Berguru pada Pohon

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Sabtu (01/08/2026)  Artikel berjudul “Berguru pada Pohon” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, pohon secara diam-diam mengajarkan kebijaksanaan hidup: semakin tinggi menjulang, semakin dalam menumbuhkan akar; semakin luas meraih cahaya, semakin kokoh memeluk bumi; semakin luhur mencapai puncak pertumbuhan, semakin luas menyebarkan daya bagi seluruh bagian.

Seluruh pertumbuhannya mengikuti hukum yang sederhana, tetapi agung.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Gravitropik mengarahkan akar menghunjam ke dalam bumi; fototropik mengarahkan tajuk—
batang, cabang, dan daun—menjulang menuju cahaya.

Dua gerak yang berlawanan arah, tetapi berpadu dalam satu irama kehidupan. Yang satu menjaga kesetiaan kepada asal; yang lain menumbuhkan keberanian menyongsong masa depan.

Dua arah pertumbuhan itu dilengkapi dengan dua jaringan yang tak pernah berhenti mengalir. Xilem mengangkat air dan mineral dari akar menuju pucuk, memberi daya bagi pohon untuk meninggi. Floem mengedarkan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian pohon, memastikan setiap bagian memperoleh daya untuk bertumbuh dan berbuah. Yang satu mengangkat kehidupan; yang lain mengalirkannya. Karena itulah pohon tidak hanya tumbuh tinggi, tetapi juga tumbuh utuh.

Barangkali, perkembangan manusia pun seyogianya mengikuti hukum pertumbuhan yang telah lama diajarkan pohon.

Kita sering mengira bahwa bertumbuh berarti meninggalkan. Semakin tinggi seseorang atau suatu bangsa menjulang, semakin jauh ia merasa harus melepaskan akar yang membentuk dirinya. Padahal pohon mengajarkan sebaliknya.

Tidak ada daun yang tumbuh tanpa akar yang juga bertumbuh.

Setiap kali tajuk meraih cahaya melalui fototropik, pada saat yang sama akar memperdalam gravitropiknya. Pertumbuhan selalu berlangsung dalam dua arah sekaligus: menuju masa depan dan kembali kepada asal.

Yang tampak hanyalah batang, daun, bunga, dan buah. Padahal kehidupan dibangun oleh akar yang bekerja dalam kesunyian.

Begitu pula kebudayaan. Akar adalah metafora bagi ingatan kolektif: bahasa, nilai, etika, keyakinan, sejarah, dan kearifan yang memberi sebuah bangsa identitas serta daya hidup. Tajuk adalah metafora bagi peradaban: ilmu pengetahuan, teknologi, seni, kreativitas, dan segala ikhtiar manusia memperluas cakrawala kehidupannya.

Akar memberi kedalaman makna; tajuk memberi keluasan kemungkinan.

Tetapi nilai dan pengetahuan belum dengan sendirinya melahirkan peradaban.

Peradaban bertumbuh ketika keduanya dihidupkan oleh daya yang mengangkat dan daya yang menghubungkan.

Dalam kehidupan manusia, xilem adalah metafora bagi daya mengangkat kualitas diri: disiplin, ketekunan, integritas, dan keahlian yang ditempa hingga mencapai keunggulan. Melalui daya itulah manusia mampu menjulang melampaui keterbatasannya.

Sementara itu, floem adalah metafora bagi kemampuan mengintegrasikan dan mengalirkan nilai, pengetahuan, pengalaman, dan hasil karya ke seluruh sendi kehidupan. Dari kemampuan menghubungkan itulah lahir keluasan wawasan, kolaborasi, saling memperkaya, dan kemaslahatan bersama. Sebab wawasan yang luas bukanlah mengetahui segala sesuatu, melainkan memahami keterhubungan di antara banyak hal.

Keahlian melahirkan keunggulan. Wawasan mengarahkan keunggulan. Keunggulan tanpa wawasan mudah berubah menjadi keangkuhan; wawasan tanpa keahlian tinggal menjadi angan-angan.

Demikian pula bangsa. Bangsa yang maju bukan hanya melahirkan pakar-pakar yang unggul, tetapi juga mampu menghubungkan kepakaran mereka menjadi kekuatan bersama. Ia membangun manusia yang berakar dalam nilai, terbuka pada cahaya ilmu, mendalam dalam kepakaran, sekaligus luas dalam wawasan. Berkeahlian spesifik, namun mampu melihat kehidupan secara generik dan utuh.

Pohon mengetahui hukum yang sering dilupakan manusia: semakin tinggi engkau ingin menyapa langit, semakin dalam engkau harus setia kepada bumi.

Dan semakin tinggi engkau bertumbuh, semakin luas pula engkau semestinya menaungi kehidupan.

Sebab cahaya saja tidak cukup.

Pengetahuan memperluas pandangan, tetapi nilai menjaga arah. Kemajuan melahirkan kemampuan, tetapi kebijaksanaan menentukan tujuan. Peradaban tanpa akar budaya menjadi rapuh; budaya tanpa keberanian menjangkau cahaya berubah menjadi kenangan yang membeku.

Namun pohon tidak pernah memilih salah satunya. Akar memberi pijakan bagi tajuk untuk menjulang; tajuk meraih cahaya yang kembali menguatkan cengraman akar. Xilem mengangkat daya kehidupan, floem mengalirkannya ke seluruh tubuh. Semuanya bekerja bukan untuk saling mengungguli, melainkan untuk saling menggenapi.

Mungkin demikian pula seharusnya manusia.

Biarkan nilai-nilai terus berakar semakin dalam, sementara akal dan imajinasi menjulang semakin tinggi. Asahlah keahlian hingga mencapai puncak kecakapan. Bentangkan pula wawasan agar setiap ilmu menemukan tempatnya dalam keseluruhan kehidupan. Sebab manusia tidak dipanggil hanya untuk menjadi ahli, melainkan juga menjadi arif.

Jangan memilih antara tradisi dan pembaruan, antara identitas dan keterbukaan, antara kedalaman dan keluasan. Kehidupan meminta kita memelihara semuanya dalam satu kesatuan yang hidup.

Pada akhirnya, pohon telah lama menuliskan filsafat manusia dalam senyapnya.

Ia mengajarkan bahwa pertumbuhan sejati adalah perjalanan memperdalam akar jatidiri, meninggikan tajuk peradaban, menguatkan kepakaran, mengalirkan kebijaksanaan, dan memetik pencapaian yang berbuah kemaslahatan.

Sebab kehidupan yang agung bukanlah kehidupan yang hanya menjulang tinggi, melainkan kehidupan yang juga merimbun, berbuah, dan menaungi.

***

Judul: Lentera Sadar
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *