MajmusSunda News, Senin (17/08/2026) – Selepas mengikuti rangkaian HUT Kemerdekaan RI ke-81 sejak selepas Subuh hingga sore hari, saya pun kembali pulang. Dalam upacara resmi itu, saya melihat manusia datang dari berbagai kalangan, membawa wajah, harapan, amanah, kepentingan, bahkan alasan kehidupan yang tidak selalu sama. Kami berada di tempat yang sama, di bawah merah putih yang sama, tetapi masing-masing membawa perjalanan batinnya sendiri. Sore menjelang malam, saya menulis di dalam mobil yang melintasi jalan-jalan Jakarta. Di balik kaca, gemerlap lampu kota mengalir panjang seperti cahaya yang tak pernah selesai. Di tengah cahaya itu, tubuh mulai mengenal lelah. Bahkan untuk sesuatu yang baik, yang kita rayakan dengan bangga sebagai hari lahir sebuah bangsa, tetap ada tenaga, waktu dan usia yang harus dibayarkan. Indonesia bertambah satu tahun. Saya pun bertambah satu tahun, sekaligus berkurang satu tahun. Dan senja pun kembali tiba.
Kita memang akan terus lelah. Pekerjaan akan datang, amanah akan berganti, keluarga akan membutuhkan, jabatan akan menuntut, cita-cita akan memanggil. Selesai satu urusan, yang lain menunggu. Tuntas satu tanggung jawab, tanggung jawab berikutnya menyusul. Bahkan ketika yang kita jalani adalah kebaikan, hidup tetap meminta tenaga. Kita tetap harus berpikir, bekerja, menjaga, menyelesaikan dan melanjutkan. Hanya saja, ketika usia mulai panjang, kita perlahan memahami bahwa yang berkurang bukan hanya tenaga. Ada sesuatu yang jauh lebih berharga yang ikut berjalan bersama setiap kesibukan, yaitu waktu. Kita sering merasa sedang mengisi hari, padahal hari sedang mengurangi usia kita.
Ada lelah yang berasal dari amanah, tetapi ada pula lelah yang lahir dari keinginan diri. Kita ingin berhasil, ingin berguna, ingin dihargai, ingin meninggalkan sesuatu yang membuat nama tetap dikenang. Bahkan dalam pekerjaan yang baik, keinginan untuk menjadi lebih dari yang lain dapat menyelinap begitu halus. Kita mengejar satu tujuan, lalu setelah sampai, hati menemukan tujuan berikutnya. Kita memperoleh sesuatu, tetapi ketenangan belum tentu ikut datang bersamanya. Dunia memang pandai membuat manusia terus berjalan. Ia selalu menyediakan sesuatu untuk dikejar, sementara waktu diam-diam membawa kita semakin dekat kepada batas perjalanan. Sampai pada usia tertentu, kita mulai tidak hanya melihat apa yang telah dicapai, tetapi juga bertanya apa yang sesungguhnya sedang kita cari.
Pertanyaan itu tidak selalu membutuhkan jawaban yang segera. Ia tumbuh perlahan di ruang batin yang semakin sunyi. Kita mulai merasakan bahwa kesibukan, betapapun banyaknya, tidak selalu membuat hidup lebih penuh. Ada ruang dalam diri yang tidak dapat diisi oleh pekerjaan, jabatan, pencapaian, bahkan oleh pujian. Dari sanalah kesadaran tentang kehambaan tumbuh dengan cara yang lembut. Kita mulai melihat bahwa penghambaan kepada Allah bukanlah pekerjaan tambahan di antara berbagai pekerjaan dunia. Ia adalah kedalaman yang memberi makna kepada semuanya. Kita tetap bekerja, tetap memegang amanah, tetap melakukan kebaikan, tetapi hati tidak lagi sepenuhnya bergantung pada hasil. Yang selesai kita syukuri, yang belum selesai kita jalani. Yang berhasil kita terima sebagai karunia, yang belum tercapai kita serahkan sebagai bagian dari perjalanan.
Semakin bertambah usia, semakin sedikit yang terasa perlu kita genggam erat. Jabatan akan berganti, rumah akan ditinggalkan, tubuh akan berubah, pujian akan berlalu, dan nama pun perlahan menjadi bagian dari ingatan orang lain. Dahulu kita sibuk mencari tempat di dunia, kini kita mulai memahami bahwa dunia sendiri sedang membawa kita keluar darinya. Ada keindahan yang baru terasa ketika seseorang tidak lagi terlalu sibuk memiliki. Kita mulai belajar menerima bahwa hidup bukan hanya tentang mendapatkan, tetapi juga tentang melepaskan. Bukan hanya tentang menjadi seseorang, tetapi tentang mengenali siapa diri kita di hadapan Yang Memiliki seluruh keberadaan. Di sana lelah tidak selalu hilang, tetapi hati menjadi lebih lapang menerimanya.
Senja pun kembali tiba. Ia tidak meminta matahari berhenti, tidak pula menyampaikan bahwa hari telah selesai. Ia hanya menurunkan cahaya perlahan, sampai manusia mengerti sendiri bahwa sebuah hari sedang menuju penghujungnya. Begitu pula usia. Tidak ada suara ketika satu tahun meninggalkan kita. Kita hanya menemukan bahwa langkah tidak lagi sama, tubuh lebih mudah letih, dan waktu terasa semakin cepat. Indonesia telah 81 tahun menempuh perjalanan. Saya pun mulai merasa menua. Keduanya mengajarkan sesuatu yang serupa, bahwa perjalanan tidak diukur hanya dari jauhnya langkah, tetapi dari apa yang tumbuh di dalam diri selama perjalanan itu. Dan barangkali yang paling penting bukan bagaimana menghindari lelah, sebab hidup memang akan terus melelahkan, tetapi bagaimana menjadikan setiap lelah memiliki arah.
Malam semakin turun ketika mobil terus melintasi Jakarta. Lampu-lampu kota masih gemerlap, seolah kehidupan tidak pernah selesai dengan urusannya. Saya memandangnya sambil menyadari bahwa kelak semua yang tampak begitu sibuk hari ini akan berganti. Negeri akan terus berjalan, generasi akan datang dan pergi, amanah berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, sementara kita pun perlahan meninggalkan panggung kehidupan. Setelah 81 tahun Indonesia belajar berjalan sebagai bangsa yang merdeka, kita pun perlu belajar menjalani usia sebagai seorang hamba. Kemerdekaan bukan berarti hidup tanpa beban dan tanpa lelah. Ia adalah kemampuan untuk menjalani keduanya dengan kesadaran tentang kepada siapa kehidupan ini berasal dan kepada siapa ia akan kembali. Maka ketika senja terakhir tiba, semoga kita tidak terlalu sibuk menghitung apa yang telah kita lakukan, tetapi cukup teduh untuk menyadari bahwa seluruh tenaga, waktu, amanah dan lelah yang kita jalani hanyalah perjalanan panjang menuju satu kepastian, yaitu kembali ke haribaan Allah.
Jalan tol Jagorawi 17 Agustus 2026.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Dan Senja pun Kembali Tiba
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












