MajmusSunda News, Kamis (27/08/2026) – Ada sesuatu yang terasa ganjil ketika embun mulai merindukan rerumputan. Bukan karena embun tidak boleh dekat dengan rumput, sebab setiap pagi keduanya memang bertemu dalam diam. Tetapi alam telah mengajarkan sebuah susunan yang sederhana, embun jatuh, rerumputan menerima. Embun memberi kesejukan, rerumputan menyimpan kesegaran. Lalu apa yang terjadi ketika yang semestinya memberi justru mulai menunggu untuk diberi, yang semestinya membimbing mulai menanti untuk diarahkan, dan yang semestinya menjadi tempat bertumbuh justru menentukan ke mana pertumbuhan harus dibawa.
Begitulah beberapa hubungan manusia perlahan berubah tanpa kita sadari. Orang tua lebih banyak menimbang keinginan anak daripada nilai yang diyakininya sendiri. Guru terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan kemauan murid sampai kehilangan keberanian untuk mengatakan bahwa sesuatu tidak baik. Mendengarkan anak tentu bukan kesalahan, sebagaimana guru belajar dari murid juga bukan sesuatu yang tercela. Yang muda dapat saja mengetahui lebih banyak tentang zamannya. Tetapi mendengarkan adalah satu hal, menyerahkan arah kepada kehendak orang lain adalah hal yang berbeda.
Yang lebih mengusik adalah ketika perubahan itu lahir bukan dari kebijaksanaan, melainkan dari ketakutan. Takut hidup menjadi sulit, takut kehilangan kenyamanan, takut tidak lagi dibutuhkan, takut anak pergi, takut murid memilih guru lain, bahkan takut pendapatan berkurang. Ketika ketakutan seperti itu perlahan menjadi dasar sebuah hubungan, seseorang dapat tetap tersenyum sambil melepaskan sedikit demi sedikit sesuatu yang dahulu dijaganya sebagai martabat. Ia tidak merasa sedang menukar adab dengan kenyamanan, sebab pertukaran semacam itu sering berlangsung sangat halus.
Lalu uang masuk ke dalam hubungan yang semestinya lebih tinggi daripada uang. Anak yang memiliki daya ekonomi lebih besar mulai merasa memiliki suara yang lebih menentukan di rumah. Murid yang membayar lebih banyak mulai merasa memiliki hak lebih besar untuk menentukan bagaimana guru harus bersikap. Pada titik tertentu, bukan lagi usia yang dihormati, bukan pengetahuan yang didengarkan, bukan ketulusan yang dinilai, melainkan siapa yang memiliki daya tawar lebih besar. Seolah-olah kehidupan memiliki hukum baru, siapa yang memegang uang lebih banyak, dialah yang berhak menentukan arah.
Padahal rumah bukan pasar, dan guru bukan sekadar penyedia jasa. Hubungan anak dengan orang tua memiliki sejarah yang tidak dapat dihitung dengan nominal. Hubungan murid dengan guru pun menyimpan sesuatu yang tidak selesai hanya karena biaya telah dibayarkan. Uang dapat membeli layanan, tetapi tidak membeli keteladanan. Ia dapat menghadirkan kenyamanan, tetapi tidak otomatis menghadirkan penghormatan. Ketika segala sesuatu mulai dihitung dengan angka, ada nilai-nilai yang justru menjadi semakin mahal karena tidak lagi dihargai.
Yang lebih menyedihkan bukan ketika seseorang kehilangan banyak harta, melainkan ketika ia begitu takut kehilangan harta sampai bersedia kehilangan susunan adab yang semestinya dijaga. Yang tua tidak selalu benar, tetapi ketuaannya memiliki tempat yang patut dihormati. Yang muda tidak selalu salah, tetapi kemudaan tidak semestinya menjadi alasan untuk menguasai. Guru tidak selalu mengetahui segala sesuatu, tetapi keterbatasannya tidak menghapus kehormatan ilmu. Murid boleh bertanya dan bahkan kelak melampaui gurunya, tetapi ilmu tidak tumbuh subur ketika rasa hormat telah digantikan oleh daya tawar.
Karena itu saya kembali kepada embun. Ia jatuh kepada rerumputan tanpa merasa lebih tinggi, dan rerumputan menerimanya tanpa merasa lebih berkuasa. Keduanya tidak pernah menghitung siapa yang memberi lebih banyak dan siapa yang memiliki lebih banyak. Mungkin manusia justru sedang kehilangan sesuatu yang dahulu membuat hidupnya teduh, ketika rumah berubah menjadi arena tawar-menawar, sekolah menjadi ruang negosiasi kepentingan, dan penghormatan mengikuti arah uang. Sebab keberkahan sering kali tidak pergi dengan suara keras. Ia hanya menjauh perlahan, ketika manusia mulai membalik sesuatu yang sejak awal telah ditata dengan begitu halus oleh Tuhan.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Seperti Embun yang Rindu pada Rerumputan: Ketika Orang Tua Takut Kehilangan Anak, dan Guru Takut Kehilangan Murid
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












