Ketika Waktu Tidak Lagi Menunggu

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Kamis (13/08/2026) Kemarin saya bertolak ke Cilegon untuk bertakziyah, ada ibu dari sahabat yang wafat. Dalam prosesi pemakaman saya tertegun, melihat manusia dengan waktunya yang telah habis. Apa sebenarnya hiduo dan waktu itu?. Ratusan bahkan ribuan buku telah saya baca, diskusi, seminar telah saya ikuti, tapi tak mampu sekuat pemakaman mengingatkan saya.

Waktu berjalan tanpa pernah meminta manusia bersiap. Ia tidak berhenti ketika seseorang sedang sibuk, tidak kembali ketika sebuah kesempatan terlewat, dan tidak bertambah hanya karena seseorang merasa belum cukup. Setiap hari datang dengan jumlah yang sama, tetapi tidak setiap orang mengisinya dengan nilai yang sama. Ada waktu yang penuh kegiatan tetapi kosong makna, ada pula waktu yang sederhana namun diam-diam mengubah arah kehidupan.

Manusia sering merasa memiliki waktu karena esok masih tampak terbuka. Ia menyimpan banyak niat untuk nanti, banyak kebaikan untuk suatu hari, banyak pertemuan yang akan dilakukan ketika pekerjaan telah selesai. Padahal yang disebut nanti selalu datang sebagai hari ini, lalu segera berubah menjadi kemarin. Waktu tidak pernah benar-benar hilang; manusialah yang perlahan kehilangan bagian dirinya ketika waktu berlalu tanpa sesuatu yang berarti.

Di ruang ilmu, waktu dapat berubah menjadi pengetahuan. Bertahun-tahun membaca, meneliti, berdiskusi, mengajar, menulis, dan menemukan sesuatu yang sebelumnya belum diketahui. Tetapi ilmu yang bertambah belum tentu membuat kehidupan bertambah baik. Ada pengetahuan yang berhenti sebagai kepandaian, ada pula yang menemukan jalan menjadi manfaat. Karena itu, waktu yang diberikan kepada ilmu pada akhirnya meminta jawaban yang lebih dalam daripada sekadar berapa banyak yang telah diketahui.

Kerugian manusia juga tidak selalu terlihat sebagai kehilangan. Seseorang dapat memiliki pekerjaan, kedudukan, penghasilan, penghargaan, dan nama yang dikenal, tetapi perlahan kehilangan waktu untuk orang-orang yang dicintainya, kehilangan kesempatan berbuat baik, bahkan kehilangan kepekaan terhadap dirinya sendiri. Ada kerugian yang baru terasa ketika sesuatu yang dahulu tersedia ternyata tidak dapat dipanggil kembali. Pada saat itu manusia memahami bahwa waktu bukan sekadar ukuran umur, melainkan bagian dari kehidupan yang sedang dipertaruhkan.

Namun waktu tidak hanya berbicara tentang apa yang telah berlalu. Ia juga memperlihatkan kepada siapa seseorang memilih berpihak dalam hidupnya. Ada yang menggunakan kesempatan untuk memperkuat dirinya sendiri, ada yang menggunakannya untuk menjaga kebenaran meskipun tidak selalu menguntungkan. Ada yang memilih diam agar aman, ada yang bersedia mengingatkan dengan cara yang baik. Kebenaran tidak selalu membutuhkan suara yang keras. Kadang ia hanya membutuhkan seseorang yang tetap memegangnya ketika keadaan membuat banyak orang ingin melepaskannya.

Dan perjalanan semacam itu membutuhkan kesabaran. Bukan kesabaran untuk sekadar menunggu, melainkan kemampuan untuk tetap berjalan ketika hasil belum terlihat, tetap berbuat baik ketika tidak segera dihargai, dan tetap menjaga kebenaran ketika jalan yang lebih mudah terbuka di hadapan mata. Kesabaran memberi waktu kepada kebaikan untuk menemukan bentuknya. Tanpanya, niat yang baik mudah berhenti di tengah perjalanan.

Pada akhirnya, manusia tidak dapat meminta tambahan waktu kepada kehidupan. Yang dapat dilakukan hanyalah mengisi bagian yang masih tersisa dengan sesuatu yang membuat keberadaan tidak sia-sia. Ilmu yang menjadi manfaat, iman yang menjadi keteguhan, kebenaran yang dijaga, dan kesabaran yang membuat semuanya bertahan. Waktu terus berjalan, tetapi di antara detik yang tidak kembali itu selalu ada kesempatan untuk memilih; menjadi lebih penuh oleh dunia, atau menjadi lebih berarti di hadapan-Nya.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Ketika Waktu Tidak Lagi Menunggu
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *