MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Sabtu (10/10/2026) – Ada lagu yang kembali kita dengar bukan karena baru diciptakan, melainkan karena suatu peristiwa membuat kita menemukan kembali maknanya. Begitulah Tanah Airku, karya Ibu Sud, yang kembali menyentuh perasaan ketika dilantunkan Anggun C. Sasmi di tengah kebanggaan atas kemenangan tim Indonesia. Lagu itu seperti membuka ruang dalam ingatan kolektif kita, tempat kecintaan kepada Indonesia tersimpan, menunggu untuk disapa kembali.
Saya teringat Asep Tarjana. Dalam tulisan ini, Asep bukan hanya seorang sahabat yang namanya saya letakkan dalam judul. Ia sekaligus menjadi simbol dan representasi anak-anak muda serta dosen-dosen muda yang sedang menapaki jalan pengabdian, dengan segala gagasan, kegelisahan, dan harapan mereka terhadap masa depan bangsa. Melalui sosok Asep, kita dapat bercermin tentang pertanyaan yang sesungguhnya sederhana, tetapi mendasar. Apa makna tanah air bagi generasi yang memiliki kesempatan untuk melangkah semakin jauh, menjelajahi dunia, dan meraih berbagai pencapaian?
Tanah air tentu bukan sekadar tempat kita dilahirkan, tempat bahasa ibu pertama kali terdengar, atau hamparan geografis yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Ia adalah ruang tempat kehidupan kita berakar, identitas kita bertumbuh, dan tanggung jawab kita menemukan arah. Kita boleh menuntut ilmu di negeri orang, membangun karier di kota yang jauh, bahkan memperoleh pengakuan di panggung internasional. Semua itu patut disyukuri. Namun, pengetahuan dan pengalaman yang kita peroleh akan menemukan makna kebangsaan yang lebih dalam ketika turut memperkaya kehidupan di negeri sendiri. Jarak boleh memisahkan tempat tinggal, tetapi semestinya tidak memutus hubungan antara keberhasilan pribadi dan masa depan tanah air.
Bagi anak-anak muda dan dosen-dosen muda, pesan ini terasa semakin relevan. Dunia terbuka lebar. Jurnal internasional, kolaborasi lintas negara, reputasi akademik, dan berbagai peluang profesional menawarkan cakrawala yang luas. Kita patut mendorong mereka untuk mencapai prestasi setinggi mungkin. Akan tetapi, di tengah perlombaan mengejar pengakuan, ada pertanyaan yang layak dirawat. Pengetahuan yang kita bangun akan menerangi kehidupan siapa? Keahlian yang kita kembangkan akan memperkuat masyarakat yang mana? Dan ketika nama kita semakin dikenal, apakah Indonesia turut memperoleh manfaat darinya? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membatasi langkah, melainkan untuk memberikan arah kepada setiap langkah.
Melalui Asep Tarjana, kita membayangkan generasi yang tidak harus memilih antara menjadi warga dunia dan mencintai tanah airnya. Keduanya dapat berjalan beriringan. Menjadi warga dunia berarti bersedia belajar dari kemajuan bangsa lain, terbuka terhadap gagasan baru, dan berani menguji kemampuan diri dalam pergaulan internasional. Mencintai Indonesia berarti membawa keluasan pengetahuan itu kembali ke dalam ikhtiar memperbaiki pendidikan, mengembangkan ilmu pengetahuan, memperkuat ekonomi, dan membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik. Cinta tanah air tidak menuntut kita menutup diri dari dunia. Justru dengan mengenal dunia lebih luas, kita memiliki lebih banyak bekal untuk memberikan sesuatu kepada negeri sendiri.
Nasionalisme juga memiliki wajah yang lebih tenang daripada pekik kemenangan di stadion atau mata yang berkaca-kaca ketika Merah Putih berkibar. Ia hadir ketika dosen bersungguh-sungguh mendidik mahasiswanya, peneliti tekun mencari jawaban atas persoalan bangsa, birokrat menjaga amanah, pengusaha mengembangkan usaha yang memberi manfaat, dan anak muda menggunakan kecakapannya untuk memperbaiki keadaan. Tidak semua pengabdian memperoleh tepuk tangan. Sebagian berlangsung jauh dari sorotan, tetapi pengaruhnya dirasakan oleh banyak orang. Di situlah kecintaan kepada tanah air beralih dari perasaan menjadi tindakan, dari kebanggaan menjadi tanggung jawab.
Maka, ketika Tanah Airku kembali bergema, kiranya kita tidak berhenti pada rasa haru. Biarlah Asep Tarjana menjadi gambaran tentang begitu banyak anak muda dan dosen muda yang sedang mempersiapkan masa depan, dengan segala kemungkinan yang terbuka di hadapan mereka. Sejauh mana pun kita melangkah, setinggi apa pun pencapaian yang diraih, Indonesia tetaplah tanah air yang tidak terlupakan. Bukan semata-mata karena di sinilah kita berasal, melainkan karena di sinilah masa depan banyak orang ikut menanti sumbangsih kita. Dan barangkali, kesetiaan yang paling bermakna kepada tanah air ialah ketika kita membuat negeri ini menjadi tempat yang semakin layak bagi generasi sesudah kita.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Asep dan Tanah Airku: Lagu, Persahabatan, dan Kesetiaan Kepada Negeri
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












