MajmusSunda News, Minggu (20/09/2026) – Sore kemarin yang sentuhannya masih terasa di pagi ini, saya kembali mendengar dan merasakan suara yang sudah lama tidak hadir. Bukan suara seseorang yang mengetuk pintu, bukan pula langkah yang telah akrab di telinga. Hanya angin yang bergerak perlahan di antara daun, membawa perubahan kecil pada udara, lalu menghidupkan kembali sebuah penantian. Begitulah rindu bekerja. Ia tumbuh dari sesuatu yang pernah hadir, kemudian lama tak kembali. Seperti pada usia ketika hati pertama kali mengenal cinta, selintas bayangan wajah cukup membuat dada berdebar, seakan sosok yang dinanti akan tampak di ujung jalan.
Ada kerinduan yang belum pandai menyembunyikan dirinya. Mata sering mencari, telinga mudah menangkap suara yang menyerupai kabar, dan waktu terasa lebih panjang ketika yang dinanti belum hadir. Setiap kesejukan membawa harapan, setiap perubahan udara terasa menyimpan pesan. Rindu semacam itu tidak membutuhkan banyak alasan. Ia hanya membutuhkan kehadiran. Ketika sosok yang dicintai belum datang, dunia terasa kurang lengkap; ketika ia hadir, segala sesuatu memperoleh keindahannya kembali.
Begitulah cinta pada mula perjumpaan. Ada wajah yang menetap dalam ingatan, senyum yang enggan pergi dari pikiran, dan suara yang terasa indah meskipun hanya terucap beberapa kata. Rambut yang bergerak diterpa angin, mata yang menyimpan cahaya, langkah yang ringan, dan wajah yang belum disentuh banyak perjalanan kehidupan dapat membuat hati mengenal keindahan dengan cara yang sederhana. Yang dirindukan bukan kemewahan pertemuan, hanya hadirnya sosok itu di hadapan mata.
Rindu membuat penantian memiliki keindahan tersendiri. Sore menjadi ruang untuk berharap, langit menjadi tempat mata mencari tanda, dan udara yang berubah mampu membuat hati menyimpan debar. Ada kelembutan yang dinanti, kesegaran yang ingin disentuh, dan kecantikan yang tidak perlu banyak kata untuk dikenali. Kekasih yang dirindukan tidak harus datang membawa senyum. Kehadirannya sendiri sudah menjadi senyum bagi hati yang menunggu.
Dan sore itu pun, langit mulai menjadi tempat pencarian. Awan berkumpul dengan warna yang lembut, cahaya matahari meredup perlahan, dan udara membawa kesejukan yang lama tidak dikenal. Di kejauhan terdengar guruh yang samar. Hati kembali menaruh harapan. Ada sosok yang terasa semakin dekat, bukan dengan langkah, melainkan dengan perubahan alam yang perlahan menyelimuti halaman. Yang dinanti bukan lagi suara kaki di ujung jalan. Yang dinanti adalah sentuhan pertama.
Hujan turun dengan kecantikan yang tidak membutuhkan cermin. Tetesnya bening, jatuh satu demi satu dengan kelembutan yang membuat bumi menerima tanpa menolak. Rambut pepohonan basah, daun-daun berkilau, tanah mengirimkan aroma yang lama tersimpan, dan halaman memperoleh kesegaran baru. Ada kemolekan yang hadir tanpa hiasan, ada keanggunan yang justru tampak karena kesederhanaannya. Rindu menemukan jawabannya dalam setiap tetes yang jatuh, dan penantian berubah menjadi rasa syukur yang memenuhi dada.
Saya kemudian mengerti bahwa ada rindu yang mula-mula terasa sebagai kerinduan kepada seseorang, tetapi membawa hati kepada pengertian yang lebih luas tentang cinta. Hujan yang lama dinanti hadir tanpa suara yang meminta balasan. Ia membasahi yang kering, menyegarkan yang letih, dan memberi kehidupan kepada yang menunggu. Dalam kehadirannya, cinta menemukan kelembutan, rindu menemukan tempat berlabuh, harapan menemukan bentuknya, dan syukur menemukan alasan. Keindahan tidak selalu datang untuk dimiliki. Ada yang cukup dipandang, dirasakan, disyukuri, kemudian diserahkan kembali kepada pencipta langit.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Tetes Hujan: Kerinduan dan Cinta yang Berbinar
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












