Seperti Tubuh dan Gaun yang Tersingkap di Sebuah Taman

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Sabtu (22/08/2026) – Di satu sudut taman saya melihat kerikil, rumput, bunga dan langit. Pagi itu, semuanya seperti sedang berbicara dalam diamnya masing-masing. Kerikil tetap menjadi kerikil, rumput tumbuh rendah di sela-selanya, bunga membawa warna, sementara langit membentang begitu luas tanpa pernah merasa perlu menjelaskan keluasan dirinya. Tidak ada yang tampak sedang berlomba menjadi lebih tinggi. Saya memandangnya cukup lama, lalu terlintas bahwa manusia pun tumbuh dalam taman yang serupa. Kita menerima tanah, air, cahaya dan waktu yang sama, tetapi ketika ilmu tumbuh di dalam diri, tidak selalu lahir buah yang serupa. Ada pengetahuan yang menjadi teduh, ada yang berubah menjadi mahkota, dan ada pula yang diam-diam mengajarkan pemiliknya cara berdiri di atas kepala orang lain.

Ilmu memang dapat menjadi cahaya, tetapi cahaya tidak selalu menentukan ke mana seseorang berjalan. Dengan pengetahuan, manusia dapat menemukan obat bagi penyakit, tetapi dengan pengetahuan pula ia dapat menemukan cara menjadikan penderitaan sebagai pasar. Dengan kecerdasan, pintu yang tertutup dapat dibuka, tetapi pintu yang sama dapat dipelajari untuk dikunci dari dalam. Pengetahuan tidak selalu bertanya untuk apa ia digunakan. Manusialah yang membawanya ke suatu arah. Di tangan yang jernih, ia menjadi jalan bagi kehidupan. Di tangan yang dikuasai hasrat, ia dapat menjadi alat yang begitu halus sehingga sesuatu yang seharusnya memalukan perlahan tampak layak dibanggakan.

Ada saat ketika sesuatu yang semula luhur mulai dibuka sedikit demi sedikit. Bukan karena nilainya berkurang, tetapi karena manusia menemukan keuntungan ketika sesuatu yang seharusnya dijaga mulai dipertontonkan. Keindahan pun dapat kehilangan kesuciannya ketika mata tidak lagi melihatnya sebagai keindahan, tetapi sebagai kesempatan. Demikian pula ilmu. Ia dapat menjadi cahaya yang dibagikan tanpa menghitung siapa yang akan menerimanya, tetapi dapat pula menjadi sesuatu yang hanya diberikan kepada mereka yang sanggup membayar dengan uang, kedudukan, pengaruh, atau kedekatan. Pada saat itu, yang berubah bukan ilmu. Yang berubah adalah manusia yang mulai membuka apa yang semestinya dijaga, lalu menyebut keterbukaan itu sebagai keberhasilan.

Ada sesuatu yang lebih mensyahwatkan lagi. Ketika ilmu telah mengetahui bahwa sebuah jalan membawa keburukan, tetapi kecerdasan justru digunakan untuk mencari alasan agar jalan itu tetap dapat dilalui. Di sana pengetahuan tidak lagi mencari kebenaran, melainkan menjadi pengacara bagi kepentingan. Kata-kata disusun semakin indah, angka-angka dipilih semakin cermat, argumen dibangun semakin meyakinkan, sampai hati yang semula tahu bahwa ada sesuatu yang keliru perlahan belajar untuk tidak lagi merasa bersalah. Pada titik itu, keburukan tidak perlu lagi disembunyikan. Ia cukup diberi istilah yang lebih sopan, dibungkus dalam kalimat yang lebih akademis, lalu dipertontonkan dengan wajah yang meyakinkan.

Barangkali di sinilah ilmu dapat kehilangan wajah manusianya. Ketika tubuh dan gaun tidak lagi memiliki batas yang jelas antara yang patut dijaga dan yang sengaja disingkapkan, ketika pesona menjadi alat pertukaran, ketika kedekatan menjadi mata uang, dan ketika kehormatan dapat berpindah tangan mengikuti besarnya kepentingan, yang tersisa bukan lagi nilai, melainkan transaksi. Yang membedakan bukan pakaian, gelar, bahasa, atau ruang tempat seseorang berdiri. Sebab seseorang dapat tampak sangat terhormat di hadapan banyak mata, sementara diam-diam sedang menyingkap sesuatu yang paling berharga dari dirinya untuk kenikmatan yang hanya sebentar.

Di hadapan keadaan seperti itu, kerikil, rumput, bunga dan langit terasa seperti pelajaran yang jauh lebih tua daripada buku-buku. Kerikil tidak perlu menjadi bunga untuk memiliki tempat. Rumput tidak perlu meninggalkan tanah untuk membuktikan nilainya. Bunga tidak membutuhkan langit turun untuk menjelaskan keindahannya. Langit pun tidak perlu mengambil apa yang berada di bawahnya untuk menunjukkan keluasan. Mereka tidak sibuk menyingkap diri demi memperoleh pengakuan. Mereka hadir dalam keteraturan yang tidak menghitung harga dirinya di hadapan yang lain. Manusia justru dapat kehilangan sesuatu yang paling dalam ketika segala sesuatu mulai dilihat melalui harga, termasuk ilmu, kehormatan, bahkan dirinya sendiri.

Maka pertanyaan yang tersisa bukan lagi seberapa tinggi pendidikan, seberapa luas pengetahuan, atau seberapa banyak pengakuan yang berhasil dikumpulkan. Pertanyaannya jauh lebih sunyi dan mungkin lebih menyakitkan. Apa yang sebenarnya sedang disingkap ketika ilmu telah kehilangan arah? Ketika pengetahuan dipakai untuk memperoleh kenikmatan, kecerdasan dipakai untuk membenarkan kepentingan, dan martabat diserahkan kepada sesuatu yang nilainya lebih rendah daripada kehormatan itu sendiri, apa yang sesungguhnya membedakan kemuliaan dari kehinaan. Sebab yang membuat manusia mulia bukan karena ia mampu mengetahui lebih banyak, melainkan karena pengetahuannya masih membuatnya mampu menutup pintu bagi dirinya sendiri ketika sesuatu yang indah di luar sana justru mengundangnya untuk kehilangan dirinya. Dan mungkin di situlah taman itu kembali berbicara dalam diamnya. Kerikil tetap menjadi kerikil, rumput tetap dekat dengan tanah, bunga tetap memberikan harum tanpa meminta harga, dan langit tetap luas tanpa menjual keluasan. Hanya manusia yang dapat begitu pandai mempelajari segala sesuatu, lalu lupa bahwa ada satu hal yang tidak pernah boleh disingkapkan kepada kepentingan apa pun kecuali martabat jiwanya sendiri di hadapan-Nya.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Seperti Tubuh dan Gaun yang Tersingkap di Sebuah Taman
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *