MajmusSunda News, Selasa (08/09/2026) – Ada sesuatu yang terasa janggal ketika melihat bagaimana sebagian orang Sunda hari ini berbicara tentang budaya. Iket dipakai, pangsi dikenakan, kujang diagungkan, bahasa Sunda dibanggakan, ritual dipelihara, dan karuhun berulang kali disebut. Namun pada saat yang sama, dalam perilaku sehari-hari, nilai yang disebut-sebut luhung itu tidak selalu tampak. **Ngamumule budaya Sunda tidak cukup dengan iket, pangsi, kujang, bahasa Sunda, ritual, atau sering menyebut karuhun.** Sebab kebudayaan bukan hanya apa yang dikenakan, dipentaskan, atau diucapkan. Kebudayaan semestinya menjelma menjadi laku.
Salah satu paradoks yang paling terasa adalah cara kita memperlakukan perempuan. Khazanah budaya Sunda menyimpan begitu banyak penghormatan terhadap perempuan. Ada Sunan Ambu, ada Nyi Pohaci, ada kedudukan indung yang begitu tinggi dalam pandangan hidup Sunda. Dalam sastra, kawih, tembang, karawitan, dan berbagai ekspresi kesenian, perempuan bukan sekadar pelengkap cerita. Ia hadir sebagai sumber kehidupan, kasih, kebijaksanaan, bahkan kekuatan. Ungkapan indung tunggul rahayu, bapa tangkal darajat menunjukkan bahwa kedudukan perempuan bukan sesuatu yang remeh dalam kesadaran budaya kita.
Justru karena itu, terasa semakin ganjil ketika perempuan hari ini malah dijadikan bahan banyolan yang merendahkan. Dalam sebuah video lama, seorang pejabat berinisial DM, yang selama bertahun-tahun dikenal sangat mengagungkan budaya Sunda, berulang kali meminta seorang perempuan mengucapkan “RW”. Perempuan tersebut mempunyai kesulitan dalam mengucapkannya sehingga bunyinya menyerupai kata vulgar dalam bahasa Sunda. Bukannya berhenti, bunyi itu justru diulang dan dimasukkan kembali ke dalam kalimat sehingga menjadi bahan tertawaan. Persoalannya bukan sekadar lucu atau tidak lucu. Yang patut direnungkan adalah ketika keterbatasan seseorang, terlebih seorang perempuan, dijadikan alat untuk menghasilkan kelucuan seksual.
Kasus semacam ini juga tidak berdiri sendiri. Pada Juli 2026, Komnas Perempuan secara resmi menyoroti lirik lagu seorang pejabat di Purwakarta berjudul Lalaki Langit Lalanang Bejat karena dinilai merendahkan martabat perempuan dan berpotensi memperkuat diskriminasi berbasis gender. Ini mestinya membuat kita bertanya lebih jauh. Bagaimana mungkin orang dapat begitu fasih berbicara tentang budaya yang luhung, tetapi pada saat yang sama tidak menghadirkan keluhungan itu ketika memperlakukan perempuan?
Tentu budaya Sunda bukan masyarakat tanpa kekurangan, dan masa lalu tidak perlu kita romantisasi seolah semuanya sempurna. Namun justru di dalam khazanah budaya itulah tersedia begitu banyak ajén yang dapat menjadi ukuran bagi perilaku hari ini. **Keluhungan budaya tidak diukur dari seberapa sering seseorang menyebut karuhun, tetapi dari seberapa jauh nilai-nilai luhur yang diwariskan karuhun itu hadir dalam perilakunya.** Budaya bukan sekadar benda, pakaian, upacara, atau simbol yang diwariskan. Ada tata nilai di dalamnya yang mestinya hidup dalam cara manusia memperlakukan manusia lainnya.
Mungkin krisis kebudayaan Sunda hari ini bukan karena urang Sunda kehilangan simbol budaya. Simbolnya masih banyak, bahkan semakin ramai dipertontonkan. **Yang mulai hilang justru hubungan antara simbol budaya dan laku budaya.** Tidak cukup mengagungkan Sunan Ambu dan Nyi Pohaci dalam cerita apabila *awéwé anu hirup di hareupeun urang* masih dijadikan objek banyolan, direndahkan, bahkan dilecehkan. Sebab pada akhirnya, budaya yang luhung bukan budaya yang paling ramai dibicarakan. **Keluhungannya justru terbaca dari laku manusianya.**
***
Judul: Ngamumule Budaya, Tapi Poho kana Laku
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












