Filsafat Bersumber dari Agama, Mengikat Realitas Tidak Terbatas (To Apeiron to Ateipov)

Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja (Guru Toge)

MajmusSunda News, Senin (07/09/2026) – Artikel Berjudul “Filsafat Bersumber dari Agama, Mengikat Realitas Tidak Terbatas (To Apeiron to Ateipov)” ini ditulis Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja/Pensiunan Guru Toge. Penulis merupakan Pinisepuh Pamangku Sunda/ Majelis Musyawarah Sunda, di dunia Industri (Textile,Bank, Perkebunan) pernah menjadi GM.Finance, GM.HRD, dan Direktur HRD di Rumah Sakit. Di dunia Pendidikan pernah menjadi Wakil Rektor bid.Kemahasiswaan &Alumni, Wakil Rektor bid.Sumberdaya dan Legal.

Berasal kata Philos Sophia atau cinta kebijaksanaan, berhubungan erat dan bersangkut paut dengan apa yang dinamakan Pengetahuan, sifatnya mendalam atau berakar (mencari pemecahan sampai soal terakhir/In Sight) dapat menentukan apa yang harus ditentukan dalam persoalan tersebut, seperti Filsafat Moral disebut juga Ethika Trancendental.

Ruang dialog menjadi tempat akal budi bertemu, mengurai realitas, dan mencari jalan menuju kebenaran. – (Sumber: Ernawan S Koesoemaatmadja)

Sedangkan Bijaksana, mengetahui seluk-beluk Realitas individu dan masyarakat dalam integritas kedalamnya, dari hal yang segala ada dan yang terjadi, mencari dasar dari segala dasar, mencari tanggapan manusia (Weltanschauung) yang tidak berlawanan dengan azas yang logis (menurut Mantik), serta memahamkan Dunia dan Akhirat, yang hidup dan yang mati, yang ada dan yang jadi pemandangan dari satu azas yang berpusat pada satu kebenaran, yang ditimbulkan oleh Logika, fikiran yang lurus, untuk mencari Pengetahuan yang benar, menunjukkan jalan yang cepat dan tepat untuk mengetahui sesuatu hal. (Tidak menunjukkan Apa yang mesti difikirkan, melainkan Bagaimana), yang memuaskan pada tuntunan Akal dan perasaan manusia.

Dipengaruhi oleh Relativisme, Positivisme, Altruisme, dan Utilitarisme, menuju hal-hal yang berfaedah, dan bisa mengetahui keadaan suatu pemetaan atau Expresi tertinggi dari tanggapan manusia, yang lebih mendalam, yang terjadi dalam, dengan persentuhan atau dalam, dan dengan kesatuan manusia dengan realitas. (Kebutuhan akan pengertian) yang dicapai dengan akal budi murni, tidak berhenti pada fenomena-fenomena, tetapi pada azas Realitas, meskipun pangkal tolaknya selalu pengalaman-pengalaman yang Sensitif Rasional, menjaga jangan sampai timbul Egoisme, berfikir tanpa dipengaruhi orang lain, sehingga berfikir kritis.

Merupakan suatu realitas, bagi tumbuh dan berkembangnya hidup kita, penting pengaruhnya terhadap sikap dan pandangan orang, karena memberikan sebab-sebab terdalam mengenai hakikat manusia dan alam semesta, serta penciptanya, ALLOOH SWT. Tuhan Semesta Alam.

Sampai saat ini, orang-orang di belahan timur, Agama itu dianggap sama (Identik), padahal Filsafat berkembang karena Agama, Filsafat timbul karena Agama, dan berkembang bersama pemikiran Agama, untuk menunjukkan bukan hanya ungkapan dari Perasaan (Level of Thought), dan tidak bertumbuh pada suatu Agama.

Agama titik tolaknya adalah Wahyu dari ALLOOH SWT., sebagai Anugerah dan Karunia Tuhan, hasil pada yang dikerjakan/dititahkan pada yang semestinya, dan mengendap pada Akal budi, mengolah segala sesuatu yang terdapat dalam ruang lingkup pengalaman dan adab manusia (Biologis, Psikologis, Intelektual, Rational, Ekonomis, Sosiologis, dll.).

Persoalan Agama adalah sama, bertumbuh pada Wahyu, dan Filsafat pada akal budi, berfikir cara baru, terlepas dari takhayul dan dongeng serta meluaskan fikiran yang sehat. (Aufklarung).

Dalam menghadapi jalan buntu dalam realitas tidak terbatas, Filsafat menyerahkan pada Agama untuk menyelesaikannya, karena TUHAN/ALLOOH SWT. adalah Sumber segala realitas, dan adanya perpaduan antara En-Soi dan Pour-Soi.

===== 00000 =====

***

Judul: Filsafat Bersumber dari Agama, Mengikat Realitas Tidak Terbatas (To Apeiron to Ateipov)
Penulis: Ernawan S Koesoemaatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *