MajmusSunda News, Sabtu (05/09/2026) – Selepas subuh, air mata saya berlinang. Ada kenangan yang tiba-tiba datang begitu saja, mengingatkan saya kepada sahabat senior, almarhum Kang Prof. Rizal Syarif. Dari banyak hal yang pernah beliau sampaikan, ada satu kata sederhana yang hingga kini masih tinggal dalam ingatan saya, hampuraeun, yaitu mudah memaafkan. Saya sendiri tidak sedang marah atau terluka kepada dan oleh siapa pun. Namun pagi ini, kata itu kembali terngiang dan membawa saya pada satu perenungan kecil tentang manusia, tentang rasa yang kadang sulit dilepaskan, dan tentang bagaimana kita memilih untuk menyimpannya.
Ketika seseorang memperlakukan kita dengan cara yang tidak semestinya, rasa marah tentu saja manusiawi. Ada saat ketika hati ingin orang itu mengerti bagaimana rasanya berada di posisi kita. Bahkan ada keinginan agar ia merasakan sesuatu yang setimpal, atau lebih dari itu. Perasaan semacam itu barangkali pernah singgah dalam diri siapa saja. Ia dapat berhenti sebagai rasa sesaat, tetapi dapat pula tumbuh menjadi keinginan untuk membalas, bahkan terbawa ke dalam doa.
Padahal, semakin lama direnungkan, ada sesuatu yang melelahkan dari keinginan agar orang lain merasakan apa yang kita rasakan. Kita seperti terus mengikat diri pada sebuah peristiwa yang sebenarnya sudah berlalu. Sementara orang yang kita pikirkan belum tentu tahu bahwa namanya masih kita bawa dalam percakapan batin kita sendiri. Pada akhirnya, yang terus memikul beban itu bukan orang lain, melainkan diri kita.
Barangkali di situlah memaafkan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar melupakan. Ia bukan berarti mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah benar. Ia hanya sebuah keputusan kecil untuk tidak membiarkan apa yang dilakukan orang lain menentukan bagaimana kita menjalani hari-hari berikutnya. Ada sesuatu yang perlahan menjadi ringan ketika perhatian kita tidak lagi tertuju pada apa yang seharusnya diterima orang lain, melainkan pada apa yang masih dapat kita perbaiki dalam diri sendiri.
Dan kehidupan ternyata memiliki cara yang lembut untuk mengalihkan perhatian itu. Kesehatan yang berangsur lebih baik, rezeki yang datang dari arah yang tidak disangka, keluarga yang semakin menenteramkan, pekerjaan yang kembali memberi arti, atau ibadah yang terasa lebih dekat di dalam kesunyian. Hal-hal sederhana semacam itu kadang membuat kita sadar bahwa hidup masih menyediakan begitu banyak alasan untuk bersyukur, tanpa harus menunggu seseorang yang pernah menyakiti kita mengalami sesuatu yang buruk.
Pada akhirnya, kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana Tuhan menyelesaikan sebuah urusan. Yang kita kira harus diselesaikan melalui keadaan orang lain, dapat saja perlahan selesai melalui perubahan dalam diri kita sendiri. Yang dahulu membuat dada terasa sesak, pada suatu waktu hanya tinggal sebagai ingatan. Bukan karena peristiwa itu tidak pernah terjadi, melainkan karena kita telah tumbuh melampauinya. Barangkali, justru dari sana seorang hamba menemukan bahwa sesuatu yang pernah membuatnya terlukai dapat menjadi bagian dari cara hidup mengajarinya menjadi lebih matang, lebih lapang, dan lebih dekat kepada kebaikan.
Pagi ini saya kembali teringat pada hampuraeun yang pernah disampaikan Kang Rizal. Saya kira, mudah memaafkan bukan perkara menjadi lebih tinggi daripada orang lain. Ia lebih sederhana dari itu, yaitu memilih untuk tidak menjadikan kesalahan seseorang sebagai bagian permanen dari hidup kita. Kita tidak perlu melihat orang lain terpuruk untuk merasa diri telah baik-baik saja. Cukup melihat diri sendiri yang perlahan menjadi lebih sehat, lebih tenang, lebih bersyukur, lebih dekat kepada keluarga, dan lebih dekat kepada-Nya. Dan pada saat itu, barangkali kita akan tersenyum sendiri, karena sesuatu yang dahulu terasa berat ternyata telah membawa kita ke tempat yang jauh lebih baik.
Al fatihah untuk kang Rizal Syarif.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Bukan Dia yang Harus Terpuruk, Tapi Kita yang Menjadi Lebih Baik
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












