MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (27/09/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “”Beas Parelek”” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Beas Perelek adalah tradisi kearifan lokal masyarakat Sunda di Jawa Barat yang berupa gerakan saling membantu dengan cara menyumbang seikhlasnya satu sendok atau segelas beras setiap minggu. Secara harfiah dalam bahasa Sunda, beas berarti “beras”, sedangkan perelek meniru bunyi butiran beras yang jatuh (“trek-tek-tek”) saat dimasukkan ke dalam wadah bambu atau botol bekas.

Cara Kerja tradisi beas perelek adakah ada wadah di depan rumah. Setiap kepala keluarga menyediakan wadah kecil (biasanya potongan bambu atau botol plastik) yang digantung di tiang atau dinding depan rumah mereka. Kemudian, pengumpulan rutin Setiap minggu, pemilik rumah akan mengisi wadah tersebut dengan beras seikhlasnya (biasanya sekitar satu genggam atau satu gelas kecil). Ada petugas Ronda/RT. Petugas atau pemuda setempat yang sedang ronda malam akan berkeliling mengumpulkan beras-beras tersebut ke dalam karung besar.
Tradisi luhur ini memiliki nilai gotong royong dan solidaritas yang sangat tinggi. Beras yang terkumpul akan disimpan di balai desa atau lumbung RT. Beras ini kemudian disalurkan secara gratis kepada warga miskin, janda tua, atau tetangga yang sedang kesulitan pangan dan tidak bisa bekerja. Di tengah ancaman krisis pangan atau paceklik (seperti dampak kekeringan El Nino), beas perelek menjadi solusi mandiri warga agar tidak ada tetangga mereka yang kelaparan. Sistem ini tidak membebani, karena jumlah beras yang disumbangkan sangat sedikit dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing rumah tangga.
Saat ini, beberapa pemerintah daerah di Jawa Barat, seperti di Purwakarta dan Subang, telah merevitalisasi tradisi ini menjadi program resmi untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat.
Tradisi beas perelek bukan sekadar kegiatan mengumpulkan bahan pangan, melainkan wujud nyata dari falsafah hidup masyarakat Sunda. Di dalam butiran-butiran beras yang dikumpulkan tersebut, terkandung nilai-nilai filosofis yang mendalam:
1. Falsafah Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh. Tradisi ini merupakan manifestasi paling konkret dari tiga pilar utama kebudayaan Sunda. Silih asih (Saling Menyayangi). Menyumbang beras adalah bentuk kepedulian dan rasa cinta kepada sesama warga agar tidak ada tetangga yang kelaparan. Silih asah (Saling Mencerdaskan/Mengingatkan). Kegiatan ini mendidik masyarakat untuk memiliki kepekaan sosial dan tidak menjadi pribadi yang egois. Silih asuh (Saling Menjaga). Warga secara kolektif menjaga keamanan dan kesejahteraan bersama. Yang kuat menopang yang lemah, sehingga tercipta harmoni sosial.
2. Gotong Royong Tanpa Kasta (Sauyunan). Beas perelek meruntuhkan sekat sosial ekonomi. Baik warga kaya maupun warga dengan ekonomi pas-pasaran memiliki wadah bambu yang sama di depan rumah mereka. Semua orang berkontribusi sesuai kemampuan mereka untuk satu tujuan bersama (sauyunan atau seia sekata). Nilai ini mengajarkan bahwa masalah besar di lingkungan dapat diselesaikan jika dihadapi bersama secara bergotong royong.
3. Kekuatan dari Hal Kecil (Saeutik Oge Mahi). Ungkapan Sunda “saeutik oge mahi” berarti “sedikit pun cukup”. Filosofi beas perelek mengajarkan kekuatan dari sebuah konsistensi dan akumulasi. Satu genggam beras dari satu rumah terkesan tidak berarti. Namun, ketika dikumpulkan dari puluhan rumah, jumlahnya berubah menjadi berkarung-karung beras yang mampu menyelamatkan banyak nyawa. Nilai filosofisnya: jangan pernah meremehkan kebaikan kecil, karena jika dilakukan bersama-sama, dampaknya akan sangat besar.
4. Menjaga Kehormatan dan Cegah Konflik (Ngajaga Lembur). Pembagian beas perelek umumnya dilakukan secara tertutup atau melalui lumbung desa tanpa publikasi yang berlebihan. Hal ini memuat nilai filosofis untuk menjaga martabat dan harga diri warga yang menerima bantuan, agar mereka tidak merasa malu atau dihakimi.
Selain itu, dengan terpenuhinya kebutuhan dasar pangan warga miskin, potensi kriminalitas akibat kelaparan di dalam kampung (lembur) dapat diredam sejak dini. Secara universal, beas perelek adalah simbol bahwa ketahanan terbaik suatu bangsa dimulai dari kedekatan hubungan antar tetangga di tingkat yang paling mendasar.
Saat ini, kondisi tradisi beas perelek di Indonesia mengalami dinamika yang menarik antara digitalisasi, revitalisasi di masa krisis, dan adaptasi modern. Tradisi ini tidak sepenuhnya hilang, justru menjadi salah satu jaring pengaman sosial yang sangat diandalkan masyarakat lokal.
Kondisi riil perkembangan gerakan beas perelek di lapangan mencakup beberapa fenomena berikut:
1. Menjadi Penyelamat Saat Krisis Pangan & El Nino. Di tengah lonjakan harga beras akibat kemarau ekstrem Super El Nino, desa-desa yang masih merawat kearifan lokal ini (seperti di Subang, Ciamis, dan Lembang) merasakan dampak yang luar biasa. Beras perelek yang terkumpul dari warga yang mampu langsung dialokasikan untuk membantu tetangga yang kesulitan membeli beras. Di beberapa tempat, beras tersebut dijual sangat murah di bawah harga pasar kepada warga miskin, dan uangnya diputar kembali untuk kas sosial RT.
2. Transformasi ke “Kencleng Sarebu” (Modernisasi Iuran). Mengikuti perkembangan zaman, banyak daerah urban atau semi-perkotaan yang mengadaptasi beras perelek ke dalam bentuk uang tunai. Contohnya seperti gerakan di beberapa kampung di Jawa Barat yang mengubahnya menjadi iuran Rp1.000 per hari. Dana yang terkumpul dari botol atau kaleng di depan rumah ini disimpan di bank desa/RT untuk dialokasikan bagi warga yang sakit, uang duka, hingga perbaikan fasilitas umum.
3. Lahirnya Inovasi Digital (E-Perelek). Pemerintah daerah, seperti di Kabupaten Purwakarta, telah melangkah lebih jauh dengan meluncurkan konsep E-Perelek. Program ini mengintegrasikan pengumpulan bantuan pangan dengan sistem data digital untuk memastikan transparansi stok, distribusi yang tepat sasaran kepada warga miskin (by name by address), serta mencegah korupsi atau penyalahgunaan di tingkat pengurus.
4. Tantangan Keberlanjutan (“Rekat Perelek”). Meskipun berjalan baik, tradisi ini menghadapi tantangan di era modern akibat sifat masyarakat yang makin individualistis. Studi dari Lembaga Pendidikan Tinggi seperti Poltekesos Bandung (Agustus 2026), menemukan bahwa beberapa desa mulai mengalami kejenuhan akibat ketergantungan pada figur pengurus RT/RW yang aktif. Untuk mengatasi ini, digalakkan gerakan “Rekat Perelek” (Revitalisasi Kearifan Tradisi Beas Perelek), yaitu pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) warga agar tradisi ini tidak mati ketika terjadi pergantian kepengurusan desa.
5. Replikasi ke Sektor Lain (Perelek Sampah). Kreativitas masyarakat membawa filosofi perelek ke isu lingkungan. Di Kota Bandung, muncul gerakan “Perelek Sampah” yang diinisiasi oleh komunitas lingkungan. Petugas keliling bukan mengumpulkan beras, melainkan menjemput limbah rumah tangga organik dan anorganik yang sudah dipilah warga secara sukarela untuk diolah bersama.
Secara keseluruhan, beas perelek saat ini telah bertransformasi dari sekadar “kegiatan desa kuno” menjadi simbol ketahanan pangan mandiri yang adaptif di tingkat akar rumput.
***
Judul: “Beas Parelek”
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












