Wisatabumi Nusantara Seri #56: “Sukabumi sekitaran Kota: Dari Goalpara ke Bibijilan Menengok ‘Bambu Keberuntungan’, Ikan Hias, dan Mata Air Panas yang Terlupakan”

Oleh: Oman Abdurahman

Wisatabumi Nusantara

MajmusSunda News – Bandung, Selasa (25/08/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-56 dengan mengajak pembaca menengok kawasan Sukabumi Utara sekitaran Kota Sukabumi, dari Goalpara hingga Bibijilan, melalui perspektif geoliterasi yang membedah kedaulatan geologis, geografis, dan ekologis wilayah tersebut. Diuraikan untaian jalinan kausalitas antara bentangan hijau lereng bawah Gunung Gede-Pangrango, tanah yang subur, sumber air yang jernih, mikroklimat yang sejuk, Perkebunan Teh Goalpara, eksotisme ekosistem Selabintana, Situ Gunung, jejak hidrotermal kuno Cibadak yang mulai terlupakan, singkapan eksotis batupasir dan batubara ikonik, kegelapan lorong Gua Siluman, hingga parade riam basah Air Terjun Bibijilan; berikut pemanfaatan semuanya saat ini.

SINOPSIS: Esai lima paragraf ini membedah kedaulatan geologis, geografis, dan ekologis di sepanjang teritorial Sukabumi Utara sekitaran Kota Sukabumi melalui pisau analisis geoliterasi kritis. Diuraikan untaian jalinan kausalitas antara bentangan hijau lereng bawah Gunung Gede-Pangrango, tanah yang subur, sumber air yang jernih, mikroklimat yang sejuk, Perkebunan Teh Goalpara, eksotisme ekosistem Selabintana, Situ Gunung, jejak hidrotermal kuno Cibadak yang mulai terlupakan, singkapan eksotis batupasir dan batu bara ikonik, kegelapan lorong Gua Siluman, hingga parade riam basah Air Terjun Bibijilan; berikut pemanfaatan semuanya saat ini. Integrasi narasi kebumian ini ditujukan sebagai maklumat bela negara ekologis guna menegakkan daulat hukum tata ruang konservasi demi menjaga keselamatan lingkungan serta kehormatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1. Di Utara pun Bumi Sukabumi Beragam

Evolusi alam di kawasan yang mencakup Kota Sukabumi dan sekitarnya ini menyajikan sebuah tatanan bumi yang beragam. Kerangka alam wilayah utara ini tidak hanya didominasi oleh material vulkanik Kuarter, melainkan juga beririsan langsung dengan singkapan formasi batuan sedimen purba dan sistem hidrologi bawah tanah yang eksotis. Mulai dari pelataran hijau berhawa sejuk di kaki gunung, lembah yang dalam, cekungan danau alami, mata air panas, singkapan ikonik batupasir dan batubara, kawasan karst dan gua-gua, hingga air terjun bertingkat pada batu kapur, seluruhnya terhampar membentuk mozaik lanskap spasial yang menakjubkan. Karakteristik fisik Bumi yang sangat variatif dan bergelombang ini secara paralel berkelindan serasi dengan tingginya kekayaan hayati hutan hujan tropis serta jejak kebudayaan, terutama di sektor perkebunan dan pariwisata alam.

2. Dari Lereng Gede, Mata Air Panas Terlupakan, Sedimen Ikonik, Gua dan Karst, hingga Air Terjun Bertingkat

Fondasi fisik batuan di teritorial Sukabumi Utara ini dikontrol ketat oleh kombinasi magmatisme aktif lereng selatan Gunung Gede dan endapan sedimen tua. Sektor atas dikunci oleh keasrian lereng subur hasil pelapukan batuan vulkanik, Goalpara, di timur, dan Selabintana di tengah, bersanding transversal bersama cekungan air alami Situ Batu Karut di timur, dan Situ Gunung serta lembah curam di Cisaat di barat. Di zona lembah, terdapat empat sistem hidrotermal berupa mata air panas; dua di antaranya pada masa kolonialisme Belanda sangat terkenal, kini terlupakan, yaitu mata air panas Cipanas dan Bojongkoneng di Cibadak; dan dua lainnya di dekat kota: Cikundul dan Santa. Di dekat koridor tersebut, terdapat batuan berumur Eosen hingga Oligosen yang ikonik dan menjadi laboratorium alam yang sangat vital bagi studi stratigrafi dan energi: sedimen klastik pebbly sandstone dan lapisan batubara dari Formasi Walat di Cibadak dan Cicantayan. Perjalanan memuncak secara dramatis saat memasuki eksotisme endokarst Gua Siluman atau Gua Buniayu yang memiliki aliran sungai bawah tanah eksotis, yang setelah keluar membentuk terjunan air kolosal bertingkat setinggi seratus meter: Curug Bibijilan. Gua dan air terjun itu berada di kawasan karst Buni Ayu, Nyalindung, satu dari tiga kawasan, di mana yang dua lagi adalah karst Gunung Guha yang sudah ke arah tengah; dan Bukit Karang Para, Gunungguruh, karst sempit tetapi unik dekat kota.

Wisatabumi Nusantara
Perkebunan teh Goalpara, Priangan.
Sumber: Collectie Wereldmuseum/Tropenmuseum, TMnr 10011935 – Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.

3. Sabuk Hutan Hujan Tropis TNGGP, dan Rumah Satwa Endemik

Kelimpahan pasokan air dan tanah vulkanik yang subur memicu keanekaragaman yang tinggi di ekosistem Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) sektor Sukabumi yang menempati mayoritas, 38,5%. Hutan primer yang rimbun dengan tegakan pohon rasamala, puspa, jamuju, serta saninten ini berfungsi sebagai pengendali air alami. Di Selabintana, hidup pohon legenda, karena berumur sudah lebih dari satu setengah abad: sepasang Karet Kebo (Ficus elastica); berpadu dengan jenis “bambu” komoditas ekspor: “Lucky Bamboo” (Dracaena sanderiana) yang sebenarnya tanaman hias. Pohon Pala (Myristica fragrans), maskot flora Kota Sukabumi, juga tumbuh; serta Getah perca (Palaquium gutta) yang ada hanya di Cipetir, sebagai maskot flora Kabupaten Sukabumi. Karena sumber air pegunungan yang konstan jernih, di Cisaat hidup berbagai jenis ikan hias. Di hutan hijau tropis itu juga hidup satwa langka seperti Owa Jawa, Surili, Elang Jawa, Julang emas, hingga predator puncak Macan Tutul Jawa.

4. Perkebunan, Wisata Klasik, Wisata Minat Khusus, dan Wisata Modern Situ Gunung Jembatan Gantung

Pada dimensi sosiokultural, Sukabumi Utara ini sangat kaya dan lintas zaman. Jejak sejarah ditandai dengan eksistensi tempat wisata Perkebunan Teh Goalpara yang dibangun sejak 1886, di mana sisa arsitektur rumah administrator dan gudang lamanya masih berdiri; bersanding wisata klasik menikmati keindahan dan kesejukan Batu Karut dan Selabintana. Di lokasi terakhir tersebut kini semarak dengan usaha ekspor “bambu hoki” yang sebenarnya tanaman hias jenis Dracaena; sebagaimana di Cisaat berkembang industri rumahan jual beli “ikan hias”. Ada juga wisata minat khusus, berbasis alam, seperti caving di Gua Buni Ayu; dan shower climbing dan canoeing di air terjun Bibijilan yang terdiri atas tujuh tingkat dengan total tinggi mencapai seratus meter. Berperahu di danau Situ Gunung kerap dianggap beratmosfer lebih mistis, magis, dan sunyi. Ada juga wisata yang lebih modern seperti Wisata Alam Karangpara atau Situ Gunung Suspension Bridge yang terdiri atas dua trek dengan total mencapai tujuh ratus meter setinggi seratus dua puluh meter. Kulinernya tak kalah menarik, mulai dari sarapan Bubur Ayam Sukabumi, Nasi Uduk Ungu, dan Soto Mie Agih, atau camilan Kue Mochi Kaswari, Roti Priangan, Sekoteng Singapore, Sagon Bakar Ciaul, atau Kue Jahe Sukabumi, dan kuliner khusus malam hari: Bandros Ata.

5. Epilog: Menegakkan Disiplin Ruang Berbasis Konservasi

Menatap masa depan ruang Tatar Sukabumi Utara, Kota dan sekitarnya hingga Cibadak menuntut pembacaan ulang yang kritis terhadap jalinan fisis dinamika Bumi dan aktivitas antropogenik di atas permukaan tanahnya. Kawasan ini bukan sekadar destinasi wisata komersial yang pasif, melainkan sebuah lingkungan dengan daya tampung dan daya dukung yang memiliki batas. Berkaitan dengan itu, maka ketersediaan air bagi warganya harus menjadi perhatian yang utama. Berikutnya, kenyamanan ruang, termasuk udara, untuk semuanya hidup di sana, harus pula menjadi program utama. Pengabaian terhadap kelestarian keragaman geologi, hayati, dan budaya akan mengundang bencana berupa banjir, longsor dan kekeringan atau bencana lainnya. Maka, menegakkan hukum tata ruang berbasis disiplin konservasi terpadu akhirnya wajib dijadikan tolok ukur utama di sana. Hal ini juga menjadi ukuran sejauh mana kecerdasan manusia modern mampu menghormati garis batas alam demi mewariskan lingkungan yang aman bagi keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

#GeowisataNusantara #Seri56_SukabumiUtaraGoalpara #PerkebunanTehGoalpara1886 #SelabintanaSituGunung #MataAirPanasCibadak #SingkapanBatuBaraLangka #GuaSilumanCitalaha #HutanRasamalaGedePangrango #GeoliterasiSainsSastrawi #SeruanKonservasiHulu #KedaulatanLingkunganNKRI

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: Wisatabumi Nusantara Seri #56: “Sukabumi sekitaran Kota: Dari Goalpara ke Bibijilan Menengok ‘Bambu Keberuntungan’, Ikan Hias, dan Mata Air Panas yang Terlupakan”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *