MajmusSunda News, Senin (17/08/2026) – Tujuh belas Agustus kali ini, di tengah bangsa Indonesia gegap gempita merayakan hari kemerdekaannya yang ke-81, pikiran saya tidak tertuju pada baliho besar, pada dekorasi warna merah putih yang memenuhi jalan-jalan dan halaman gedung negara, tidak juga terlalu sibuk membayangkan pakaian adat Nusantara yang akan dikenakan. Pikiran saya justru tertambat pada seorang perempuan Sunda bernama Inggit Garnasih. Seorang perempuan yang pernah berdiri begitu dekat dengan perjalanan seorang lelaki yang kelak namanya memenuhi buku-buku sejarah, tetapi namanya sendiri seakan berjalan sedikit di belakang sejarah itu. Bukan karena ia tidak penting, justru karena sejarah sering lebih sibuk mencatat siapa yang sampai di gerbang daripada siapa yang mengantarnya sampai ke sana.
Ketika Soekarno masih muda, ketika namanya belum menjadi nama yang diteriakkan jutaan orang, Inggit hadir bukan sekadar sebagai seorang istri. Ia memilih meninggalkan kehidupan bersama suaminya, Haji Sanusi, lalu berjalan bersama Kusno, nama kecil Soekarno. Ia hadir ketika cita-cita lelaki itu belum memiliki bentuk yang jelas. Ia bekerja, membuat dan menjual bedak, lulur, jamu, serta berbagai kebutuhan lain untuk membantu kehidupan mereka. Dari hasil tangannya, sebagian perjalanan pendidikan dan perjuangan Soekarno dapat terus berlangsung. Cinta mereka pada masa itu tidak banyak membutuhkan kata-kata indah. Ia hadir dalam bentuk yang sederhana, yaitu uang sekolah yang dibayar, makanan yang tersedia, pakaian yang terurus, dan seorang perempuan yang tetap bertahan ketika masa depan belum menjanjikan apa-apa. Ada masa ketika Kusno belum punya apa-apa untuk diberikan kepada Inggit selain mimpi, dan Inggit menerima mimpi itu seolah-olah ia telah menerima sebuah masa depan. Ia tidak sedang mendampingi seorang Soekarno yang sudah jadi. Ia sedang membantu seorang Kusno menjadi seseorang.
Mungkin karena itulah kisah mereka menjadi begitu dalam. Ketika Kusno harus masuk penjara Sukamiskin, Inggit tidak berhenti di depan tembok penjara. Ia datang membawa rantang, membawa makanan, membawa kabar, dan membawa pesan-pesan yang kadang harus disamarkan agar tidak mudah terbaca oleh penjaga. Rantang itu menjadi semacam perpanjangan tangan cinta yang tidak dapat menembus jeruji. Di dalam penjara, Soekarno mungkin sedang memikirkan Indonesia, sedang menyusun gagasan dan membangun keberanian. Di luar penjara, Inggit sedang memastikan bahwa lelaki itu tetap memiliki kehidupan yang membuatnya mampu terus berpikir. Ada cinta yang hadir dalam surat dan bunga, tetapi cinta Inggit hadir dalam rantang yang harus dibawa pulang setelah isinya habis. Sejarah kelak mengingat pidato-pidato Soekarno, tetapi jarang menghitung berapa kali Inggit berjalan membawa makanan agar seorang lelaki yang sedang dipenjara tetap merasa bahwa di luar sana ada rumah yang menunggunya.
Ketika pengasingan datang, cinta itu kembali diuji oleh jarak dan keadaan. Inggit ikut ke Ende, Flores. Ia tidak sedang mengejar kemuliaan. Ia hanya tidak ingin meninggalkan Kusno sendirian di tanah pembuangan. Di sana mereka menjalani kehidupan yang jauh dari Bandung, jauh dari keluarga, jauh dari pusat pergerakan. Bahkan ibunya, Amsi, berada bersama mereka dan kemudian meninggal serta dimakamkan di Ende. Setelah beberapa tahun, perjalanan berlanjut ke Bengkulu. Inggit tetap ikut. Ada sesuatu yang sunyi dalam kesetiaan semacam itu. Ia mengikuti seorang lelaki bukan ketika lelaki itu sedang dielu-elukan, melainkan ketika pintu-pintu kehidupan justru tertutup satu demi satu. Ia ikut menanggung pengasingan yang sebenarnya bukan miliknya. Ia ikut memikul kesepian yang bukan ia ciptakan. Barangkali pada saat itu Inggit belum tahu bahwa setiap langkah yang ia tempuh bersama Kusno sedang membawanya semakin dekat kepada sebuah gerbang, dan bahwa suatu hari nanti lelaki yang ia antar itu akan melewati gerbang tersebut sendirian.
Lalu datanglah bagian paling pahit dari kisah mereka. Di Bengkulu, ketika jalan menuju kemerdekaan semakin terlihat, Soekarno jatuh cinta kepada perempuan lain, Fatmawati. Bagi Inggit, barangkali yang paling menyakitkan bukan sekadar hadirnya perempuan lain, tetapi kenyataan bahwa Kusno yang dahulu ia temani dari bawah telah berubah. Lelaki yang dulu membutuhkan dukungannya kini telah menemukan ruang hidup yang berbeda. Inggit tidak bersedia dimadu. Maka ia memilih berpisah. Keputusan itu terdengar sederhana ketika ditulis dalam buku sejarah, tetapi pasti tidak sederhana bagi perempuan yang telah memberikan masa muda, tenaga, kesetiaan dan begitu banyak tahun hidupnya. Ia pulang ke Bandung. Kali ini ia tidak sedang mengantar Kusno ke tempat baru. Ia sedang meninggalkan lelaki yang selama bertahun-tahun menjadi tempat pulangnya sendiri. Tidak ada gerbang yang menyambut kepulangannya. Tidak ada rombongan. Tidak ada tepuk tangan. Hanya perjalanan pulang yang mungkin terlalu panjang untuk sebuah hati yang sedang belajar menerima bahwa cinta yang begitu lama dijaga ternyata harus selesai.
Kemudian Indonesia merdeka. Pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta berdiri sebagai proklamator. Nama Kusno telah berubah menjadi Bung Karno, dan lelaki yang dahulu ditemani Inggit ketika masih membutuhkan biaya untuk belajar kini menjadi bagian dari sejarah bangsa. Merah putih berkibar. Rakyat bersuka cita. Sebuah negeri yang lama menunggu akhirnya memiliki hari kemerdekaannya. Tetapi di tengah pesta besar itu, ada seorang perempuan di Bandung yang menjalani hidup dengan sunyi. Inggit membuat dan menjual jamu, mengisi hari-harinya dengan pekerjaan sederhana. Betapa getir ironi sejarah ini. Perempuan yang pernah membantu membiayai perjalanan seorang pemuda, membawa rantang ke penjara, ikut ke Ende, ikut ke Bengkulu, dan menjaga kehidupan lelaki itu ketika masa depan belum pasti, justru tidak berada di sisinya ketika nama lelaki itu mencapai puncaknya. Sejarah memiliki cara yang aneh dalam membagi ingatan. Ia mengabadikan orang yang berdiri di atas panggung, tetapi sering lupa kepada mereka yang menyiapkan jalan menuju panggung itu.
Maka setiap tujuh belas Agustus datang, saya seperti melihat dua pemandangan sekaligus. Di satu sisi, Soekarno berdiri di gerbang sejarah, membacakan Proklamasi untuk sebuah bangsa. Di sisi lain, ada Inggit yang telah lebih dahulu mengantarnya sampai ke sana, lalu berhenti beberapa langkah sebelum gerbang itu. Ia tidak ikut masuk. Ia pulang membawa bagian hidupnya yang tidak pernah bisa ditulis ulang. Mungkin itulah pahitnya cinta Inggit, ia tidak gagal mencintai Kusno, justru ia mencintainya dengan seluruh daya yang dimilikinya. Ia ikut membentuk perjalanan seorang lelaki sampai lelaki itu menjadi besar, tetapi ketika kebesaran itu tiba, cinta mereka tidak lagi menemukan tempat yang sama. Ada cinta yang berakhir karena tidak pernah sampai. Tetapi ada pula cinta yang lebih pahit, yaitu cinta yang berhasil mengantarkan seseorang sampai ke gerbang cita-citanya, lalu harus rela melihatnya masuk tanpa dirinya. Inggit tidak menjadi perempuan di dalam gerbang itu. Ia adalah perempuan yang mengantar Kusno sampai ke sana. Dan mungkin, bagi sebagian cinta, itulah pengorbanan terakhir yang paling sunyi.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Kuantar Kau ke Gerbang
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












