MajmusSunda News, Rabu (19/08/2026) – Pagi ini sambil minum teh di paviliun rumah, sengaja saya memutar lagu _Morning Has Broken_-nya Cat Stevens, lagu lama yang juga mengingatkan masa kecil saya. Lagu itu pertama kali saya dengar tahun 1970-an dari tape yang mengalun di kamar kakak saya. Ada sesuatu yang berbeda ketika lagu lama diperdengarkan kembali setelah puluhan tahun. Nada yang dahulu hanya terdengar sebagai musik, kini terasa membawa pengalaman hidup yang jauh lebih panjang. Pagi pun tidak lagi sekadar pergantian malam menjadi siang. Ia hadir sebagai kesempatan untuk menyadari kembali bahwa kehidupan masih berlangsung, udara masih dapat dihirup, cahaya masih dapat diterima mata, dan manusia masih diberi waktu untuk memulai hari dengan kesadaran yang baru.
Al-Qur’an mempunyai ungkapan yang sangat halus tentang pagi, _was-subhi idza tanaffas_, dan ketika pagi yang bernafas. Alam memang memiliki saat-saat ketika perubahan tidak perlu dijelaskan dengan banyak kata. Gelap berangsur surut, warna langit berubah, suara burung mulai terdengar, embun perlahan menghilang, dan kehidupan bergerak kembali dengan ritmenya masing-masing. Seorang seniman menangkap keadaan itu melalui kepekaan yang mungkin tidak dimiliki semua orang. Ia melihat sesuatu yang secara fisik sederhana, tetapi menemukan pengalaman batin yang kemudian dapat dirasakan orang lain melalui lukisan, musik, puisi, atau lagu.
Di situlah sebuah lagu dapat memiliki kekuatan yang melampaui bunyi. _Morning Has Broken_ tidak membutuhkan persoalan besar untuk menyampaikan sesuatu yang dalam. Ia berbicara tentang pagi, kesegaran awal hari, keindahan alam, rasa syukur, dan kekaguman terhadap kehidupan. Kekuatan lagu tersebut justru terletak pada kesederhanaannya. Pagi yang setiap hari kita lihat dapat kembali terasa baru ketika seseorang mampu memperhatikannya dengan hati yang berbeda. Musik kemudian memberi bentuk pada pengalaman itu, sehingga sesuatu yang semula hanya dirasakan oleh penciptanya dapat memasuki kehidupan orang lain yang hidup pada tempat, zaman, dan pengalaman yang berbeda.
Barangkali di sinilah saya melihat hubungan yang menarik dengan dunia akademik. Setiap hari begitu banyak makalah ilmiah ditulis, jurnal diterbitkan, konferensi diselenggarakan, teori dikembangkan, dan temuan penelitian dipresentasikan. Semua itu penting bagi perkembangan ilmu. Namun sebuah lagu yang lahir dari beberapa menit perenungan tentang pagi dapat tinggal dalam ingatan manusia selama puluhan tahun, sementara sebuah makalah ilmiah yang dikerjakan berbulan-bulan dapat selesai dibaca setelah halaman terakhir ditutup. Bukan karena lagu lebih ilmiah atau makalah kurang penting. Perbedaannya terletak pada sesuatu yang lebih dalam. Sebuah tulisan dapat sangat benar secara metodologis, tetapi belum tentu memiliki hubungan batin dengan apa yang ditulis oleh orang yang menyusunnya.
Ilmu membutuhkan ketelitian, tetapi manusia yang mengerjakannya juga membutuhkan kepekaan. Seorang akademisi dapat sangat cermat membaca angka, tetapi tetap melewatkan manusia yang berada di balik angka itu. Dapat sangat fasih menjelaskan keberlanjutan, tetapi tidak lagi merasakan perubahan lingkungan di sekitarnya. Dapat menulis tentang pendidikan, tetapi kehilangan kegembiraan ketika melihat seorang murid menemukan pengetahuannya sendiri. Dapat menghasilkan banyak tulisan tentang kehidupan, tetapi tidak sempat mengalami kehidupan yang sedang ditulisnya. Di sinilah persoalannya bukan terletak pada banyak atau sedikitnya publikasi, melainkan pada apakah ilmu yang ditulis masih mempunyai hubungan dengan kesadaran orang yang menuliskannya.
Lagu juga mengingatkan bahwa pengalaman yang sederhana tidak selalu menghasilkan pemikiran yang sederhana. Pagi dapat menjadi bahan renungan seorang seniman. Secangkir teh dapat menghadirkan kembali masa kanak-kanak. Sebuah melodi lama dapat mempertemukan seseorang dengan dirinya yang dahulu. Akademisi pun sesungguhnya hidup di tengah begitu banyak bahan ilmu yang belum tentu berada di dalam buku. Pasar, sawah, ruang kelas, keluarga, jalan yang dilalui setiap hari, percakapan dengan mahasiswa, bahkan perubahan cahaya pada suatu pagi dapat membuka pertanyaan yang tidak ditemukan dalam daftar pustaka. Ilmu menjadi lebih manusiawi ketika orang yang mengembangkannya masih memiliki kemampuan untuk memperhatikan.
Maka pagi tidak perlu selalu diberi makna yang besar. Ia cukup dijalani dengan mata yang lebih terbuka dan batin yang tidak terlalu penuh oleh urusan sendiri. _Morning Has Broken_ mengingatkan bahwa sesuatu yang berulang setiap hari tetap dapat melahirkan rasa syukur ketika manusia tidak kehilangan kepekaan. Bagi seorang akademisi, barangkali ini juga menjadi bagian dari tanggung jawab intelektualnya. Bukan hanya menghasilkan tulisan yang benar, tetapi menjaga agar apa yang ditulis masih mempunyai hubungan dengan kehidupan yang hendak dipahaminya. Sebab ilmu yang paling lama tinggal dalam diri manusia tidak selalu yang paling banyak halaman dan catatan kakinya. Kadang ia lahir dari kemampuan sederhana untuk melihat pagi, mendengarkan sebuah lagu, lalu menyadari bahwa kehidupan yang selama ini diteliti ternyata sedang berlangsung di hadapan mata.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Morning Has Broken
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












