Belajar Ketahanan Pangan kepada Nabi Yusuf Alaihissalam

Artikel ini ditulis oleh: Kang Eep S. Maqdir, Tukang Dongeng Pertanian, Divisi Pelatihan & Penyuluhan DPD HKTI Jawa Barat

Ilustrasi: Memanggul beras yang baru dipanen - (Sumber: Kang Eep)
Ilustrasi: Memanggul beras yang baru dipanen - (Sumber: Kang Eep)

MajmusSunda News, Selasa (31/12/2024) – Artikel berjudul “Belajar Ketahanan Pangan kepada Nabi Yusuf Alaihissalam ini ditulis oleh: Kang Eep S. Maqdir, Tukang Dongeng Pertanian, Divisi Pelatihan & Penyuluhan DPD HKTI Jawa Barat

Dahulu sewaktu saya kecil, ayah saya memanen padinya dengan cara menggunakan étém (ani-ani). Saya paling suka melihat saat ayah saya “mangkek” (mengikat) tangkai-tangkai padi dengan tali bambu. Sayangnya kami saat itu tidak punya leuit (lumbung) padi, jadi ayah saya menyimpannya di goah (gudang pangan) di rumah.

Ilustrasi: Seorang petani memanggul padi yang baru dipanen - (Sumber: Kang Eep)
Ilustrasi: Seorang petani memanggul padi yang baru dipanen – (Sumber: Kang Eep)

Leluhur bangsa kita menggunakan cara ini dan di beberapa kampung ada masih bertahan. Ternyata dengan cara inilah leluhur kita bisa memiliki ketahanan pangan. Di kampung adat Ciptagelar, saya sempat disuguhi makan dengan beras dari gabah yang sudah berusia lima tahun.

Kang Eep
Kang Eep, penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Sekarang tidak demikian, padi dirontokkan langsung jadi gabah, dijemur, dan kemudian digiling jadi beras. Prosesnya tidak terlalu lama dari sejak dipanen. Beras kemudian disimpan di gudang. Tak lama kemudian, kutu dan jamur mulai hadir.

Setelah enam bulan, beras yang digudang pun dibersihkan kembali, disemprot pengusir kutu, dan diputihkan kembali. Sangat jauh kualitasnya dibandingkan beras yang baru digiling.

“Yusuf berkata: Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (Q.S. Yusuf: 47).

Yusuf berkata, “Takwil mimpi itu adalah bahwa kalian akan bertani gandum selama tujuh tahun berturut-turut dan sungguh-sungguh. Kemudian, ketika kalian menuai hasilnya, simpanlah buah itu bersama tangkainya. Ambillah sedikit saja sekadar cukup untuk kalian makan pada tahun-tahun itu dengan tetap menjaga asas hemat.”

Ayat Al-Quran ini sejalan dengan apa yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern bahwa membiarkan biji atau buah dengan tangkainya saat disimpan akan mempu mengawetkan dan mencegah kebusukan akibat faktor udara. Lebih dari itu, buah itu akan tetap mengandung zat-zat makanannya secara utuh.

***

Judul: Belajar Ketahanan Pangan kepada Nabi Yusuf Alaihissalam
Penulis: Kang Eep S. Maqdir
Editor: Jumari Haryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *