Lain Urang Sunda, Mun Teu Beuki kana Jengkol mah

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Senin (10/08/2026) Jengkol adalah salah satu perkara kecil yang bisa membuat urang Sunda tersenyum sendiri. Di meja makan, lauknya boleh sederhana, sambalnya boleh biasa saja, tetapi ketika ada jengkol, suasana seperti mendapat tambahan kebahagiaan. Ada yang sangat menyukainya, ada yang sekadar mencicipi, bahkan ada yang sejak awal mengaku tidak suka, tetapi ketika dimasak dengan cara yang disukai, akhirnya ikut menambah. Jengkol memang punya cara sendiri untuk merayu lidah. Soal bau, itu bagian dari perjanjian. Yang menyukai biasanya punya falsafah sederhana, bau belakangan, yang penting enak sekarang.

Secara botani, jengkol termasuk keluarga _Fabaceae_, dengan nama ilmiah _Archidendron paucifloru_. Ia merupakan pohon yang dapat tumbuh cukup besar di lingkungan tropis, dengan buah berbentuk polong yang berisi beberapa biji. Biji itulah yang kemudian kita kenal sebagai jengkol. Di dalamnya terdapat karbohidrat, protein, serat, dan sejumlah mineral, serta berbagai senyawa alami yang memberi rasa dan aroma khas. Jadi, jengkol bukan sekadar perkara “bau tetapi enak”. Ia merupakan bagian dari kekayaan hayati tropis yang sejak lama hidup berdampingan dengan masyarakat Nusantara.

Jika dilihat dari sejarah pangan, jengkol juga bercerita tentang cara leluhur kita membaca alam. Jauh sebelum istilah _superfood_ menjadi populer, masyarakat telah mengenal berbagai tumbuhan yang dapat menjadi sumber pangan dari lingkungan sekitarnya. Pengetahuan itu tidak selalu tertulis dalam buku. Ia diwariskan melalui dapur, kebun, cerita orang tua, dan kebiasaan keluarga. Cara memilih, menyimpan, merendam, dan memasak jengkol merupakan bagian dari pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman. Dalam pengertian itu, sepiring jengkol seperti cermin kecil yang memperlihatkan hubungan panjang antara manusia dan alam.

Dalam budaya Sunda, makanan tidak hanya soal mengisi perut. Ada kedekatan dengan rumah, keluarga, kampung, dan masa lalu. Jengkol dapat hadir bersama nasi hangat, lalapan, sambal, semur, atau berbagai masakan sederhana yang sulit dilupakan. Di sini jengkol menjadi lebih dari sekadar rasa. Ia menjadi bagian dari ingatan budaya. Ada makanan yang nikmat karena rasanya, ada pula yang menjadi nikmat karena ada kenangan yang menyertainya. Jengkol termasuk yang kadang membuat kita teringat pada dapur orang tua, makan bersama, atau suatu masa ketika nasi hangat dan sambal saja sudah cukup membuat hari terasa lebih baik.

Dari sisi gizi, jengkol juga layak dilihat dengan ukuran yang wajar. Kandungan protein, karbohidrat, serat, dan mineral membuatnya memiliki nilai pangan. Namun jengkol juga mengandung asam jengkolat yang dalam kondisi tertentu dapat menimbulkan gangguan, terutama bila dikonsumsi berlebihan atau pada orang dengan kerentanan tertentu. Karena itu, menyukai bukan berarti harus berlebihan. Ini perkara kecil yang mudah terlupakan ketika lidah sedang dimanjakan. Urang Sunda punya kata “saukur”, dan dalam banyak perkara kata itu sebenarnya menyimpan hikmah yang dalam. Enak boleh, tetapi tubuh juga punya hak untuk diajak berunding.

Dalam agama, jengkol bukan makanan yang haram. Perhatian yang lebih sering muncul justru berkaitan dengan bau dan pengaruhnya terhadap orang lain. Makanan yang halal bagi diri sendiri tetap perlu dinikmati dengan mempertimbangkan kenyamanan orang lain, terutama ketika berada di ruang bersama atau tempat ibadah. Di sini agama terasa berbicara dengan cara yang lembut bahwa kesenangan pribadi tidak selalu berdiri sendiri. Ada adab, ada kenyamanan orang lain, ada hak sesama yang patut diperhatikan. Jengkol tidak perlu dijadikan musuh, apalagi dosa. Hanya saja, ketika hendak mendekati orang lain, ada baiknya kita ingat bahwa tidak semua orang memiliki hubungan yang sama dengan jengkol.

Jengkol tetaplah sebutir biji kecil dari alam yang begitu luas. Namun dari sebutir itu kita dapat berbicara tentang botani, gizi, sejarah, kebudayaan, agama, dan cara manusia hidup bersama. Itulah keindahan makanan tradisional. Ia tidak banyak bicara, tetapi ketika diperhatikan, banyak cerita tersimpan di dalamnya. Jengkol mengajarkan bahwa sesuatu yang sederhana tidak selalu berarti sederhana. Ada rasa yang dinikmati, ada ukuran yang dijaga, ada budaya yang dihargai, dan ada orang lain yang perlu dipikirkan. Lalu, setelah semua pembicaraan panjang tentang jengkol itu, urang Sunda barangkali hanya akan bertanya dengan polos, “_Aya jengkol henteu, euy_

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Lain Urang Sunda, Mun Teu Beuki kana Jengkol mah
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *