MajmusSunda News, Minggu (25/10/2026) – Ada pertanyaan yang tetap tinggal meskipun berbagai jawaban telah kita temukan. Ia tidak selalu muncul ketika kita kekurangan pengetahuan, tetapi justru ketika pengetahuan telah membawa kita cukup jauh untuk menyadari betapa luasnya sesuatu yang belum kita pahami. Saya teringat Al-Ghazali, pemikir besar Islam yang pernah memeriksa kembali dasar-dasar pengetahuannya sendiri. Ia tidak puas hanya dengan menerima sesuatu sebagai kebenaran karena telah diajarkan, diyakini, atau diterima banyak orang. Ia ingin menemukan dasar keyakinan yang sungguh dapat dipercaya. Dalam pencariannya, ia mengalami kegelisahan yang mendalam, hingga menyadari bahwa keluasan pengetahuan dan ketenteraman batin bukanlah dua hal yang selalu datang bersamaan.
Jauh dari dunia Al-Ghazali, Blaise Pascal menekuni matematika dan fisika dengan ketajaman akal yang luar biasa. Ia memahami kekuatan penalaran dalam mengungkap keteraturan alam, tetapi juga menyadari bahwa kehidupan manusia tidak seluruhnya dapat diterangkan melalui ketepatan perhitungan. Manusia bukan sekadar makhluk yang berpikir, melainkan juga makhluk yang menyadari keterbatasannya, merasakan kerinduan, dan mencari makna keberadaannya. Pascal tidak meninggalkan akal ketika mendekati kepercayaan. Ia justru memperlihatkan bahwa penggunaan akal secara sungguh-sungguh dapat berjalan bersama kesadaran bahwa tidak semua persoalan manusia dapat diselesaikan hanya melalui penalaran.
Kedua tokoh itu membuat kita melihat bahwa ilmu dan kegelisahan tidak selalu berlawanan. Ada kegelisahan yang lahir dari ketidaktahuan, tetapi ada pula yang tumbuh dari kesadaran bahwa pengetahuan kita belum mencukupi untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendasar. Keraguan dapat menjadi pintu bagi pemeriksaan yang jujur, selama kita tidak menjadikannya alasan untuk menolak segala sesuatu tanpa pertimbangan. Sebaliknya, kepercayaan pun memperoleh kedalaman ketika seseorang berani memeriksa apa yang diyakininya, memahami batas pengetahuannya, dan tidak menyamakan keyakinan pribadi dengan kebenaran yang telah terbukti secara ilmiah.
Di tengah kehidupan akademik kita, saya terkadang merasa bahwa yang perlu dirawat bukan hanya kesungguhan untuk mengetahui, tetapi juga kerinduan untuk terus mencari. Kita dapat menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan sesuatu kepada orang lain, sementara kesempatan untuk mempertanyakan kembali pemahaman sendiri semakin sedikit. Kita dapat begitu terampil menyusun alasan, tetapi belum tentu cukup lapang untuk mendengarkan alasan yang berbeda. Padahal, salah satu tanda kedewasaan intelektual justru terlihat ketika seseorang tidak kehilangan keberanian untuk berkata bahwa ada hal yang belum diketahuinya. Pengakuan semacam itu bukan pengurangan martabat, melainkan penghormatan kepada kebenaran yang sedang diupayakan.
Rindu memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan ini. Ia bukan sekadar keinginan untuk memperoleh sesuatu yang belum dimiliki, melainkan daya batin yang membuat pencarian tetap hidup. Seorang peneliti merindukan penjelasan yang lebih memadai, seorang pemikir merindukan kejernihan, dan seorang pencari Tuhan merindukan kedekatan yang tidak cukup diwakili oleh pengetahuan tentang-Nya. Bentuknya berbeda, tetapi semuanya memperlihatkan bahwa manusia tidak hanya digerakkan oleh apa yang telah diketahuinya. Ada sesuatu yang belum tergapai, yang membuatnya terus melangkah. Tanpa kerinduan, ilmu dapat berubah menjadi kegiatan yang hanya mengulang kebiasaan. Tanpa kesediaan menghadapi kegelisahan, keinginan untuk mengetahui pun mudah berhenti pada jawaban yang paling nyaman.
Al-Ghazali dan Pascal menempuh jalan yang tidak sama, dengan landasan kepercayaan dan pengalaman spiritual masing-masing. Kita tidak perlu menghapus perbedaan itu untuk menemukan pelajaran yang dapat diterima bersama. Keduanya mengingatkan bahwa pencarian kebenaran menuntut ketelitian berpikir sekaligus kejujuran batin. Bagi orang beriman, kesadaran akan keterbatasan manusia dapat memperdalam hubungan dengan Sang Pencipta. Dalam kehidupan keilmuan, kesadaran yang sama dapat menumbuhkan kerendahan hati untuk terus menguji pengetahuan dan memperbaiki pemahaman. Kepercayaan tidak harus mematikan pertanyaan, sebagaimana pertanyaan tidak harus berakhir dengan hilangnya kepercayaan.
Barangkali, yang membuat ilmu tetap bernilai bagi kehidupan bukan semata-mata banyaknya persoalan yang berhasil kita jawab, melainkan juga cara ilmu membentuk diri kita ketika berhadapan dengan sesuatu yang belum terjawab. Rindu menjaga langkah kita, kegelisahan membangunkan kesadaran, keraguan menguji keteguhan berpikir, dan kepercayaan memberi arah bagi perjalanan batin. Kita tidak harus mengetahui segala sesuatu untuk menjalani kehidupan dengan keyakinan, tetapi kita perlu menjaga kejujuran agar keyakinan tidak berubah menjadi kesombongan. Sebab, semakin jauh manusia berjalan dalam pencarian, semakin penting baginya bukan hanya mengetahui apa yang benar, melainkan juga belajar menempatkan dirinya dengan rendah hati di hadapan kebenaran itu sendiri.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Ilmu dan Kepercayaan; Al Ghazali dan Pascal: Seperti Juga Rindu, Pencarian Tidak Selalu Selesai dengan Pengetahuan
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












