MajmusSunda News, Senin (07/09/2026) – Saya dikirimi sebuah buku oleh kolega, judulnya cukup membuat dahi saya mengernyit, “Islam ala Prabowo”. Saya pandang sampulnya dan saya lihat daftar isinya. Saya pun jadi tersenyum saja.
Ada kalanya sebuah buku belum sempat dibuka, tetapi judulnya sudah lebih dahulu membuat pembaca membangun kesimpulan. Barangkali begitulah kekuatan sebuah judul. Ia hanya beberapa kata, tetapi dapat membawa imajinasi berjalan jauh sebelum satu halaman pun dibaca. Ya, seperti Judul buku itu, Islam Ala Prabowo, dengan mudah mengundang bayangan tentang sebuah corak keberislaman tertentu, sebuah cara pandang, atau bahkan semacam jalan yang memiliki nama sendiri. Sejenak, judul itu seperti menawarkan sebuah “Islam” yang memiliki pemilik gaya.
Padahal ketika isi buku didekati dengan lebih tenang, kesannya tidak sejauh itu. Buku tersebut lebih merupakan kumpulan tulisan sejumlah tokoh Muslim dengan berbagai latar belakang seperti militer, akademisi, agamawan, namun lebih berkesan politisi, ~ tentang Prabowo, tentang pengalaman mereka berinteraksi dengannya, serta catatan mengenai hubungan Prabowo dengan berbagai hal yang berkaitan dengan Islam dalam pengertian yang cukup umum. Ada pula kesan bahwa sebagian penulis memang berada dalam lingkar kedekatan tertentu dengannya. Dari sana lahir kesaksian, pengalaman, penafsiran, dan cerita yang memberi warna terhadap sosok yang mereka kenal. Tidak lebih dari itu, setidaknya sejauh judulnya hendak dibaca sebagai sebuah gagasan tentang Islam.
Di sinilah sebuah judul menjadi menarik untuk direnungkan. Ia dapat menjadi pintu, tetapi juga dapat menjadi lorong yang membawa pikiran terlalu jauh. Kata “ala” terdengar ringan, tetapi ketika diletakkan di samping kata “Islam” dan sebuah nama politik, ia segera memperoleh bobot yang lebih besar. Seolah ada suatu bentuk keberislaman yang khas, yang dapat disebut sebagai “Islam ala” seseorang. Padahal Islam sendiri memiliki sejarah intelektual yang panjang, berlapis, dan begitu luas sehingga satu nama manusia tentu terlalu kecil untuk menaunginya.
Namun, dunia kita memang menyukai nama. Sesuatu yang rumit sering terasa lebih mudah setelah diberi label. Sebuah gagasan menjadi lebih mudah dikenali ketika diberi nama. Sebuah hubungan terasa lebih jelas ketika diberi istilah. Bahkan pengalaman yang sesungguhnya berlapis-lapis kadang kita ringkas menjadi dua atau tiga kata agar mudah dicerna. Dalam dunia politik, media, dan penerbitan, cara seperti ini barangkali memiliki daya tariknya sendiri. Judul yang biasa dapat lewat begitu saja, sedangkan judul yang sedikit menggoda rasa ingin tahu lebih mudah mengundang tangan untuk mengambilnya dari rak.
Tetapi ada sesuatu yang menarik dari hubungan antara judul dan isi. Judul bekerja di wilayah kesan, sementara isi bekerja di wilayah penjelasan. Judul membutuhkan daya kejut agar dilihat, sedangkan isi membutuhkan ketenangan agar dipahami. Ketika keduanya terlalu jauh jaraknya, pembaca dapat menemukan dirinya sedang membaca sesuatu yang berbeda dari apa yang semula dibayangkannya. Bukan berarti judulnya salah. Ia hanya memiliki daya sugesti yang lebih besar daripada tubuh tulisan yang dibawanya. Di situlah pembaca perlu memberi kesempatan kepada isi untuk berbicara dengan suaranya sendiri.
Prabowo, dalam buku ini, tampaknya lebih banyak hadir sebagai sosok yang diceritakan oleh orang-orang yang mengenalnya, khususnya mereka yang memiliki latar belakang Muslim. Maka yang menarik sesungguhnya bukan mencari-cari apakah telah lahir sebuah “Islam Prabowo”, melainkan melihat bagaimana seseorang dipandang melalui mata orang-orang yang berada cukup dekat dengannya. Di sana ada pengalaman personal, kesan, ingatan, kedekatan, dan interpretasi. Semuanya sah sebagai bagian dari cerita manusia. Hanya saja, cerita tentang seorang manusia tidak selalu perlu dinaikkan menjadi sebuah mazhab pemikiran.
Mungkin ada keindahan tersendiri ketika kita memberi ruang bagi sesuatu untuk tetap menjadi dirinya. Sebuah kesaksian cukup menjadi kesaksian. Sebuah kedekatan cukup menjadi kedekatan. Sebuah pengalaman cukup menjadi pengalaman. Tidak setiap cerita membutuhkan nama besar untuk membuatnya bermakna. Sebab nama yang terlalu besar kadang membuat kita sibuk menafsirkan pintunya, sebelum sempat memasuki rumahnya. Dan dalam banyak hal, makna justru menunggu di dalam, bukan pada papan nama yang terpasang di depan.
Pada akhirnya, saya lebih tertarik membiarkan buku itu dibaca sebagai kumpulan cerita tentang seorang manusia yang dilihat dari dekat, bukan sebagai penanda lahirnya sebuah “Islam ala” seseorang. Sebab Islam terlalu luas untuk dipagari oleh nama siapa pun, sementara manusia selalu berada dalam perjalanan untuk memahami dirinya sendiri. Judul boleh menggoda, persepsi boleh berkelana, dan rasa ingin tahu boleh membawa kita membuka halaman demi halaman. Setelah itu, biarlah isi menemukan jalannya sendiri. Sebab sebuah buku yang baik tidak selalu harus membuat kita percaya kepada judulnya; ia cukup membuat kita berhenti sejenak, membaca lebih perlahan, lalu bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya sedang ingin dikatakan.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Ketika Judul Berjalan Lebih Cepat daripada Isi: Catatan Kecil tentang buku Islam Ala Prabowo
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra













Respon (1)