MajmusSunda News, Jum’at (11/09/2026) – Ada saat ketika aku merasa bahwa ilmu pengetahuan justru menjadi semakin indah ketika ia mengakui keterbatasannya. Ia mampu menjelaskan banyak hal tentang bagaimana semesta bekerja, tetapi selalu ada sesuatu yang tersisa di balik penjelasan itu. Sesuatu yang tidak keliru untuk disebut kebenaran, meskipun belum tentu dapat dibuktikan dengan cara-cara yang biasa digunakan manusia untuk membuktikan kebenaran. Sebab pengetahuan bukanlah kenyataan itu sendiri, melainkan cara manusia mendekati kenyataan. Dan semakin jauh perjalanan pengetahuan, semakin terasa bahwa yang belum diketahui mungkin jauh lebih luas daripada yang telah diketahui.
Barangkali karena tidak semua yang nyata harus dapat diukur. Cahaya dapat dihitung kecepatannya, jarak dapat dinyatakan dalam angka, dan waktu dapat disusun dalam satuan. Tetapi mengapa sebuah cahaya tertentu dapat membuat seseorang teringat pada sesuatu yang telah lama berlalu, tidak pernah selesai dijelaskan oleh aksioma. Di sini, angka tetap memiliki kebenarannya, tetapi ia tidak selalu memiliki seluruh makna. Mungkin ada perbedaan antara mengetahui bagaimana sesuatu bekerja dan memahami mengapa sesuatu itu begitu berarti bagi kehidupan manusia.
Begitu pula dengan jarak. Secara fisik, jarak adalah ruang di antara dua tempat. Namun dalam kehidupan manusia, jarak kadang justru membuat sesuatu terasa semakin dekat. Ada yang jauh secara ruang, tetapi begitu dekat dalam ingatan. Ada pula yang hadir begitu dekat, tetapi entah mengapa terasa sangat jauh. Rupanya kedekatan bukan hanya persoalan koordinat, melainkan juga persoalan kesadaran. Karena itu, sesuatu yang tidak lagi berada di hadapan mata belum tentu meninggalkan ruang di dalam pikiran.
Mungkin kerinduan bekerja seperti gravitasi. Ia tidak terlihat, tidak bersuara, dan tidak meminta izin. Namun sesuatu yang berada jauh di sana dapat terus menarik pikiran kembali kepadanya. Tidak ada yang tahu bagaimana gaya itu bekerja, tetapi jejaknya dapat dirasakan. Barangkali demikian pula beberapa hal dalam kehidupan, keberadaannya justru diketahui dari pengaruh yang ditinggalkannya, bukan dari wujud yang dapat ditangkap indera. Kita tidak melihat gravitasi, tetapi kita melihat benda jatuh; kita tidak melihat kerinduan, tetapi kita tahu ketika pikiran berulang kali kembali kepada satu arah yang sama.
Pada titik tertentu, kebenaran saintifik mungkin akan berhadapan dengan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar apa yang dapat diamati. Bukan untuk menolak ilmu pengetahuan, melainkan untuk menyadari bahwa kenyataan mungkin memiliki lapisan yang belum seluruhnya dapat dijangkau oleh pengetahuan manusia. Di sanalah kerendahan hati intelektual menjadi penting, sebab merasa telah mengetahui seluruh kenyataan adalah bentuk lain dari ketidaktahuan. Mungkin yang transenden bukan sesuatu yang bertentangan dengan ilmu, melainkan sesuatu yang mengingatkan ilmu bahwa kenyataan selalu lebih luas daripada metode yang digunakan untuk membacanya.
Dan mungkin, ada hal-hal tertentu yang memang sengaja diletakkan di wilayah antara pengetahuan dan perasaan. Ia tidak perlu disebut, tidak perlu dijelaskan, bahkan tidak perlu diketahui oleh siapa pun. Cukup ada, seperti cahaya yang datang dari tempat yang sangat jauh dan tetap menemukan jalan menuju mata. Ada kenyataan yang tidak membutuhkan pengakuan untuk tetap menjadi kenyataan. Justru karena tidak diucapkan, ia memperoleh ruang untuk hidup lebih lama di dalam kesunyian.
Barangkali karena itu, sampai hari ini, ada satu nama yang masih muncul tanpa pernah dipanggil. Tidak sebagai jawaban atas sebuah pertanyaan ilmiah, melainkan sebagai sesuatu yang membuat pertanyaan itu tidak pernah benar-benar selesai. Mungkin kau tak tahu bahwa di balik kegelisahan tentang kebenaran, jarak, cahaya, dan sesuatu yang tak sepenuhnya dapat dijelaskan itu, sebenarnya ada satu hal yang jauh lebih sederhana. Hanya saja, untuk menyebutnya, mungkin seluruh teori tentang kebenaran harus terlebih dahulu disingkirkan.
“Áku rindu padamu !”
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Mungkin Kau Tak Tahu kalau Aku Merindukanmu
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












