Ariesa Pandanwangi: Kisah Bujangga Manik Jadi Batik

Ariesa Pandanwangi
Prof. Dr. Dra. Ariesa Pandanwangi, M.Sn. dengan latar belakang Batik Bujangga Manik. (Foto: Asep GP)

MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (20/06/2026) – Ariesa Pandanwangi menunjukkan kreativitasnya sebagai Guru Besar bidang Ilmu Seni, Desain & Media Universitas Kristen Maranatha dengan memindahkan isi naskah Sunda Kuna Bujangga Manik ke dalam karya seni batik kontemporer. Karya tersebut kemudian dikembangkan bersama mitra industri agar memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat (UMKM).

“Budaya lokal bukan penghalang kemajuan, tapi sumber kreativitas yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” demikian pandangan Ariesa.

Ariesa selama ini memang sering meneliti manuskrip Jawa yang ada di keraton-keraton Jawa Tengah, di Keraton Hadiningrat Yogyakarta, Mangkunegaran (Surakarta, Solo), dan Pakualaman (Yogyakarta) dari tahun 2021–2022, yang dibiayai dana hibah.

Yang jadi bahan penelitiannya kebanyakan manuskrip Suluk, Jayengrana, Pawukon (penanggalan Jawa), termasuk Jayalengkara Wulang, dan sebagainya.

Usai itu, ketika mau mengajukan penelitian lagi, ia browsing di database Scopus naskah Sunda Kuna, dan ternyata jarang sekali yang meneliti. Termasuk Bujangga Manik belum ada jurnalnya di database Scopus. Ya, dari situlah Ariesa punya niat untuk mengeksplorasi naskah Sunda Kuna. Jadi penelitiannya dari tanah Jawa, pindah ke tanah Sunda.

Seperti kita tahu, Bujangga Manik (Jaya Pakuan, Rakeyan Ameng Layaran) ini adalah pelaku sejarah, tokoh epik, menak Pajajaran, yang juga seorang resi yang memilih hidup sederhana, bertapa dan berkelana, meninggalkan kemewahan Istana Pakuan Pajajaran, nyukcruk galur mapay raratan hampir ke seantero Pulau Jawa (dua kali perjalanan), dan Bali.

Ariesa Pandanwangi
Diapresiasi Anggota DPR RI Komisi I, Nurul Arifin, saat pameran Nawasena di Galeri SOS, Babakan Siliwangi, Bandung, pada Januari–Juli 2026. (Foto: Istimewa)

Catatan perjalanannya yang ditulis dalam naskah kuna daun lontar dan menggunakan bahasa Sunda Kuna menjadi data topografi paling akurat. Memuat 450 tempat termasuk deskripsi wilayah Majapahit dan dataran Demak. Hingga akhirnya pulang lagi ke Tatar Sunda dan bertapa di wilayah Gunung Patuha hingga ajalnya tiba.

Namun sayang, naskah Sunda Kuna yang tinggi nilainya ini, naskah aslinya kini berada di Bodleian Library, Oxford, Inggris.

Bagi Ariesa Pandanwangi, Bujangga Manik merupakan naskah Sunda Kuna (abad ke-15) yang langka dan hebat. Bujangga Manik, kata Ariesa, kalau zaman sekarang bisa disamakan dengan vlogger, orang yang berkelana mencari pengalaman, lalu catatan perjalanannya dipublikasikan di media sosial. Tapi Bujangga Manik lebih hebat lagi, perjalanannya ke 450 tempat (nama gunung, sungai, desa, dan sebagainya) di Tatar Sunda, Jawa, dan Bali ditulisnya secara rinci dan akurat ke dalam 29 lembar daun lontar, berupa 1.757 baris puisi dangding (puisi naratif berbentuk dangding).

Data tempat yang ada dalam Naskah Bujangga Manik memang sangat akurat, dan itu telah dibuktikan oleh Ariesa dan timnya ketika mengadakan penelitian dengan mendatangi tempat-tempat yang ada dalam naskah tersebut.

“Demikian akuratnya, saya sampai terkesima. Rasanya seperti napak tilas saja,” ungkapnya.

Ariesa memang saat itu membagi timnya yang lintas disiplin ilmu untuk mendatangi lima kota yang pernah didatangi Bujangga Manik, mulai dari Bogor (daerah Batutulis), Klaten, Demak, Bandung, dan Bali.

Yang menarik, kata dia, ketika bersama timnya (Tessa Eka Damayanti, dosen Universitas Sains Malaysia, dan Dr. Ratnadewi, S.T., M.T., dosen Program Studi Teknik Elektro Universitas Kristen Maranatha) mengadakan penelitian di Kota Bogor, lokasi Kerajaan Pajajaran, tempat kelahiran Bujangga Manik di daerah Batutulis, pemerintah daerah dan dinas kebudayaannya sangat apresiatif. Mereka menyambut dengan baik, sampai ikut membantu mencarikan data. Malah lurahnya langsung memerintahkan sekdesnya untuk mengantar ke lokasi Batutulis.

Setibanya di tempat yang dituju, Ariesa dan timnya terperangah ketika melihat banyak prasasti yang dikoleksi warga di sana. Selain itu, ada juga prasasti yang lokasinya di pinggir jalan, hanya dibatasi pintu gapura dan dijaga kuncen. Juru kunci tersebut bercerita bahwa tokoh Bujangga Manik memang pernah hidup, menjadi resi dan bangsawan Pajajaran.

Ariesa Pandanwangi
Ariesa Pandanwangi bersama rekan-rekan peneliti dan seniwati. (Foto: Asep GP)

Ariesa Pandanwangi memang suka sekali dengan sajarah. Hal ini sangat mendukung dengan latar belakang pekerjaannya sebagai dosen sajarah. Pertama mengajar Sejarah Seni Rupa Indonesia, Asia, dan Sejarah Seni Barat (modern) di Universitas Kristen Maranatha.

“Buat saya, meneliti isi naskah-naskah Sunda Kuno seperti menelusuri sebuah ruang yang belum pernah dikunjungi orang. Isinya juga ternyata sangat luhung, kaya akan ilmu pengetahuan yang relevan dengan zaman sekarang. Jadi menurut saya, selain bisa diteliti dengan kajian sastra dan filologi, juga bisa diteliti dari sisi seni.”

Memang yang meneliti Bujangga Manik dalam bidang kajian seni baru Ariesa Pandanwangi.

“Sebab di database Scopus, saya tidak menemukan yang meneliti Bujangga Manik dari sisi seninya. Apalagi karya seni penciptaan Bujangga Manik yang dibuat menjadi batik, belum ada yang menggarap,” kata Ariesa.

Jadi, kata Ariesa, bagi yang mau meneliti naskah Bujangga Manik yang berjumlah 1.757 baris, masih banyak lahan dan bahan garapan. Sebab, ratusan tempat lainnya yang pernah dikunjunginya belum diungkap dalam kajian seni. Ariesa saja bersama timnya baru memindahkan lima tempat ke dalam karya batiknya.

Dan alhamdulillah, katanya, ketika Batik Bujangga Manik dipresentasikan di kampusnya menjadi juara satu dan lolos hibah inovasi, bersama teman dosen lainnya yang meneliti “Batik Bersuara”.

Tapi sesungguhnya, “Saya mengadakan penelitian itu tidak pamrih dan mengharap diberi penghargaan. Namun ketika lolos hibah dan diapresiasi kampus, itu suatu kebanggaan dan kebahagiaan buat saya. Dan yang terpenting lagi bisa menggali dan mengembangkan hal yang belum diteliti orang lain, sambil ada manfaatnya membantu UMKM masyarakat dalam mengembangkan motif-motif batik yang sudah ada,” kata Ariesa.

Memang, kata Ariesa, sebagian besar produk batiknya setelah didaftarkan HAKI, kemudian diproduksi dan dijual oleh UMKM.

Ariesa juga sering melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan cara memberi pelatihan mengembangkan gagasan yang ada di naskah kuna menjadi motif batik. PKM ini dilakukan hingga ke mancanegara, seperti Yunani, Inggris, dan sebagainya, atas undangan Kedutaan Besar RI di negara tersebut untuk mengadakan pelatihan batik kreatif yang menggunakan material tamarin yang ramah lingkungan, yang dirintis dan dikembangkan Niken Apriani.

Usai menggarap Bujangga Manik, terus ke Jayengrana, sempalan cerita dari Serat Menak Cina, gubahan Raden Ngabehi Yasadipura, pujangga ternama dari Keraton Kasunanan Surakarta yang hidup pada abad ke-18 (1729–1803). Sebuah cerita petualangan cinta antara Jayengrana dengan Dewi Adaninggar, seorang putri dari negeri tirai bambu.

Dan sekarang, Ariesa menggarap naskah kuna Ajisaka, Jakatarub, dan Timun Mas. Bahkan naskah Timun Mas ini dikomparasikan karena ceritanya persis sama dengan folklor Jepang, yang nantinya akan dijadikan model pembelajaran siswa kelas X. Programnya berlangsung tahun ini (2026) dan mendapat dana hibah dari BRIN, sama ketika meneliti Jayengrana.

Hampir semua hasil penelitiannya diajarkan kepada mahasiswanya di kelas, dengan contoh-contoh yang riil, nyata di lapangan, ditambah praktik publikasi ilmiah.

Cara mengajar Ariesa detail dan rinci, biar dicicil tetapi meresap dan dimengerti hingga mahasiswa bisa hafal cara menerapkannya.

Ariesa juga pernah mengajarkan folklor (cerita rakyat) kepada mahasiswanya dalam mata kuliah Bahasa Rupa. Luarannya, cerita rakyat tersebut harus dibuat visualnya.

Itu biasanya ditugaskan per kelompok. Kelompok 1 umpamanya folklor dari Jawa, kelompok 2 dari Sunda, dan sebagainya. Itu harus dibuat dalam bahasa rupa, lalu dibuat lagi dalam bentuk video dan animasi. Jadi tiap kelompok folklornya tidak boleh ada yang sama dan hasilnya harus diunggah ke YouTube.

“Jadi jangan khawatir folklor musnah. Banyak jalan untuk menggali dan melestarikan cerita folklor, baik dengan teknik digital atau apa pun,” kata Ariesa memberi petunjuk.

Malah di kampusnya, di Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), folklor atau cerita rakyat oleh mahasiswa kaum Gen-Z dibuat menjadi game untuk memenuhi tugas dari dosen, dibuat animasi.

Demikian juga di beberapa kampus seni lainnya di Indonesia. “Saya yakin kalau kampus seni semuanya konsisten melestarikan budaya nasional. Tapi yang jadi persoalannya, apakah yang memegang kebijakan di atas mendukung atau tidak? Padahal banyak sekali budaya kita yang bisa didaftarkan menjadi Kekayaan Tak Benda,” kata Ariesa serius.

Untuk melestarikan dan menggali isi naskah kuna yang mengandung ajaran luhung leluhur itu, salah satu jalannya, kata Ariesa, harus sedini mungkin dikenalkan pada siswa SD. Memang di sini perlu kreativitas guru. Misalnya, tiap murid ditugaskan membaca cerita folklor, lalu minggu depannya disuruh menceritakannya (menuangkan) lagi di buku gambar.

Malah sebaiknya, tradisi mepende budak memeh sare ku dongeng (dongeng pengantar tidur anak) harus digiatkan lagi, sebab dongeng-dongeng jadul itu mengandung ajaran moral hidup yang luhur.

Ariesa bukan hanya bisa usul, tetapi ia bersama timnya sedang meneliti cerita Ajisaka, Jakatarub, dan Timun Mas tahun 2026–2028. Pada tahun kedua (2027), akan mengimplementasikan hasil penelitiannya dalam model pembelajaran untuk siswa kelas X di lima sekolah swasta dan lima sakola negeri yang ada di Jawa Barat.

“Saya bersama tim sengaja menyasar pendidikan menengah, sebab isi cerita folklor memuat nilai-nilai kajujuran dan sifat ulet, tidak gampang menyerah, bagus sekali untuk pembentukan karakter anak,” jelas Ariesa.

Ariesa berharap akan lebih banyak lagi anak muda anu yang meneliti naskah-naskah kuna. Apalagi ahli filologi Naskah Sunda Kuna seperti Dr. Undang Ahmad Darsa (Filolog FIB Unpad) sudah langka sekali. Sebab, membaca isi naskah kuna itu perlu keahlian khusus.

Sudah begitu, pemerintah malah mengeluarkan kebijakan yang janggal. Prodi-prodi atau jurusan yang tidak laku ditutup dengan alasan tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Padahal Jurusan Tosan Aji (keris), Naskah Sunda Kuno, Jawa Kuno (Filologi), sejatinya adalah kekayaan budaya nasional, harta karun peradaban yang adiluhung yang di dalamnya mengandung ajaran karuhun yang luhur, mencakup berbagai aspek kehidupan, sistem pengetahuan yang komprehensif, tentang tata negara, sejarah, geografi, obat tradisional, ekologi, etika hidup, ajaran moral, dan sebagainya. Perpustakaan Nasional RI hampir mengoleksi 1.000 naskah Sunda Kuna.

Dan semua itu kalau dikembangkan ada kaitannya dengan industri. Contohnya pengembangan produk berbasis naskah Sunda Kuna, seperti yang dilakukan Prof. Ariesa Pandanwangi yang menuangkan catatan perjalanan Bujangga Manik ke batik kontemporer yang seterusnya diproduksi oleh UMKM dan bisa bernilai ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat.

Sayang sekali kalau budaya karuhun yang adiluhung isinya dan bisa dieksplorasi ke berbagai jenis karya seni kreatif serta manfaatnya sudah bisa dirasakan untuk menyejahterakan masyarakat dipandang sebelah mata, dibiarkan punah ditelan waktu atau hanya sekadar menjadi isi rak buku perpustakaan dan koleksi museum.

Malah kebanyakan dibawa ke Inggris, Belanda, dan negara lainnya. Jadi kalau kita mau meneliti budaya sendiri, terpaksa harus ke negeri orang. Sesampainya di sana, kita hanya dikasih microchip-nya saja, sementara naskah aslinya tetap disimpan oleh mereka.

“Bisa saja itu diminta lagi oleh kita. Tapi saya sangsi apakah kita bisa mengurusnya atau tidak. Sedangkan naskah kuna yang terbuat dari kertas daluang (saeh), lontar (nipah, daun gebang), dan kertas Eropa perlu pemeliharaan khusus, pengatur suhu ruangan agar tidak hancur terkena lembap dan dimakan kutu atau rayap. Nah, apa kita bisa menyediakan tempat dan alat seperti itu? Jangankan naskah kuna, arca, patung, dan koleksi lainnya juga banyak yang hilang dicuri dari museum, dijual ke kolektor dalam dan luar negeri,” demikian kata Ariesa Pandanwangi menutup obrolan.

Profil Ariesa Pandanwangi

Ariesa Pandanwangi adalah dosen Program Sarjana Seni Rupa Murni, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif, Universitas Kristen Maranatha.

Fokus penelitiannya batik, dengan dana hibah dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Perguruan Tinggi, serta BRIN.

Selain aktif melakukan penelitian, menulis, dan lokakarya Batik Kreatif Lilin Dingin, ia juga sering berpameran di seluruh Indonesia dan mancanegara. Tak heran kalau ia mendapat penghargaan “Dosen Terbaik” dan “Dosen Berprestasi” dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat serta penghargaan pengabdian masyarakat dari Lions Club International.

Ariesa juga tercatat menjadi salah seorang perintis “Komunitas22Ibu”, sebuah perkumpulan yang menyinergikan energi kreatif kaum perempuan Indonesia lintas institusi. Komunitas ini didirikan di Bandung dan Jakarta serta sering mengadakan kegiatan pameran, lokakarya, penulisan buku, dan pengabdian masyarakat yang fokus pada pelatihan batik kreatif berbahan ramah lingkungan di seluruh pelosok, serta memenuhi undangan dari beberapa Kedutaan Besar Indonesia, seperti di New Delhi (India), Fukuoka (Jepang), Stockholm (Swedia), Praha (Ceko), Athena (Yunani), dan London (Inggris).

Dalam tahun 2020, bersama mitranya dari beberapa negara Asia, Ariesa mendirikan ASEAN Digital Art Society, satu platform digital yang memberi fasilitas kepada akademisi, seniman, mahasiswa, dan masyarakat umum dalam menciptakan karya seni digital.

Ia juga sudah menerbitkan beberapa buku tentang perkembangan batik serta kumpulan cerpen dan puisi.

Ariesa juga pemilik 212 Hak Cipta, 1 Hak Desain Industri, dan beberapa produk karya penciptaan seni batiknya memiliki sertifikasi hasil uji dari Badan Standardisasi & Kebijakan Jasa Industri, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.

Judul: Ariesa Pandanwangi: Kisah Bujangga Manik Jadi Batik
Jurnalis: AGP
Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *