Wisatabumi Nusantara Seri #60: “Bumi Cirebon dan Bukti Evolusi Ciremai yang Berkelindan dengan Budaya Pesisir”

Oleh: Oman Abdurahman

Wisatabumi Nusantara

MajmusSunda News – Bandung, Selasa (25/08/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-60 dengan membedah konfigurasi spasial, warisan geologi purba, hingga kekayaan budaya di wilayah Kabupaten dan Kota Cirebon melalui pisau analisis geoliterasi. Diuraikan antara lain sisa-sisa magmatisme Tersier melalui kronologi dasit Gunung Kuda, lava basal-andesit Batu Lawang, formasi reservoar vulkanogenik Jatibarang di bawah Arjawinangun, siklus transgresi-regresi pembentuk batugamping terumbu Kromong, hidrotermal Palimanan, fosil vertebrata di Formasi Gintung, keragaman hayati Kura-kura Belawa, hingga jejak peradaban klasik pesisir serta khazanah kuliner lokal. Integrasi narasi kebumian ini ditujukan sebagai maklumat ekologis guna menegakkan daulat hukum tata ruang lindung demi menjaga keselarasan multiwarisan itu di gerbang timur Tatar Sunda.

SINOPSIS: Esai lima paragraf ini membedah konfigurasi spasial, warisan geologi purba, hingga kekayaan budaya di wilayah Kabupaten dan Kota Cirebon melalui pisau analisis geoliterasi. Diuraikan antara lain sisa-sisa magmatisme Tersier melalui kronologi dasit Gunung Kuda, lava basal-andesit Batu Lawang, formasi reservoar vulkanogenik Jatibarang di bawah Arjawinangun, siklus transgresi-regresi pembentuk batugamping terumbu Kromong, hidrotermal Palimanan, fosil vertebrata di Formasi Gintung, keragaman hayati Kura-kura Belawa, hingga jejak peradaban klasik pesisir serta khazanah kuliner lokal. Integrasi narasi kebumian ini ditujukan sebagai maklumat ekologis guna menegakkan daulat hukum tata ruang lindung demi menjaga keselarasan multiwarisan itu di gerbang timur Tatar Sunda.

Wisatabumi Nusantara
Batu Lawang, Cirebon, Jawa Barat, salah satu jejak vulkanisme purba dalam evolusi geologi Cirebon.
Foto: Anis Fatin/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

1. Kronologi Magmatisme Tersier: Dari Dasit Gunung Kuda Menuju Ciremai Modern

Bentang alam Cirebon memancarkan pesona geowisata yang luar biasa karena menyimpan rekam jejak aktivitas evolusi vulkanisme regional melintasi koridor waktu yang panjang. Urutannya dimulai pada Kala Tersier Akhir melalui pembekuan kubah dasit tua di Gunung Kuda, sebelum akhirnya suksesi magma bergeser membangun Kompleks Gunung Api Kromong purba yang lava andesit-basaltisnya membeku masif di tebing Batu Lawang dengan menyeret inklusi dasit, serentak dengan mencuatnya gunung api pinggiran pembawa lava di kawasan Gunung Jati serta endapan lahar di Walahar. Seluruh material sisa rombakan piroklastik dari fase awal evolusi vulkanisme pra-Ciremai ini perlahan terendapkan di cekungan dalam menjadi Formasi Jatibarang—satu sedimen vulkanogenik (volcanogenic sedimentary rock) yang bertindak sebagai reservoar minyak dan gas bumi yang sangat produktif di Arjawinangun. Jalur magmatisme ini kemudian bermigrasi ke arah selatan melewati fase vulkanisme senyap antara, sebelum akhirnya melahirkan aktivitas raksasa Gunung Api Pra-Ciremai pembentuk Kaldera Gegerhalang era Pleistosen, yang di atas lantai runtuhannya kini berdiri kerucut aktif Gunung Ciremai; yang dalam perjalanannya meninggalkan jejak maar—sebuah kawah dari gunung api yang tak jadi—yang kemudian terisi air menjadi danau, yaitu Setu Patok di Mundu dengan Pulo Tengah di tengahnya, jejak cinder cone dari maar tersebut.

2. Hidrotermal Palimanan, Transgresi Batugamping Kromong, dan Misteri Fosil Formasi Gintung

Turun menuju zona transisi dataran rendah, keragaman geologi Cirebon kian kaya melalui kehadiran fenomena hidrotermal dan rekahan eksogen akibat kontrol struktur patahan aktif lokal di kaki perbukitan Kromong. Pasca-fase gunung api besar Tersier mereda, lajur Kromong sempat mengalami siklus transgresi di mana permukaan laut naik menggenangi tubuh gunung api kuno tersebut, memicu tumbuh suburnya koloni koral yang menyisakan endapan batugamping terumbu sedikit menempel di tubuh batuan beku yang terendam, sebelum akhirnya proses regresi tektonik mengangkat dasar samudra dangkal ini kembali menjadi daratan modern. Jejak samudra Tersier ini kian sahih mencuat ke permukaan melalui penemuan warisan paleontologi berupa fosil gigi hiu purba berumur Miosen di perbukitan sedimen lajur Waled bagian timur, yang posisinya kontras bersandingan dengan singkapan fosil megafauna vertebrata Pleistosen di dalam Formasi Gintung yang lapisan makam purbanya telah terkubur di bawah selimut tebal material letusan katastrofik purba Kaldera Gegerhalang. Di kawasan Cipanas Palimanan saat ini, menyembul mata air panas bumi kaya belerang yang membentuk teras-teras travertin putih tepat di atas batugamping terumbu terangkat tersebut melintasi patahan sesar regional.

3. Benteng Keanekaragaman Hayati Lahan Basah, Pantai, dan Plasma Nutfah Belawa

Pertemuan antara limpahan material vulkanik purba Kromong di hulu dan sedimen aluvial pesisir di hilir melahirkan ekosistem lahan basah dan garis pantai yang menopang keanekaragaman hayati yang sangat unik. Di wilayah daratan basahnya, Cirebon merawat plasma nutfah endemik dunia yang sangat langka melalui Kura-kura Belawa (Amyda cartilaginea) di Lemahabang. Biota ini adalah sejenis labi-labi air tawar purba dilindungi yang populasinya dijaga ketat di kolam keramat masyarakat adat setempat. Sementara di sepanjang garis pantai utaranya, vegetasi hutan bakau (mangrove) bertindak sebagai spons alami penahan abrasi ombak Laut Jawa sekaligus tempat bersarangnya koloni burung rawa dan kepiting bakau. Keseimbangan biotik ini menunjukkan bahwa dinamika pasokan air tawar dari lereng gunung api dan pasang surut air laut telah mendesain pesisir Cirebon sebagai sabuk hijau pelindung yang tangguh.

4. Lajur Peradaban Batu Lava Gunung Jati, Memori Kebudayaan, dan Kuliner Pesisir

Jalinan arsitektur bumi purba tersebut berbanding lurus dengan kekayaan warisan budaya yang membentang kuat dari era kesultanan hingga peradaban modern masyarakat pesisir. Di utara Kota Cirebon, kompleks perbukitan yang mencuatkan sisa batuan lava purba di kawasan Gunung Jati dan Bukit Sembung secara vulkanologi dianalisis kritis sebagai sisa aktivitas gunung api pinggiran (peripheral vent) yang tumbuh prematur dan tak jadi meraksasa di sepanjang lajur patahan pinggiran saat Kompleks Kromong bertindak sebagai pusat magmatisme utama era pra-Ciremai. Keunikan struktur batuan beku andesit-basaltis pesisir yang kokoh dan resisten dari kepungan sedimentasi aluvial ini dipilih secara cerdas oleh para leluhur sebagai tapak suci permakaman Sunan Gunung Jati, membuktikan manusia kuno selalu menyelaraskan pusat spiritualitas dengan titik kekuatan fondasi geologi rupa bumi. Kecerdasan adaptasi arsitektur ini kian nyata di jantung kota melalui kompleks Gua Sunyaragi, sebuah situs taman air berlorong eksotis yang strukturnya direkayasa manual dari susunan batu karang laut dangkal eksogen hasil pengangkutan dari lajur pantai kuno, lalu bersinkronisasi spiritual melintasi kemegahan Keraton Kasepuhan dan Kanoman hingga identitas rasio kuliner khas berupa Empal Gentong tanah liat dan Nasi Jamblang berbungkus daun jati (Tectona grandis).

5. Epilog: Daulat Hukum Tata Ruang sebagai Benteng Pertahanan Ekologis

Pada akhirnya, pelacakan geoliterasi kritis ini membawa kita pada satu kesimpulan tajam bahwa merawat atau mengonservasi warisan bumi adalah harga mati kedaulatan masa depan. Membiarkan tebing lava purba Batu Lawang dihancurkan oleh industri tambang semen tanpa kendali, atau membiarkan kawasan mangrove pesisir diurug secara serakah untuk kepentingan komersial, adalah bentuk kecerobohan nyata yang mengundang datangnya bencana rob dan amblesan tanah di wilayah hilir. Kegigihan dalam merawat memori budaya Sunan Gunung Jati, keunikan arsitektur karang Sunyaragi, dan kelestarian Kura-kura Belawa pada dasarnya harus berjalan seiring dengan ketegasan hukum tata ruang cagar alam geologi. Menegakkan daulat tata ruang lindung di sepanjang poros Kromong hingga pesisir Cirebon adalah manifesto bela negara yang mutlak, sebab dari keandalan sains kebumian hulu dan kemurnian bentang alam hilir inilah, keselamatan ruang, ketahanan pangan, dan kehormatan Negara Kesatuan Republik Indonesia menghadapi tantangan zaman.

#WisatabumiNusantara #GeoliterasiKritis #OmanAbdurahman #GeowisataCirebon #FormasiJatibarangArjawinangun #LavaBatuLawang #FosilHiuMiosenWaled #ReservoirMigasVulkanik #KuraKuraBelawa #LavaGunungJati #TransgresiKromong #FormasiGintungFosil #GuaSunyaragiKarangBuatan #EmpalGentongJamblang #TataRuangLindung

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: Wisatabumi Nusantara Seri #60: “Bumi Cirebon dan Bukti Evolusi Ciremai yang Berkelindan dengan Budaya Pesisir”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *