Berguru pada Pohon

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Minggu (27/09/2026) – Artikel berjudul “Berguru pada Pohon” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Kemarin, sebagai penyantun Universitas Darunnajah, saya memberi bekal pada para wisudawan.

Saya ingatkan, manusia harus belajar berguru pada pohon. Pohon itu semakin tinggi menjulang, semakin dalam menumbuhkan akar; semakin luas meraih cahaya, semakin kokoh memeluk bumi; semakin luhur bertumbuh, semakin luas pula daya yang disebarkan bagi kehidupan.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Pertumbuhannya mengikuti dua arah. Gravitropik mengarahkan akar menghunjam ke bumi, sementara fototropik mengarahkan batang, cabang, dan daun menuju cahaya. Yang satu menjaga kesetiaan kepada asal, yang lain menyongsong masa depan. Keduanya tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi.

Pertumbuhan itu ditopang xilem dan floem. Xilem mengangkat air dan mineral dari akar ke pucuk; floem mengalirkan hasil fotosintesis ke seluruh bagian pohon. Yang satu mengangkat kehidupan, yang lain mengalirkannya. Karena itu pohon tidak hanya tumbuh tinggi, tetapi juga tumbuh utuh.

Begitu pula manusia. Kita sering mengira bahwa bertumbuh berarti meninggalkan akar. Padahal tidak ada daun yang tumbuh tanpa akar yang juga bertumbuh. Pertumbuhan sejati selalu bergerak menuju masa depan sekaligus kembali kepada asal.

Akar adalah metafora kebudayaan: bahasa, nilai, etika, sejarah, dan kearifan yang memberi identitas serta kedalaman. Tajuk adalah metafora peradaban: ilmu, teknologi, seni, kreativitas, dan keberanian memperluas cakrawala.

Akar memberi kedalaman; tajuk memberi keluasan.

Xilem dapat dimaknai sebagai keahlian, disiplin, integritas, dan ketekunan yang mengangkat kualitas diri. Floem adalah kemampuan menghubungkan pengetahuan, pengalaman, dan karya sehingga melahirkan wawasan, kolaborasi, dan kemaslahatan.

Keahlian melahirkan keunggulan; wawasan memberi arah.

Demikian pula sebuah bangsa: kemajuan lahir ketika manusia yang berakar dalam nilai, menjulang melalui ilmu, mendalam dalam keahlian, dan luas dalam wawasan mampu menghubungkan keunggulannya menjadi kekuatan bersama.

***

Judul: Berguru pada Pohon
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *