bandung, berbagai buku yang pernah saya baca kemudian saya hibahkan dan kumpulkan menjadi perpustakaan komunitas. Sekarang koleksinya sudah lebih dari 4.000 judul, terutama bidang-bidang yang sejak dulu menjadi minat saya: filsafat, sains dan teknologi, ekonomi-politik, serta berbagai metode dan metodologi yang berhubungan dengan lingkungan, perubahan iklim, dan keberlanjutan.
Buku-bukunya datang dari berbagai aliran pemikiran: kiri, tengah, maupun kanan. Buat saya, membaca memang tidak seharusnya hanya mencari pembenaran terhadap apa yang sudah kita yakini, tetapi terus dipertanyakan, digali, dan jadi sumber inspirasi baru.
Sebagian besar buku itu saya kumpulkan ketika menuntut ilmu dan bekerja di Jepang pada 2002–2010. Salah satu tempat yang sering saya datangi di Tokyo adalah Good Day Books, sekitar 100 meter dari Stasiun Ebisu. Koleksinya sebagian besar berbahasa Inggris dan, sejauh yang saya ingat, dikelola pasangan Amerika–Jepang. Sang suami pernah belajar di Waseda University dan mempunyai minat terhadap penelitian serta berbagai eksperimen sosial berbasis komunitas.
Dari tempat kecil itu saya kemudian berkenalan dengan berbagai simpul pemikiran progresif di Jepang, terutama di Tokyo dan sekitarnya.
Good Day Books bukan sekadar kios yang menjual buku bekas. Dalam bahasa Jepang kita mengenal furubon (古本), buku bekas; furuhonya (古本屋), toko buku bekas; dan kosho (古書), yang lebih dekat pengertiannya dengan buku lama, langka, atau antik.
Yang lebih menarik bagi saya justru kehidupan intelektual di sekelilingnya. Ada dialog dan diskusi buku, pertemuan pembaca, peneliti, dan orang-orang dengan ketertarikan pada sains, pengetahuan, serta gagasan-gagasan progresif. Mereka mendiskusikan banyak hal, termasuk bagaimana mencari alternatif di tengah sistem kapitalisme yang memiliki kecenderungan mengubah hampir segala sesuatu menjadi komoditas.
Tentu saja kelompok-kelompok kecil seperti ini bukan arus utama ekonomi-politik Jepang, yang salah satu mesin utamanya adalah sains dan teknologi. Tetapi mungkin justru percakapan-percakapan kecil yang terus berlangsung itulah salah satu cara menjaga kemungkinan bahwa selalu ada alternatif lain dari sistem yang sedang berjalan. Menariknya, dalam kehidupan sehari-hari di Jepang, keberpihakan terhadap kepentingan publik dalam banyak hal telah melembaga dalam praktik, dengan ataupun tanpa orang harus terlebih dahulu memperdebatkan ideologinya.
Tanggal 16–17 Agustus lalu, sahabat saya Sabar Situmorang berkunjung ke BBC76 Community bersama kawan-kawannya sesama alumni Persatuan Sepak Bola ITB (PS-ITB). Kebetulan adik saya, Yusran Helmy, yang mengelola BBC76 juga aktivis PS-ITB.
Perbincangan selama dua hari itu membuka ruang untuk mendiskusikan banyak hal: literasi, nalar kritis warga, serta bagaimana pengetahuan harus terus didekatkan dengan realitas sosial dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di BBC76 Community, gagasan itu perlahan ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan: diskusi, pelatihan, penulisan, dokumentasi, hingga penerbitan buku. Salah satunya adalah Sepuluh Kehidupan: Kisah-kisah yang Mengubah Cara Saya Meliha Disabilitas dan Kemausiaan, ditulis oleh salah seorang aktivisnya, Idamom. Buku tersebut merekam pengalaman dan perubahan cara pandang penulis selama berinteraksi dengan aktivis dan relawan di DILANS Indonesia.
Sabar kemudian menuliskan pengalamannya berkunjung ke BBC76 Community melalui Instagram dan Facebook.
Tadi malam, Sabar menelepon saya. Ia mengabarkan bahwa istri Bang Luhut Panjaitan membaca postingan tentang perpustakaan BBC76 dan tertarik untuk menghibahkan banyak buku koleksinya. Saya tentu menyambutnya dengan senang hati. Buku-buku itu akan kami rawat, koleksi, dan buka agar dapat menjadi sumber literasi dan pengetahuan bagi warga.
Pada akhirnya, mungkin begitulah salah satu cara manusia bertahan dari kepunahan.
Tubuh kita mempunyai batas sebelum kadaluarsa dan punah. Buku bisa berpindah tangan. Gagasan bisa menyeberangi generasi dan terus diproduksi dan direproduksi.
Dan selama masih ada orang yang membaca, mempertanyakan, mendiskusikan, menulis, dan meneruskannya kepada orang lain, pengetahuan akan terus hidup dan keyakinan yang berpihak pada warga yang terpinggirkan akan terus menjadi pengingat dalam sistem sosial-ekonomi, di tengah sistem yang sering kali didominasi oleh gairah penyingkiran. Ditengah AI sekalipun, berpikir dan menalar tidak bisa diwakilkan.
Bandung, 30 Agustus 2027
***
Judul: Bertahan dari Kepunahan Lewat Buku
Penulis: MMS
Editor: Raka Alvaro Triputra












