MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (24/10/2026) – Beberapa kawan menyarankan agar saya mencoba bentuk tulisan yang lebih singkat, di samping artikel-artikel panjang yang selama ini saya tulis. Mungkin ada benarnya, tanpa bermaksud menyederhanakan persoalan.
Tulisan panjang memberi ruang untuk mengupas persoalan secara lebih mendalam, tetapi juga membutuhkan waktu dan perhatian pembaca. Sementara itu, dunia terus bergerak dan begitu banyak persoalan mendesak yang perlu kita pahami dan tanggapi, terutama di tengah berbagai tantangan yang dihadapi negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Dari percakapan tersebut, saya terdorong bereksperimen dengan #PAS (Prosa Aforisme Sistemik), atau Systemic Aphoristic Prose. Salah satu inspirasinya adalah Friedrich Nietzsche (1844–1900), filsuf Jerman yang dikenal melalui tulisan-tulisan aforistiknya dalam menggugat moralitas konvensional, kebenaran yang dianggap mapan, dan berbagai asumsi yang jarang dipertanyakan dan diuji.
Namun, PAS tidak dimaksudkan untuk meniru Nietzsche. Dengan memadukan refleksi filosofis, paradoks, ironi, dan pemikiran sistemik (systems thinking), PAS mencoba menyingkap hubungan yang sering tersembunyi antara manusia, institusi, kekuasaan, kebudayaan, ekonomi, dan alam. Tantangannya bukan sekadar menyederhanakan gagasan yang rumit, melainkan mengungkap kontradiksi dan keterkaitan sistemik di baliknya melalui tulisan yang lebih ringkas dan mudah dicerna.
Tulisan perdana PAS, “Pendaki Bergentayangan”, kini telah terbit di Substack pribadi saya. Berangkat dari peristiwa kebakaran hutan dan hubungan manusia yang sering kali kontradiktif dengan alam, tulisan ini mengajak kita mempertanyakan tanggung jawab ekologis, kedudukan masyarakat adat, serta berbagai kepentingan dan struktur kekuasaan yang memengaruhi cara kita memperlakukan dan mengelola lingkungan.
Saya berencana menerbitkan PAS setiap pekan, terutama dalam bahasa Indonesia, dan dalam dua bahasa apabila relevan untuk menjangkau pembaca yang lebih luas. Sementara itu, artikel-artikel panjang berbasis analisis dan bukti empiris akan tetap saya posting di Progressive Insights. Keduanya merupakan pendekatan yang saling melengkapi.
PAS merupakan eksperimen intelektual sekaligus penulisan, bukan klaim untuk memperkenalkan genre sastra baru. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kita membutuhkan pemahaman yang mendalam sekaligus cara berkomunikasi yang lebih terbuka, mudah dijangkau, kritis, dan reflektif.
Melalui refleksi-refleksi singkat ini, saya berharap kita dapat terus menggugat asumsi yang telanjur dianggap benar, melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda, dan membuka ruang dialog yang konstruktif.
Tanggapan, perbedaan pandangan, dan kritik dari para sahabat tentu sangat saya nantikan sebagai bagian dari proses belajar bersama.
Baca PAS No. 001 – Pendaki Bergentayangan:
https://tinyurl.com/yc5zphx4
#ProsaAforismeSistemik #SystemsThinking #Filsafat #KeadilanIklim #Keberlanjutan

Judul: Memperkenalkan PAS – Prosa Aforisme Sistemik
Penulis: Farhan Helmy adalah pegiat lingkungan hidup, perubahan iklim, dan inklusi sosial dengan pengalaman lebih dari tiga dekade dalam tata kelola lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Ia merupakan Founder dan President DILANS Indonesia, Founder dan CEO Advanced Systems Computing Design and Innovation (ASCODI) Lab, serta En-ROADS Climate Ambassador. Melalui kerja advokasi, penelitian, dan pengorganisasian komunitas, ia mengembangkan pendekatan Inclusive Nexus yang menghubungkan GEDSI, krisis iklim, kebudayaan, dan transformasi sistemik.
Editor: Parkah












