Merdeka, Ekonomi dan Bisnis Indonesia

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Selasa (18/08/2026) Delapan puluh satu tahun merdeka, Indonesia telah tumbuh menjadi negeri dengan ekonomi yang jauh lebih besar. Jalan terbentang, kota meninggi, kawasan industri meluas, teknologi bergerak cepat, dan angka pertumbuhan memberi kita alasan untuk bersyukur. Tetapi semakin besar sebuah negeri, barangkali semakin dalam pula pertanyaan yang perlu dibawanya. Di antara angka pertumbuhan dan kehidupan yang nyata, ada ruang yang patut kita masuki dengan sedikit keheningan. Apakah kemajuan telah tumbuh bersama rasa keadilan. Di balik gedung yang semakin tinggi, masih ada ruang hidup yang semakin sempit. Di balik investasi yang bertambah, ada tanah, sungai, hutan dan pesisir yang ikut menanggung akibatnya. Barangkali kemerdekaan ekonomi bukan hanya tentang kemampuan menghasilkan kekayaan, tetapi tentang kebijaksanaan memperlakukan kekayaan.

Kekayaan negeri ini telah ada jauh sebelum kita datang dan, insya Allah, akan tetap ada setelah kita pergi. Hutan, laut, mineral, tanah dan energi bukan sekadar angka dalam neraca perdagangan. Di dalamnya ada kehidupan, kebudayaan, keseimbangan ekologis dan hak generasi yang belum lahir. Kita membutuhkan pertumbuhan, tentu saja. Tetapi mungkin sesekali pertumbuhan perlu bertanya kepada dirinya sendiri, sampai di mana ia harus berhenti. Sungai yang berubah warna, hutan yang semakin terbuka, pesisir yang bergeser dan tanah yang kehilangan daya dukungnya adalah catatan yang tidak ditulis di atas kertas. Ia tertulis pada kehidupan. Mungkin bumi tidak sedang menolak pembangunan. Ia hanya sedang menunjukkan bahwa setiap pengambilan memiliki batas yang suatu hari akan kembali kepada manusia.

Di ruang kekuasaan, pertanyaan itu menjadi semakin penting. Demokrasi telah memberi mandat kepada mereka yang mengelola negara, tetapi mengelola negeri sebesar Indonesia tentu tidak pernah sederhana. Ada kebutuhan pembangunan, tuntutan investasi, kepentingan masyarakat, kekuatan modal dan berbagai suara yang datang dari segala arah. Barangkali kekuasaan tidak selalu membutuhkan jawaban yang lebih banyak. Sesekali ia membutuhkan ruang sunyi untuk bertanya kepada dirinya sendiri, untuk siapa sebenarnya kekuasaan itu dijalankan. Sebab semakin besar kewenangan, semakin panjang pula jarak yang dapat tercipta dari kehidupan rakyat. Dan mungkin justru di situlah kebijaksanaan diuji, ketika seorang penguasa masih mampu mendengar suara yang tidak datang melalui ruang rapat, suara yang tidak membawa proposal, tidak membawa kepentingan, bahkan tidak tahu bagaimana mengetuk pintu kekuasaan.

Dunia usaha memiliki bahasa yang berbeda. Ia berbicara tentang keuntungan, efisiensi, pertumbuhan dan keberanian mengambil risiko. Semua itu diperlukan agar ekonomi bergerak. Tetapi ada satu kata yang mungkin tidak terlalu sering hadir dalam bahasa bisnis, yaitu cukup. Ketika keuntungan tidak lagi mengenal batas, alam mudah berubah menjadi sekadar bahan baku dan manusia menjadi angka dalam laporan. Pasar memang tidak pernah berhenti meminta lebih. Karena itu, pertanyaan tentang batas mungkin justru perlu datang dari kesadaran yang lebih dalam daripada sekadar mekanisme pasar. Tidak semua yang dapat diambil harus diambil. Tidak semua yang dapat dimiliki harus dimiliki. Sebab pada suatu titik, pertumbuhan yang kehilangan rasa cukup dapat berubah dari berkah menjadi beban.

Dunia akademik, ilmu dan pengetahuan pun memiliki ruang perenungannya sendiri. Kita memiliki kampus, pusat penelitian, jurnal, seminar dan begitu banyak forum akademik. Kita begitu tekun membaca dunia, mengukurnya, memodelkannya dan menjelaskannya. Tetapi sesekali mungkin ilmu perlu bertanya kepada dirinya sendiri, apakah ia telah cukup dekat dengan kehidupan yang dibacanya. Ada sungai yang terus berubah ketika penelitian tentang lingkungan terus bertambah. Ada masyarakat yang masih mencari jalan keluar ketika seminar tentang pembangunan berkelanjutan terus diselenggarakan. Ada kebijakan yang membutuhkan pengetahuan ketika pengetahuan justru masih sibuk memperdebatkan dirinya sendiri. Barangkali ilmu tidak kekurangan kecerdasan. Ia hanya perlu lebih sering menyentuh kenyataan, agar pengetahuan tidak berhenti menjadi sesuatu yang terutama menyenangkan mereka yang memilikinya.

Mungkin persoalan Indonesia bukan kekurangan kekayaan, melainkan kedalaman dalam mengelolanya. Pertumbuhan tanpa pemerataan dapat melahirkan jarak. Investasi tanpa tanggung jawab dapat meninggalkan beban. Kekuasaan tanpa perenungan dapat kehilangan arah. Ilmu tanpa kedekatan dengan kenyataan dapat kehilangan daya hidup. Dan kekayaan tanpa rasa cukup dapat membuat manusia terus mengambil, bahkan ketika bumi mulai menunjukkan batas kemampuannya. Semua itu bukan semata persoalan ekonomi. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam, yaitu bagaimana manusia memandang dirinya sendiri ketika berada di antara kekuasaan, kekayaan dan pengetahuan.

Maka setelah 81 tahun merdeka, barangkali pertanyaan terpenting bukan hanya seberapa tinggi Indonesia harus tumbuh, tetapi menjadi seperti apa kita ketika pertumbuhan itu tercapai. Kepada penguasa, kekuasaan mungkin menjadi lebih bermakna ketika sesekali sunyi dan mendengar. Kepada akademisi, ilmu mungkin menjadi lebih hidup ketika berani keluar dari kenyamanan ruangnya dan menyentuh kenyataan. Kepada dunia usaha, kekayaan mungkin menjadi lebih mulia ketika mengenal batas. Dan kepada kita semua, kemerdekaan mungkin memiliki makna yang lebih dalam ketika kita bukan hanya bebas untuk memiliki dan menguasai, tetapi juga memiliki kebijaksanaan untuk menjaga. Sebab Indonesia bukan sekadar ekonomi yang sedang tumbuh. Ia adalah rumah yang sedang kita wariskan. Kita datang dengan tangan yang menerima banyak hal dari generasi sebelumnya, dan suatu hari akan pergi dengan tangan yang sama. Barangkali pertanyaan terpenting yang tersisa bukan berapa banyak yang telah kita ambil dari negeri ini, melainkan apakah ketika kita meninggalkannya, masih cukup banyak yang dapat diberikan kepada mereka yang datang setelah kita.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Merdeka, Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *