MajmusSunda News, Rabu (09/09/2026) – Artikel Berjudul “Pantarei Kai Uden Menei – Dalam Dinamika Filsafat Hidup, Melandasi Spiritual Intelligence & Spiritual Quotient” ini ditulis Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja/Pensiunan Guru Toge. Penulis merupakan Pinisepuh Pamangku Sunda/ Majelis Musyawarah Sunda, di dunia Industri (Textile,Bank, Perkebunan) pernah menjadi GM.Finance, GM.HRD, dan Direktur HRD di Rumah Sakit. Di dunia Pendidikan pernah menjadi Wakil Rektor bid.Kemahasiswaan &Alumni, Wakil Rektor bid.Sumberdaya dan Legal.
Realitas tidak ada yang tetap, mengalir terus ( Heraclitus ) dikenal dengan pemikirannya yang kritis, sifat Filsafatnya Filsafat Menjadi, dimana realitas ini selalu diikat, realitas sebagai sesuatu yang dinamis, jadi aspek dinamika, berkembang terus menjadi, keberhentian itu tidak ada, artinya ada itu tidak ada, yang ada hanyalah proses menjadi, sebagai yang berhenti, yang ada , ada itu adalah Gerak , belum membedakan antara materi dan Rokhani yang bersinggungan dengan Filsafat Hidup.
Prinsip prinsip praktis yang dipakai orang, untuk pegangan hidupnya, yang diambil dari orang lain, sehingga nilai nilai tadi dipakai untuk pegangan, membaur dengan kebenaran formil yang dianggap tidak ada ( sikap Indifferentis ), juga menebalkan Intelektual Virtue, pembentukan Intelektual dengan menjamkan fikiran kita dalam menanggapi pelbagai masalah atau problema, dengan fikiran terang, sehingga dalam kehidupan , akan tertulis prinsip hidup Bonum Supponendum Et Malun Probandum, dimana Kebaikan atau Kebenaran kita abaikan, dianggap tidak ada, dan Keburukan kita harus buktikan dulu, untuk memberi nilai dalam Arti hidup ( Lamuneauis ).
Disana menyangkut pola Interaksi antara persepsi diri dan persepsinya terhadap orang lain, sebagai pola interaksi tanpa prasangka kurang baik terhadap orang lain, dan juga dengan rasa Kepercayaan pada diri sendiri ( I.am Ok – You Are Ok ) suatu pola langkah kehidupan yang demokratif partisipatif, perilaku yang saling percaya akan niat baik masing masing, setidaknya tanpa prasangka kurang baik terhadap yang lain, dengan perkataan lain, kemandirian dalam kebersamaan, salah satunya adalah Berdiri sendiri ( Qiyamuhu Bi Nafsihi ) dalam pemahaman lebih umum adalah Mandiri atas diri pribadinya.
Jadi Filsafat Hidup adalah karena adanya keraguan dalam menangkap realitas yang berdasarkan dari Science, yang menyebutkan tidak akan ada lagi misteri dalam dunia kehidupan ini, semua akan bisa diungkapkan dslam Science berdasar ilmu asal, dari berkembangnya Intelectual Building dengan intensif dan mengartikannya dengan sungguh sungguh., dapat kita temukan dari nilai nilai hidup Netzsche, Henry Bergson, dan *Schopenhauer* yang termaktub Nulum Delictum Nulla Poena Sine Previa Lege Poenali ( Hukum kalau tidak ada peraturannya tidak boleh dihukum ).
Termasuk nilai Naturalisme, Materialisme, Dinamisme, Positivisme, Deisme, Criticisme, Manicheisme dll. yang bermuara pada SI ( Spiritual Intellegence ) dan SQ ( Spiritual Quotient ) dan Religiusitas atau Filsafat, memiliki perbedaan kategori, namun keduanya sangat berdekatan, karena dua duanya mengambil *Locus* pada diri manusia sebagai Sumberdaya Insani.
Secara theologis , Agama memang berasal dari Wahyu Tuhan ( ALLOOH.SWT ), dan dalam perikehidupan meresap menjadi Religiusitas dan Spiritualitas dalam wilayah manusia. Dalam filsafat kehidupan, baik Religiusitas dan Spiritualitas, memiliki kesamaan dalam hal penghayatan terhadap nilai nilai dan realitas non fisik, yang bersifat Holistic yang mampu membangkitkan *Sense of Divine Mission* dalam menjalani kehidupan.
Penghayatan & Keyakinan, akan sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian (Personality ) dan Attitude seseorang, hanya bisa difahami oleh Signifiednya oleh mereka yang memiliki ketajaman fikir dan hati. Mengasah potensi diri kita yang selalu ingin menggapai Divine Wisdom, dalam rangka meraih hidup lebih bermakna, dimana kekuatan SQ atau SI, berakar pada pemahaman, Kesadaran dan pemberdayaan potensi diri yang paling dalam, yaitu kekuatan Fitrah Manusia yang bersifat Rokhani , prinsip prinsip Nilai luhur Spiritual dan Kemanusiaan.
Tetapi pada prakteknya dalam langkah langkah hidup, banyak manusia terjebak dalam budaya Rennaisance , yang mempunyai ciri kultus pendewaan terhadap hal yang sifatnya materiil, sehingga secara luas Kebangkrutan Suatu Bangsa, disebabkan oleh Kemiskinan jiwa yang bersarang pada hati para Penguasa, secara materi mereka Kaya, namun Miskin hati dan Wisdom.
=====00000=====
***
Judul: Pantarei Kai Uden Menei – Dalam Dinamika Filsafat Hidup, Melandasi Spiritual Intelligence & Spiritual Quotient
Penulis: Ernawan S Koesoemaatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












