Wisatabumi Nusantara Seri #57: “Cakrawala Cekungan Citanduy Tengah-Hilir: Dari Tambaksari ke Karst Ciamis Selatan lewat Rawa Lakbok di Banjar”

Oleh: Oman Abdurahman

Wisatabumi Nusantara

MajmusSunda News – Bandung, Selasa (25/08/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-57 dengan mengajak pembaca menelusuri konfigurasi spasial dan geo-kultural di sepanjang Cekungan Citanduy Tengah-Hilir melalui pisau analisis geoliterasi. Diuraikan mata rantai alamiah yang menghubungkan kekayaan paleontologi situs purba Tambaksari, titik pertemuan hidrologi sungai, dinamika kelokan meander di Kota Banjar, warisan Rawa Lakbok, hingga labirin gua batugamping di Ciamis Selatan. Melalui inventarisasi keanekaragaman hayati hulu-hilir, rekaman sejarah pengeringan lahan di masa kolonial, “Pulo Majeti” dan legendanya, serta ketangguhan tradisi Kampung Adat Kuta, integrasi narasi kebumian ini ditujukan sebagai maklumat bela negara ekologis guna perlindungan kawasan Priangan Timur.

SINOPSIS: Esai lima paragraf ini membedah konfigurasi spasial dan geo-kultural di sepanjang Cekungan Citanduy Tengah-Hilir melalui pisau analisis geoliterasi. Diuraikan mata rantai alamiah yang menghubungkan kekayaan paleontologi situs purba Tambaksari, titik pertemuan hidrologi sungai, dinamika kelokan meander di Kota Banjar, warisan Rawa Lakbok, hingga labirin gua batugamping di Ciamis Selatan. Melalui inventarisasi keanekaragaman hayati hulu-hilir, rekaman sejarah pengeringan lahan di masa kolonial, “Pulo Majeti” dan legendanya, serta ketangguhan tradisi Kampung Adat Kuta, integrasi narasi kebumian ini ditujukan sebagai maklumat bela negara ekologis guna perlindungan kawasan Priangan Timur.

1. Fosil Tambaksari yang Terlupakan dan Pertemuan Cijolang-Citanduy

Penjelajahan geoliterasi di koridor Citanduy Tengah-Hilir ini bermula dari Kecamatan Tambaksari, sebuah cekungan sedimentasi Kuarter yang menyimpan arsip paleontologi terkaya di Tatar Sunda, namun kerap terlupakan oleh memori publik. Lapisan lempung dan batupasir purba di Tambaksari bertindak sebagai kapsul waktu yang mengunci fosil-fosil vertebrata darat zaman Pleistosen, mulai dari gading gajah purba (Stegodon), kuda nil, kura-kura, hingga jejak hunian manusia prasejarah. Dinamika geologi daratan tua ini mengalir ke arah selatan menuju titik pertemuan hidrologi yang sangat strategis, yaitu percabangan antara Sungai Cijolang dan Sungai Citanduy. Pertemuan dua urat nadi air tawar ini bukan sekadar batas administratif alami antara Jawa Barat dan Jawa Tengah, melainkan zona transisi rupabumi dan geologi vital yang mengontrol pasokan sedimen aluvial dan menandai awal perubahan karakter sungai menuju dataran rendah yang luas.

2. Meander Citanduy, Rawa Lakbok, “Pulo Majeti”, dan Gua-Gua Ciamis Selatan

Selepas melewati titik pertemuan sungai, aliran air memasuki dataran wilayah Kota Banjar, di mana tubuh Sungai Citanduy mulai melebar dan melambat akibat penurunan gradien topografi, memaksa alirannya membentuk kelokan meander tapal kuda yang ikonik, memasok lumpur subur yang berbatasan langsung dengan hamparan Rawa Lakbok, sebuah ekosistem lahan gambut eutrof hutan hujan tropis purba terluas di Pulau Jawa yang bertindak sebagai pengatur neraca hidrologi regional. Dulu, di tengahnya, ada pulau (pulo), Pulo Majeti, kini—setelah rawa itu kering—sudah menyatu. Poros bentang air dataran rendah ini berlanjut ke selatan hingga berbatasan dengan formasi bentangan perbukitan batugamping karst Ciamis Selatan yang berbatasan dengan Pangandaran. Struktur bawah tanah di kawasan selatan ini melahirkan labirin gua-gua alam eksotis, di mana aliran sungai bawah tanah mengalir tersembunyi di balik kegelapan batuan kapur purba, menyaring tetesan air menjadi mata air jernih penyokong kehidupan sosiologis masyarakat di hilirnya.

3. Flora dan Fauna Hutan Larangan, Citanduy Tengah-Hilir, dan Biota Karst

Kekayaan keanekaragaman hayati kawasan ini juga tinggi, yang tersebar di tiga zona ekosistemnya. Di zona hulu, Tambaksari, dipenuhi flora hutan hujan tropis dataran tinggi dan pohon khas aren raksasa, kayu keras langka, serta tumbuhan obat-obatan yang dirawat secara sakral di dalam Leuweung Gede. Di kawasan hutan adat, Hutan Larangan ini, juga terdapat ayam hutan, surili, dan kijang. Sementara di sepanjang aliran meander Citanduy hingga rawa-rawa hilir dihuni oleh biota langka dan mungkin endemik Tatar Sunda seperti ikan-ikan: sepat siam, bentrik, beunteur, dan ikan baong, serta ikan deleg dan bogo (jenis-jenis ikan gabus rawa) yang bertahan di sela-sela akar vegetasi air; dan berbagai jenis burung rawa-rawa seperti kuntul, burung mandar, kareo padi, dan blekok sawah. Masuk ke kawasan karstnya, didapati koloni kelelawar, burung walet, hingga biota gua khusus seperti jangkrik gua tanpa mata dan udang gua transparan yang sepenuhnya bergantung pada kemurnian tetesan air tanah.

Wisatabumi Nusantara
Rumah Kampung Adat Kuta di Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Foto: Edi Supena, 2021. Sumber: Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.

4. Tradisi Masyarakat Kampung Adat Kuta, Sejarah Pengeringan, dan Tinggalan Arkeologi

Dimensi keragaman budaya di kawasan ini terwujud melalui ketangguhan pranata sosial masyarakat Kampung Adat Kuta di Tambaksari, yang mempertahankan arsitektur rumah panggung kayu tanpa tembok sebagai bentuk adaptasi cerdas terhadap labilnya tanah; dan Leuweung Gede sebagai hutan adat, leuweung larangan atau hutan lindung. Memori kultural ini bersanding erat dengan sejarah agraria regional, ketika Belanda pada 1924 melakukan pengeringan raksasa atas Rawa Lakbok melalui sodetan kanal untuk mengubah rawa sedalam 10 meter itu menjadi hamparan lumbung padi modern. Dari Banjar ini juga terkenal dongeng atau legenda Rawa Onom Lakbok, dan Siluman Pulo Majeti, serta ikan Bogo Purba, yaitu cerita rakyat dari masa ketika Lakbok masih berupa rawa luas; apa yang tersisa kini adalah kesakralan kawasan Pulo Majeti dengan pamali (larangan)-nya, yang dari sudut pandang ekosistem bermanfaat sebagai sebuah upaya perlindungan lingkungan. Jauh sebelum era kolonial, jejak interaksi antara manusia dan alam telah terekam melalui tinggalan arkeologi penting di dalam gua-gua karst Ciamis Selatan, seperti di Situs Gua Aul yang menyimpan perkakas batu purba.

5. Epilog: Konservasi Daerah Langka di Pulau Jawa

Pada akhirnya, pelacakan geoliterasi kritis dari pedalaman Tambaksari hingga perbukitan karst Ciamis Selatan menegaskan sebuah maklumat penting bahwa keselamatan masa depan Tatar Galuh sepenuhnya bergantung pada ketegasan kita dalam merawat bentang alam nonvulkanik yang langka di Pulau Jawa ini. Integrasi antara pemeliharaan situs fosil hulu, penjagaan kelestarian hutan larangan Kampung Kuta, perawatan rawa gambut Lakbok yang langka, serta perlindungan kawasan gua batugamping merupakan satu kesatuan pertahanan lingkungan yang tidak boleh dipecah-pecah demi ambisi eksploitasi jangka pendek. Membiarkan bukit batu kapur dikupas atau mengeringkan sisa ekosistem air tawar adalah langkah mundur yang mengancam hancurnya pasokan air bersih bagi generasi masa depan. Menegakkan daulat hukum tata ruang lindung di sepanjang Cekungan Citanduy Tengah-Hilir ini adalah manifesto bela negara yang nyata, sebab dari kelestarian poros air tawar inilah kehormatan dan kedaulatan lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia ditaruhkan.

#WisatabumiNusantara #GeoliterasiKritis #OmanAbdurahman #CekunganCitanduy #SitusTambaksari #RawaLakbok #KarstCiamisSelatan #GuaAul #KampungAdatKuta #BelaNegaraEkologis #KedaulatanEkologis #TataRuangLindung #PrianganTimur

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: Wisatabumi Nusantara Seri #57: “Cakrawala Cekungan Citanduy Tengah-Hilir: Dari Tambaksari ke Karst Ciamis Selatan lewat Rawa Lakbok di Banjar”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *