MajmusSunda News, Rubrik OPINI, Selasa (19/08/2025) – Esai berjudul “Bahtera Limbung” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, kita hidup di bahtera negara yang limbung. Nahkoda dan awak kapal mabuk sambil mengigau, sementara para penumpang terjaga, tetapi tak tahu harus menegakkan layar atau mengatur kemudi.
Di geladak atas, para elit menatap langit dengan teleskop statistik, menghitung bintang-bintang angka yang berkilau, meramu proyeksi dan indeks seolah bisa menuntun bahtera melewati badai menjadi tenang.

Mereka berpidato tentang pertumbuhan, efisiensi, kemajuan—kata-kata seperti musik orkestra di ruang kapten, padahal hanya gema kosong di dek kayu yang retak, dan asap harapan membumbung tanpa arah di atas kapal.
Di lorong sempit geladak, rakyat menatap dek yang lapuk, tong-tong air yang kosong, kabinnya rembes, dan mesin yang mencemari laut dengan asap beracun. Mereka tahu bintang-bintang angka itu hanyalah ilusi, tetapi tak tahu cara mengemudikan kapal yang terombang-ambing di arus badai.
Mereka menunggu, berjalan di antara reruntuhan jangkar janji, dengan suara hati yang berbisik: Apakah bahtera ini masih bisa menemukan arah?
Dari pelayaran limbung yang tak tahu jalan keluar ini, mungkin menanti siklus badai yang memaksa amuk gelombang terjadi, atau ada tangan-tangan tersembunyi yang menolak melihat bahtera karam, menariknya kembali ke arus yang lempang. Atau, mungkin, nahkoda kapal segera tersadar—menarik bahtera keluar dari kegelapan laut, sambil menyalakan mercusuar di geladak yang bergoyang di tengah ombak.
Ya Tuhan, selamatkan kami. Lautan negeri ini luas, ombaknya ganas menerjang. Bahtera kami oleng, nahkoda dan awak kapal limbung alpa menuntun prosedur penyelamatan. Para penumpangnya tak tahu harus berbuat apa.
Atas berkat rahmat-Mu, bangsa ini berulang kali lolos dari kemelut sejarah. Kali ini pun, setelah munajat dan ikhtiar ditempuh, kami tawakal meyakini-Mu juru selamat. Kepada-Mu kami berserah diri, dan kepada-Mu kami memohon pertolongan. Amien.
***
Judul: Bahtera Limbung
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.
***












