MajmusSunda News, Sabtu (09/05/2026) – Artikel berjudul “Bahagia itu Luka” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, hidup ini mudah-mudah susah. Tatkala merangkak di bawah, gelombang pasang menghadang. Tatkala membubung di atas, angin kencang menerjang. Tatkala berjalan lempang, tertubruk penerabas penelikung. Tatkala berjalan menikung, tersandung terpelanting.

Tatkala sibuk kerjaan, lelah merebahkan. Tatkala menganggur, cemas melemaskan. Tatkala jelata, tak ditengok orang. Tatkala terkenal, tertekan harapan orang.
Tatkala memburu segala-gala, diri kehilangan makna. Tatkala belajar menerima, hidup menemukan lega. Tatkala menggenggam terlalu erat, banyak yang tercerabut. Tatkala merelakan dengan ikhlas, banyak yang terengkuh.
Betapapun, tanpa kesulitan apa artinya kesenangan. Tanpa ujian apa hebatnya pencapaian. Tanpa duka-sengsara, apa maknanya suka-bahagia.
Tanpa kehilangan, manusia tak belajar menghargai. Tanpa keterbatasan, manusia tak terdorong melampaui diri. Tanpa kegagalan, manusia kerap lupa cara bertumbuh dan memahami.
Siapa hendak memetik mawar, harus siap tertusuk duri. Hidup yang tak diperjuangkan tak dapat ditinggikan.
Siapa hendak menyeberangi samudra, harus berani menghadapi gelombang. Siapa hendak mencapai puncak, harus tahan mendaki keterjalan.
Apa yang menyayat hatimu akan menggembirakanmu. Kepedihan adalah obat pahit penawar sakitmu.
Apa yang menjatuhkanmu akan mendewasakanmu. Luka adalah guru sunyi yang mengajarkan ketabahan tanpa banyak bicara.
Apa yang meletihkanmu akan menguatkanmu. Keringat adalah lava pendidih potensimu.
Apa yang menundamu akan mematangkanmu. Waktu sering kali lebih tahu kapan buah kehidupan layak dipetik.
Apa yang mengujimu akan membahagiakanmu. Cobaan adalah pelambung makna hidupmu.
Apa yang kau geluti akan menjadikanmu. Nasib adalah ketetapan yang terpahat lewat ikhtiar.
Maka jangan lekas mengutuk jalan terjalmu. Bisa jadi di sanalah kekuatanmu ditempa. Jangan tergesa menyalahkan malam gelapmu. Bisa jadi di sanalah matamu belajar mengenali cahaya.
Sebab kebahagiaan bukan hidup tanpa ujian, melainkan kemampuan menemukan makna di tengah ujian. Dan manusia yang sanggup berdamai dengan perjuangan hidupnya, akan menemukan kemuliaan bahkan dalam keterbatasannya.
***
Judul: Bahagia itu Luka
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












