Ketika Kita Melihat Seseorang Jatuh

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Senin (24/08/2026) Ada saat ketika kita melihat seseorang jatuh karena kesalahannya. Ia harus berhadapan dengan aturan, dengan pertanggungjawaban, bahkan dengan hukuman. Dari tempat kita berdiri, kejatuhannya tampak begitu jelas. Kita dapat melihat retaknya nama baik, runtuhnya kepercayaan, dan pintu-pintu yang perlahan tertutup. Tetapi di tengah semua itu, saya justru terdiam pada satu pertanyaan yang terasa lebih dekat kepada diri sendiri, bagaimana jika suatu hari Allah menempatkan saya di tempat yang sama?

Saya teringat sebuah hadis yang pernah saya baca. Rasulullah Muhammad SAW, sedang berhadapan dengan seseorang yang melakukan kesalahan berulang kali. Ketika ada yang melaknatnya, Rasulullah berkata, “ Janganlah kalian melaknatnya. Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang dia kecuali bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya_” Saya selalu merasa ada sesuatu yang dalam dalam kalimat itu. Rasulullah tidak mengatakan bahwa perbuatannya benar. Hukuman tetap berjalan. Tetapi satu kesalahan tidak dibiarkan menghapus seluruh manusia yang ada di balik kesalahan itu.

Barangkali manusia memang terlalu cepat merasa aman ketika melihat orang lain tergelincir. Kita berdiri di tanah yang masih kering, lalu mengira kaki kita tidak akan pernah basah. Padahal kita tidak pernah tahu dari arah mana air kehidupan akan datang, batu mana yang kelak membuat langkah kehilangan keseimbangan, atau ujian apa yang membuka kelemahan yang selama ini kita kira tidak ada. Bisa jadi yang membedakan kita dari orang yang sedang jatuh bukan karena kita lebih kuat, melainkan karena ujian yang serupa belum mengetuk pintu kita.

Jika seseorang memang bersalah, biarlah hukum berjalan sebagaimana mestinya. Keadilan tidak perlu dikurangi hanya karena kita merasa kasihan. Tetapi setelah hukum berbicara, untuk apa kita masih menambahkan batu kepada orang yang sudah tersungkur? Untuk apa kesalahannya kita jadikan tontonan, aibnya menjadi percakapan, dan penderitaannya menjadi hiburan? Manusia yang sedang kita lihat dari kejauhan itu masih membawa nama yang sama di hadapan Tuhan, seorang hamba yang pintu pulangnya belum tentu tertutup.

Saya membayangkan ada ruang dalam diri setiap manusia yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun. Di sana mungkin ada penyesalan yang tidak terdengar, air mata yang tidak diketahui, dan percakapan panjang antara seorang hamba dengan Tuhannya. Kita hanya melihat apa yang tampak di luar. Allah melihat sesuatu yang bahkan tidak sanggup kita lihat dalam diri kita sendiri. Karena itu, rasanya terlalu jauh jika kita merasa telah mengetahui seluruh cerita seseorang hanya dari kesalahan yang terlihat di permukaan.

Dan jika suatu hari kita yang jatuh, barangkali kita baru memahami mengapa manusia membutuhkan belas kasih bahkan ketika ia harus mempertanggungjawabkan kesalahannya. Kita tentu tidak berharap orang lain membenarkan dosa kita. Kita hanya berharap masih ada seseorang yang tidak menjadikan kesalahan kita sebagai alasan untuk menganggap seluruh hidup kita sia-sia. Sebab kita semua membawa sesuatu yang tidak diketahui orang lain, kelemahan yang disembunyikan, kesalahan yang disesali, dan rahasia yang hanya Allah tahu.

Maka ketika melihat seseorang jatuh, saya ingin belajar menahan diri dari perasaan lebih tinggi. Saya ingin tetap menyebut kesalahan sebagai kesalahan, tetapi tidak merasa lebih suci karenanya. Sebab boleh jadi orang yang sedang jatuh itu sedang berjalan menuju Allah dengan langkah yang tidak pernah kita lihat, sementara kita yang masih berdiri justru sedang diuji dengan sesuatu yang lebih halus, merasa aman dari kejatuhan. Pada akhirnya, barangkali bukan hanya bagaimana seseorang jatuh yang perlu kita renungkan, tetapi bagaimana hati kita berubah ketika melihatnya jatuh. Sebab cara kita memandang manusia dalam kelemahannya, bisa jadi sedang memperlihatkan kepada kita sendiri seperti apa hati kita di hadapan Tuhan.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Ketika Kita Melihat Seseorang Jatuh
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *