Yang Berjalan di Bumi: Di Antara Amanah dan Kepulangan

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Rabu (12/08/2026) Hidup adalah perjalanan di dalam sesuatu yang tidak pernah sepenuhnya menjadi milik manusia. Kita menerima waktu, kemampuan, pengetahuan, harta, dan berbagai amanah untuk dijalani. Ada saat ketika manusia merasa sedang memiliki dunia, padahal dunia hanya sedang melewatinya. Kita berjalan di atas bumi, sementara tanpa disadari bumi pun sedang membawa kita perlahan menuju tempat yang lain.

Hidup dan mati membatasi perjalanan itu. Di antaranya manusia diberi kesempatan untuk memperlihatkan mutu perbuatannya. Ada amal yang sunyi tetapi bernilai, ada pencapaian yang ramai namun cepat kehilangan suara. Kematian kemudian datang bukan sekadar sebagai akhir kehidupan, melainkan sebagai saat ketika segala yang melekat pada diri perlahan dilepaskan. Yang selama ini disebut milik kembali menjadi sesuatu yang ditinggalkan.

Langit yang terbentang begitu luas, teratur, dan tidak selesai dijelajahi oleh penglihatan. Manusia dapat mengulang pandangan, mencari celah, menemukan keteraturan, tetapi akhirnya kembali kepada batas dirinya. Di hadapan keluasan itu, pengetahuan dapat berubah menjadi rasa takjub. Dan rasa takjub yang semakin dalam sering membawa manusia kepada kesadaran bahwa yang diketahui tidak pernah sebanding dengan Yang Mengetahui.

Yang tersembunyi pun tidak pernah benar-benar tersembunyi. Perkataan yang tidak jadi diucapkan, niat yang disimpan, kerinduan yang tidak diketahui manusia, semuanya berada dalam pengetahuan-Nya. Karena itu, perjalanan menuju kedalaman diri bukan hanya tentang memperbaiki apa yang tampak, tetapi juga membersihkan sesuatu yang tidak terlihat. Di ruang batin itulah manusia belajar bahwa yang paling jauh terkadang bukan perjalanan menuju tempat lain, melainkan perjalanan menuju dirinya sendiri.

Bumi menjadi tempat manusia menjalani semua itu. Di atasnya ia bekerja, mencari rezeki, membangun kehidupan, mencintai, berpisah, menanam, dan memanen. Lalu suatu hari kaki berhenti berjalan. Tubuh yang dahulu bergerak di antara kesibukan kembali diam di dalam tanah. Orang-orang yang mencintainya datang membawa doa, berdiri di sisi makam, kemudian pulang dengan langkah yang berbeda. Ziarah kubur menjadi pertemuan yang sunyi, yang hidup datang kepada yang telah lebih dahulu menempuh jalan pulang.

Di hadapan makam, banyak ukuran kehidupan tiba-tiba menjadi kecil. Jabatan tidak lagi berbicara, harta tidak lagi menjawab, dan nama yang dahulu dipanggil dengan berbagai gelar kembali menjadi satu nama di antara tanah dan doa. Yang tersisa adalah kesadaran bahwa setiap manusia sedang menuju tempat yang sama. Ziarah bukan hanya mengingat orang yang telah pergi, tetapi juga mengunjungi masa depan diri sendiri. Kita berdiri di sisi sebuah kubur sambil diam-diam belajar bahwa suatu hari akan ada orang lain yang berdiri di tempat yang sama untuk mendoakan kita.

Pada akhirnya, perjalanan di bumi bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ada perjalanan lahir yang ditempuh dengan kaki, dan ada perjalanan batin yang ditempuh dengan kesadaran. Kita bekerja, mencintai, mencari, kehilangan, kemudian meninggalkan. Bumi menerima langkah kita, tanah menerima tubuh kita, dan doa menjadi bahasa mereka yang masih berjalan. Kepulangan yang paling dalam bukan hanya ketika tubuh kembali ke tanah, melainkan ketika hati mengenali kepada siapa sejak awal ia sebenarnya berjalan.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Yang Berjalan di Bumi: Di Antara Amanah dan Kepulangan
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *