Pshychologi Sosial dalam Sejarah Phenomena Konsep Bernegara

Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja (Guru Toge)

MajmusSunda News, Rabu (07/10/2026) – Artikel Berjudul “Pshychologi Sosial dalam Sejarah Phenomena Konsep Bernegara” ini ditulis Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja/Pensiunan Guru Toge. Penulis merupakan Pinisepuh Pamangku Sunda/Majelis Musyawarah Sunda, di dunia Industri (Textile, Bank, Perkebunan) pernah menjadi GM. Finance, GM. HRD, dan Direktur HRD di Rumah Sakit. Di dunia Pendidikan pernah menjadi Wakil Rektor bid. Kemahasiswaan & Alumni, Wakil Rektor bid. Sumber Daya dan Legal.

Dimulai pada zaman PLATO, mempunyai gagasan bahwa Individu dalam lingkup masyarakat besar, bukanlah makhluk yang sendiri, ia memerlukan pertolongan dari banyak orang lain.

Karena itu, Konsep ber-Negara dari Plato disebut Concept Republic, juga ada beberapa konsep Plato tentang Bernegara.

Diawali dari Aristocracy, peranan yang mendominir, peranan dari para Filosofi, dan motif yang kuat adalah Love of Wisdom (kegandrungan akan kebijaksanaan), dan Possion for Justice (keprihatinan untuk Keadilan), titik utama dari konsep Aristrocacy adalah bahwa setiap Manusia akan memenuhi panggilannya sesuai dengan yang ditentukan kepadanya secara alamiah. (Wijsheid).

Karena dalam tatanan Kenegaraan, Demokrasi tanpa Kebijaksanaan akan membawa Malapetaka bagi kita semua. (Een Democratie Zonder Wisjheid is een ramp voor ons Allens). Semua harus menegakkan suatu Pemerintahan yang bijaksana (Het recht van den Wijze). Jangan memelihara Pejabat Pengkhianat yang bisa menyengsarakan Masyarakat, Bangsa dan Negara ke jurang keterpurukan, sehingga Negara penuh dengan Hutang. Rakyat hanya berharap, para Pimpinan jadilah orang yang bijaksana, akan tetapi jangan jadi orang gila. (Weest Wijs maar wordt gek).

Selanjutnya adalah Timocracy, motifnya adalah Vainglary (Kesombongan) dan Love of Power serta Militery Ambition, bentuk ini timbul akibat dari suatu kelompok tertentu terhadap kelompok atasnya.

Sedangkan Tatanan Oligarchy, dalam bentuk ini biasanya dihasilkan oleh suatu kelompok, yang berupaya berjuang dengan menghalalkan segala cara, untuk memupuk harta benda, jabatan untuk menjadi Kaya, dan berhasil mempertahankan nilai-nilai Sosial dan Materi, sehingga kelompok itu menjadi Rulling Class. Sebagian kelompok menyebut mereka berperilaku dan bertindak semaunya, bengis dan kemaruk seperti jaman Feodal. (Het is een Feodale Wereld).

Kalau Democracy biasanya timbul akibat suatu Frecwensi dan Slogan yang hidup di sini adalah Liberty dan Equality, sesuatu yang berpandangan serta bersifat maju (Enlightened), mengutamakan Tertib dalam waktu service, tertib administrasi, tertib fisik, maupun aman personil dan Informasi, ditunjang oleh Kejuangan, upaya rakyat jangan prihatin, menumbuhkan Kebanggaan sebagai Bangsa besar & beradab, memperhatikan Rakyat tanpa kenal waktu serta jam kerja bukan penghalang pelaksanaan bertugas, dilandasi Perlindungan Hukum yang adil tanpa ada klasifikasi nilai manusia, agar tercipta rasa aman dan tentram, suasana persaudaraan/guyub gotongroyong, cepat tanggap yang melibatkan semua komponen Hukum dalam satu Sinergi, Orientasi pada Kepentingan Nasional, Masyarakat dan Negara.

Sedangkan Tyranny adalah merupakan ekses dari kebebasan yang diberikan Demokrasi, akhirnya menjadi Over wat Anders.

Aristoteles, agak berbeda polanya, dia menganut faham bahwa setiap Manusia dilahirkan dengan Talenta tertentu. Oleh karena itu, untuk membentuk sesuatu Lembaga maupun Negara, sangat dibutuhkan Talenta-Talenta tersebut. Oleh karenanya, Bentuk Negara yang diinginkan Aristoteles adalah yang bersifat Demokrasi.

Perbandingan Plato dan Aristoteles, menurut Plato, bahwa Manusia selaku Individu membentuk suatu Kelompok Sosial tertentu, karena membutuhkan kelompok tersebut (berelasi Sosial).

Kalau Aristoteles, menyebutkan bahwa Kebutuhan kelompok sifatnya Instinktif, benar secara lahiriah, ada kecenderungan untuk berafiliasi, tetapi tetap untuk mempunyai Kekuatan Unity (Kesatuan) yang bertingkat. Dimulai dari Kepentingan Pribadi/Individual (Selfhood), kepentingan Familie/Keluarga, baru kepentingan Masyarakat (In thin the Stole), kesemuanya harus dihasilkan atas Usaha Bersama saling mengisi, itulah profil palsu Demokrasi, dan perdamaian hanya bisa dicapai, apabila itu merupakan Interest dari Masyarakat sendiri.

Tapi pemikiran Plato agak irisan, bahwa untuk mendapatkan Masyarakat yang baik, akan diperoleh dengan Sistem dari Pengaturan Pimpinan/Kepala (Filasifi), sehingga perdamaian suatu Bangsa bisa dicapai kalau Group Elite pandai dan baik mengaturnya.

Plato bersikap Deduktif, Aristoteles bersikap Induktif, disebabkan Plato bergerak berdasarkan Ratio, sedangkan Aristoteles bergerak berdasarkan Empiris, tetapi di antaranya keduanya terdapat Persamaan, antara Plato & Aristoteles, mereka menganut faham adanya Analogie antara Individu dengan masyarakat.

Di kemudian hari, hal tersebut dilihat dari pemahaman diri ciri-ciri khas Budaya dan Sosial individu dari masyarakat daerah asal secara menjarak atau Objectif, bersikap dan berperilaku keberlanjutan (Sustainability) dan Ketahanan (viable and resilience) kehidupan bersama dalam suatu masyarakat (plural), suatu sikap saling menghargai, sekaligus kritis terhadap Otoritas, pola kepemimpinan yang Demokratis partisipatif, berdasar suatu Sikap dan Perilaku Interaktif, yang saling percaya akan niat baik masing-masing.

Di alam sekarang, khususnya di Negara kita NKRI tercinta, untuk meraih nilai falsafah di atas, yang harus diutamakan adalah Meluluhlantakkan Kebodohan dan Kemiskinan, serta Pengembangan Sumberdaya Insani, diarahkan untuk mewujudkan Manusia yang berbudi luhur, tangguh, Cerdas, Terampil, Mandiri serta memiliki rasa kesetiakawanan, bekerja keras, produktif, kreatif serta Inovatif, BERDISIPLIN serta berorientasi ke masa depan, menciptakan kehidupan yang lebih baik, memperdalam Rasa Cinta Tanah Air, mempertebal Semangat Kebangsaan dan Rasa kesetiakawanan Sosial, dan jangan sekali-kali Meninggalkan dan melupakan Agama yang diturunkan ALLOOH.SWT.

Sehingga nanti, peningkatan Perbaikan Pemerintahan Negara, landasannya adalah Peningkatan kehidupan Ekonomi Sosial, peningkatan kualitas manusia, Kualitas kehidupan Masyarakat, Pembangunan berwatak Kemanusiaan, semoga berlangsung semakin baik dan semakin meningkat, tanpa dibebani hutang.

***

Judul: Pshychologi Sosial dalam Sejarah Phenomena Konsep Bernegara
Penulis: Ernawan S Koesoemaatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *