Debu: Dari Kansas, Krakatau, dan Sebuah Pertanyaan tentang Kita

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Senin (07/09/2026) Ada sebuah lagu yang menemani masa remaja saya dan tetap tinggal dalam ingatan hingga hari ini, yaitu Dust in the Wind, lagu Kansas yang hadir pada akhir 1970-an. Dahulu, saya mendengarnya sebagai lagu yang sederhana dan indah. Petikan gitar akustiknya mengalir tenang, suaranya seperti datang dari kejauhan, membawa cerita tentang debu yang diterbangkan angin. Pada usia itu, hidup masih terasa panjang. Hari-hari seperti jalan yang masih jauh ujungnya, sementara debu hanyalah sebuah kata dalam lagu. Waktu belum mengajarkan bahwa ada kalimat-kalimat yang baru menemukan kedalamannya setelah usia membawa kita cukup jauh.

Beberapa hari terakhir, kabar tentang aktivitas Anak Krakatau di Selat Sunda seperti mengetuk kembali pintu ingatan itu. Abu vulkanik terangkat dari perut bumi, kemudian dibawa angin ke ruang yang luas. Dari sana, ingatan saya melangkah kepada Krakatau pada 1883, ketika letusan besar mengguncang Selat Sunda dan tsunami menyapu pesisir Jawa dan Sumatra. Gunung itu runtuh, tetapi kehidupan tidak berhenti. Dari kaldera yang tersisa, bumi kemudian menumbuhkan gunung baru yang kita kenal sebagai Anak Krakatau. Seolah alam sedang memperlihatkan bahwa sesuatu yang tampak sebagai akhir dapat menjadi awal bagi bentuk kehidupan yang lain.

Ada keheningan tertentu pada abu. Ia pernah menjadi bagian dari sesuatu yang besar, keras, dan kokoh, lalu berubah menjadi butiran kecil yang kehilangan bentuk asalnya. Batu pecah, tubuh gunung terurai, kemudian angin membawanya tanpa suara. Tidak ada penjelasan dari alam tentang semua itu. Ia hanya berjalan menurut hukumnya sendiri. Yang keras menjadi rapuh, yang tinggi dapat runtuh, yang utuh terurai, lalu kembali menjadi bagian dari bumi. Dalam diamnya, abu seperti menyimpan sebuah rahasia tua tentang segala sesuatu yang kita kira akan menetap.

Manusia pun hidup di antara hukum yang sama, hanya sering merasa dirinya memiliki waktu yang lebih panjang. Kita mengumpulkan nama, jabatan, rumah, harta, pengetahuan, bahkan penghormatan dari orang lain. Perlahan semuanya menyatu dengan cara kita mengenali diri sendiri. Kita mulai merasa bahwa apa yang kita miliki adalah siapa diri kita. Padahal waktu bekerja dengan sangat tenang. Ia tidak mengambil semuanya sekaligus. Ia hanya menggeser satu demi satu apa yang pernah terasa begitu dekat, sampai suatu hari kita berdiri lebih sunyi di hadapan diri sendiri dan bertanya, dari semua yang pernah saya genggam, apa yang sungguh-sungguh akan ikut ketika saya harus pergi?

Di ruang kesadaran seperti itu, bahasa Al-Qur’an terasa memperoleh kedalaman yang lain. Surat Ibrahim ayat 18 menyebut ramad, atau abu yang diterbangkan angin, sebagai perumpamaan bagi amal orang-orang yang berpaling dari Tuhan. Surat Al-Furqan ayat 23 menghadirkan haba’an mantsura yang bsrarti sesuatu yang berhamburan seperti debu. Kata-kata itu telah lama berada di dalam mushaf. Tetapi manusia yang membacanya terus berubah. Ada saat ketika sebuah ayat hanya menjadi pengetahuan, dan ada saat ketika kehidupan menghadirkannya kembali dalam bentuk yang begitu dekat. Abu Anak Krakatau seperti membuat sebuah kata lama kembali bernapas.

Lalu Dust in the Wind terdengar kembali dengan telinga yang berbeda. Lagu yang dahulu menemani masa remaja kini seperti membawa percakapan yang lebih jauh. Debu tidak lagi hanya berada dalam sebuah lagu. Ia hadir dalam abu Krakatau, dalam batu yang pecah, dalam tubuh manusia yang perlahan menua, dalam nama yang suatu hari akan berhenti disebut, dan dalam segala sesuatu yang pernah kita anggap akan tinggal bersama kita selamanya. Gunung yang tampak perkasa pun memiliki waktunya sendiri untuk berubah. Demikian pula manusia, hanya saja kita sering terlalu sibuk menjalani hari hingga lupa bahwa kita pun sedang bergerak menuju bentuk yang lain.

Krakatau telah menjadi abu, lalu dari kalderanya tumbuh Anak Krakatau. Lagu lama tetap tinggal, sementara pendengarnya berubah. Ayat tetap pada tempatnya, sementara manusia yang membacanya datang dan pergi. Kehidupan rupanya memiliki cara yang lembut untuk berbicara kepada kita. Ia tidak selalu menggunakan kata-kata. Kadang melalui gunung yang mengeluarkan abu, lagu lama yang tiba-tiba terdengar kembali, atau sebutir debu yang menempel di kaca jendela. Semuanya seperti mengajak kita berhenti sejenak dari kesibukan menjadi sesuatu, lalu bertanya lebih dalam tentang siapa kita sebenarnya.

Dan ketika debu akhirnya kembali kepada tanah, yang paling sunyi bukanlah berlalunya dunia, melainkan kesadaran bahwa kita pernah berada di dalamnya begitu singkat. Kita datang tanpa membawa apa-apa, lalu menghabiskan sebagian usia untuk mengumpulkan banyak hal yang kelak kita tinggalkan. Maka yang perlu kita pelajari bukan bagaimana menjadi sesuatu yang abadi, melainkan bagaimana menjadi hamba yang sadar bahwa dirinya fana. Sebab di hadapan Yang Mahakekal, gunung dan manusia sama-sama akan kehilangan bentuknya. Yang tersisa bukan seberapa tinggi kita pernah berdiri, melainkan apa yang telah kita tanam selama diberi kesempatan untuk hidup. Dan ketika angin membawa debu menjauh dari tempatnya semula, terasa semakin jelas bahwa seluruh perjalanan ini bukan tentang bagaimana kita dapat tinggal selamanya di dunia, melainkan bagaimana, setelah segala sesuatu luruh, kita tetap memiliki jalan untuk pulang kepada-Nya.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Debu: Dari Kansas, Krakatau, dan Sebuah Pertanyaan tentang Kita
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *