Gunung Padang: Dari Kadatuan Menjadi Kabuyutan (Bagian 2: Masa Kerajaan Sunda)

Oleh: Dendi Hadidi

MajmusSunda News, Jawa Barat, Rabu (02/09/2026) – Untuk memahami hipotesis bahwa Gunung Padang pernah menjadi sebuah Kadatuan, kita perlu mundur ke era ketika Kerajaan Tarumanagara mengalami tekanan besar dari Kerajaan Sriwijaya di Sumatra.

Lima Nama dalam Fragmen Carita Parahyangan

Sumber primer paling mencolok dalam kajian ini adalah kutipan dari naskah Fragmen Carita Parahyangan, yang menyebut sebuah struktur bernama “Sri Kadatwan” dengan lima nama: Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati. Nama-nama ini secara sepintas mengingatkan pada tokoh Pandawa Lima dalam epos Mahabharata.

Dendi Hadidi, Budayawan. – (Sumber: MMS)

Namun ada kejanggalan menarik: jika mengikuti urutan usia Pandawa Lima yang sebenarnya, seharusnya Punta Dewa (Yudistira) disebut lebih dulu, bukan Bima. Urutan yang semestinya adalah Punta, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa. Kejanggalan urutan inilah yang menjadi titik tolak dugaan bahwa penulis naskah kuno tersebut sebenarnya tidak sedang menceritakan legenda Pandawa Lima secara harfiah, melainkan menggunakannya sebagai simbolisasi struktur bangunan.

Dalam pembacaan ini, sosok Bima yang dikenal sebagai simbol kekuatan dan keperkasaan diposisikan sebagai simbol pondasi utama dari sebuah kompleks bangunan besar, sebuah “Kadatuan Agung”. Susunan lima nama tersebut kemudian dicocokkan dengan kondisi arsitektur berundak Situs Gunung Padang, yang secara struktur memang tersusun dari beberapa teras bertingkat.

Tekanan dari Sriwijaya dan Lahirnya Sundasembawa

Sekitar tahun 686 Masehi, Kerajaan Sriwijaya melakukan penyerangan dan pendudukan atas sebagian wilayah Kerajaan Tarumanagara, termasuk merebut Pelabuhan Sunda Kelapa yang vital bagi jalur perdagangan. Menghadapi tekanan ini, Maharaja Tarusbawa beserta rakyatnya diduga mundur ke wilayah selatan, meninggalkan Sundapura sebagai ibu kota lama.

Di wilayah selatan itulah—yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Cianjur—Maharaja Tarusbawa disebut merevitalisasi kembali sebuah Kadatuan peninggalan leluhurnya, yang diberi nama Sundasembawa. Nama Kadatuan ini sama persis dengan lima nama yang muncul dalam Fragmen Carita Parahyangan: Bima, Punta, Narayana, Madura, Suradipati. Secara morfologi, susunan Kadatuan ini bahkan diduga menggambarkan miniatur pulau Jawa dan Bali.

Dari titik inilah, Maharaja Tarusbawa disebut mengubah nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda, dengan Sundasembawa sebagai ibu kota barunya.

Akar Konflik: Rantai Pasok Beras

Menariknya, konflik antar-kerajaan pada masa itu tidak melulu soal perebutan kekuasaan simbolik, tetapi diduga kuat berakar dari persoalan ekonomi: terganggunya rantai pasok komoditas utama, yaitu beras. Berpisahnya Maharaja Wretikandayun dari Tarumanagara (yang kemudian membentuk Kerajaan Galuh) mengurangi wilayah pertanian padi Tarumanagara secara signifikan, yang pada gilirannya menurunkan volume pengiriman gabah atau beras ke wilayah Sumatra komoditas yang sangat dibutuhkan oleh Sriwijaya.

Dinamika inilah yang menjelaskan mengapa Sriwijaya sampai perlu melancarkan penyerangan langsung: bukan semata ekspansi wilayah, melainkan upaya mengamankan pasokan pangan bagi kerajaan maritim mereka.

Kabuyutan Gunung Samaya Mulai Disebut

Pada masa Kerajaan Sunda ini pula, nama sebuah tempat suci mulai muncul dalam catatan: Kabuyutan Gunung Samaya. Nama ini akan menjadi kunci penting untuk memahami transisi fungsi Gunung Padang pada babak selanjutnya, ketika Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh bersatu kembali menjadi Kerajaan Pajajaran.

Bersambung ke Bagian 3: Dari Kadatuan Menjadi Kabuyutan di Masa Pajajaran.

***

Judul: Gunung Padang: Dari Kadatuan Menjadi Kabuyutan (Bagian 2: Masa Kerajaan Sunda)
Penulis: Dendi Hadidi
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *