Berita Imaginer #009: BAYANG-BAYANG PERANG DI LEMBAH WATU DAN TATAPAN SUNYI SANG GARUDA

Penulis: SABDAKELING

Judul: Berita Imaginer #009: BAYANG-BAYANG PERANG DI LEMBAH WATU DAN TATAPAN SUNYI SANG GARUDA Penulis: SABDAKELING

MajmusSunda News, Palestina, 7/3/2026 – @Kancil (Koresponden) – Pada suatu malam yang panjang di lembah timur pegunungan, ketika angin dingin berbisik di antara bebatuan dan pepohonan tua, hutan besar kembali mengingatkan penghuninya bahwa kedamaian adalah sesuatu yang rapuh. Lembah itu—yang oleh para hewan disebut sebagai Lembah Watu—adalah tempat di mana banyak makhluk hidup berdampingan, meski sering kali dalam kewaspadaan yang sunyi.

Fajar belum benar-benar lahir ketika bayangan-bayangan besar mulai bergerak di langit. Empat burung pemangsa besi melayang rendah, sayapnya berputar seperti angin badai. Dari perut burung-burung itu turun sekelompok serigala pemburu ke tanah berbatu di perbatasan lembah, di antara tiga wilayah perbukitan yang saling bertemu. Mereka turun dengan hati-hati, seperti pemburu yang berharap malam tetap menutup rahasia langkah mereka. Namun hutan jarang benar-benar tidur. Di balik batu-batu besar dan semak berduri, kawanan singa penjaga lembah telah lebih dulu mencium bau perubahan. Mereka bukan makhluk yang mudah lengah. Ketika para serigala itu bergerak mendekati tepian desa batu dan sebuah tanah sunyi tempat para leluhur hutan beristirahat, para singa pun bangkit dari bayangan.

Pertemuan dua kawanan itu tidak berlangsung dalam kata-kata. Hutan berbicara dengan cara yang berbeda. Kilatan cahaya menyambar seperti cakar api. Debu beterbangan. Malam yang semula sunyi berubah menjadi riuh oleh suara benturan, lompatan, dan teriakan pertempuran. Dalam sekejap, bentrokan kecil berubah menjadi pergulatan sengit antara para penjaga wilayah dan para pemburu yang baru turun dari langit. Ketika keberadaan para serigala akhirnya tersingkap sepenuhnya, langit pun ikut bergetar. Dari kejauhan, kawanan burung besi di udara memanggil badai api. Cahaya-cahaya jatuh dari langit ke bumi, satu demi satu, puluhan kali, menerangi lembah seperti kilat yang tidak henti-hentinya menyambar. Hutan yang gelap seketika berubah menjadi panggung terang bagi pertempuran yang tak terelakkan.

Sebagian penutur kisah di lembah mengatakan bahwa para serigala itu telah terjebak dalam perangkap para singa. Begitu bentrokan terjadi, burung-burung pemangsa di udara berputar-putar dengan gelisah, menyapu langit dengan cahaya, seakan mencoba menyingkirkan bayangan yang menyelimuti kawan-kawan mereka di darat. Setelah peristiwa itu, badai api dari langit kembali datang. Desa batu dan bukit-bukit di sekitarnya diterangi ledakan demi ledakan. Beberapa makhluk hutan yang tidak terlibat dalam pertarungan ikut menjadi korban dari amarah langit. Ada yang kehilangan nyawa, ada pula yang terluka, meninggalkan kesedihan yang bergema di antara pohon-pohon tua.

Di sisi lain lembah, kabar juga datang bahwa burung besi lain terlihat melintas jauh di atas perbatasan hutan yang lebih luas, bahkan hingga wilayah pegunungan yang berbatasan dengan negeri tetangga. Langit malam di wilayah timur pegunungan itu menjadi jalur bayangan yang bergerak tanpa henti. Namun hutan tidak tinggal diam. Dari tanah, hewan-hewan penjaga langit melepaskan semburan cahaya ke udara. Garis-garis terang menembus gelap, seperti tombak cahaya yang berusaha mengusir burung-burung pemangsa dari wilayah lembah. Beberapa burung besi akhirnya menjauh, terbang kembali ke arah cakrawala, meninggalkan gema suara baling-baling yang perlahan menghilang.

Meski demikian, badai belum sepenuhnya berlalu. Bukit-bukit lain di lembah—tempat pepohonan tinggi berdiri dan sungai kecil berkelok—ikut merasakan getaran dari langit. Lembah selatan bahkan diguncang oleh suara dentuman dari kejauhan, ketika badai besi menjangkau wilayah yang lebih luas. Di tengah semua kekacauan itu, ada pula kawanan penjaga perdamaian hutan—makhluk-makhluk yang ditugaskan oleh dewan besar rimba untuk menjaga keseimbangan. Namun bahkan mereka tidak sepenuhnya luput dari bahaya. Beberapa di antara mereka terluka ketika badai api menghantam wilayah tempat mereka berteduh.

Para penjaga perdamaian itu kemudian berseru kepada seluruh penghuni hutan bahwa menyerang penjaga keseimbangan adalah pelanggaran terhadap hukum rimba yang telah disepakati bersama. Hukum itu, kata mereka, adalah janji lama yang dimaksudkan agar hutan tidak sepenuhnya tenggelam dalam kekacauan. Kabar tentang peristiwa di lembah pun akhirnya menyebar jauh, bahkan hingga ke negeri-negeri di luar rimba. Para pemimpin dari hutan lain menyatakan keprihatinan mereka, menyebut serangan terhadap para penjaga keseimbangan sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima. Namun di atas semua keributan itu, di puncak batu tertinggi yang memandang seluruh lembah, seekor Burung Garuda agung bertengger dengan tenang. Kepalanya merah menyala seperti fajar yang berani, dadanya merah putih seperti lambang keseimbangan antara keberanian dan ketulusan, sementara sayapnya yang hitam terbentang luas, menaungi langit malam seperti bayangan keadilan.

Garuda itu tidak berteriak. Ia tidak ikut terbang ke dalam kekacauan.
Ia hanya memandang. Dalam tatapannya tersimpan pertanyaan tua yang selalu kembali setiap kali hutan dilanda pertikaian: apakah kekuatan akan terus berbicara lebih keras daripada kebijaksanaan, ataukah suatu hari nanti para penghuni rimba akan belajar bahwa menjaga keseimbangan jauh lebih sulit—dan jauh lebih mulia—daripada memenangkan pertempuran.

Catatan: berita imajiner merupakan rekaulang berita dari berita nyata yang terbit di harian aljazeeradotnet (7/3/26)

#perangiranamerikaisrail #tvn201 #djatirumasa

 

*****

 

Judul: Berita Imaginer #009: BAYANG-BAYANG PERANG DI LEMBAH WATU DAN TATAPAN SUNYI SANG GARUDA

Penulis: SABDAKELING

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *