MajmusSunda News, Minggu (10/05/2026) – Artikel berjudul “Absurditas Pasangan” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, di kota yang penuh aplikasi kencan dan nasihat “kalau jodoh takkan ke mana”, manusia sibuk seperti kurator nasibnya sendiri. Semua ingin dipilih, tapi tak semua siap memilih tanpa ilusi. Cinta jadi pasar sunyi: ramai kemungkinan, miskin kepastian.
Ada yang disukai pria, tapi bagi wanita itu seperti sepatu cantik yang sempit: memikat tapi menyiksa. Ada yang disukai wanita, tapi bagi pria itu seperti pesta yang bising: menarik dari jauh, melelahkan dari dekat. Maka cinta sering gagal bukan karena tak ada rasa, melainkan karena rasa itu tak menemukan tempat yang pas di hati.

Ada pula yang saling suka. Yang satu merasa nyaman seperti berada di tempat yang tepat, yang lain merasa dimengerti tanpa banyak menjelaskan. Tapi dunia selalu menambahkan syarat di luar rasa itu: jarak, waktu, masa lalu, ambisi yang tak sejalan. Mereka saling mencintai, lalu hidup berkata dingin: “Maaf, administrasi tak lengkap.”
Ada pasangan yang sama-sama berjuang dari nol dari kos sempit, gaji tipis, dan mimpi yang muat dalam satu ransel. Mereka bertahan seperti dua orang berbagi payung bocor. Tapi ketika hidup membaik, mereka sadar tak semua orang tumbuh ke arah yang sama. Akhirnya mereka berpisah, seperti buku yang selesai dibaca berdua.
Ada pula yang setia mendukung saat pasangannya berjaya, menjadi pesorak paling keras di tribun hidup. Tapi saat yang berjaya jatuh, cinta itu ikut kehilangan gravitasi. Pelukan berubah jadi jarak; kata “kita” perlahan diganti “kamu saja dulu”.
Ada pasangan yang tampan dan cantik, bak iklan kehidupan ideal. Ada pula yang menggelar pesta pernikahan jorjoran, seolah ingin memastikan cinta mereka disaksikan semesta. Tapi wajah rupawan tak menjamin ketahanan, dan pesta megah tak membuat badai rumah tangga batal datang. Setelah musik berhenti dan tamu pulang, mereka sadar: pernikahan dimulai justru saat kemeriahan usai.
Walhasil, jodoh bukan sekadar menemukan yang cocok, melainkan ketahanan saat kecocokan diuji kenyataan. Manusia, dengan segala keseriusannya mencari “yang tepat”, sering lupa bahwa yang paling menentukan bukan siapa yang dipilih, melainkan siapa yang tetap teguh saat kesempurnaan memudar.
***
Judul: Absurditas Pasangan
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.













Respon (1)