MajmusSunda News, Selasa (04/08/2026) – Selembar peta selalu tampak meyakinkan. Garis-garisnya tegas, batas-batasnya jelas, seolah seluruh wilayah telah selesai dipahami. Padahal, peta tidak pernah membawa aroma tanah yang basah, menghadirkan angin yang melintas di antara pepohonan, atau memperlihatkan jalan-jalan kecil yang hanya dikenal oleh mereka yang pernah melaluinya. Cara kita memandang kehidupan sering kali demikian. Kita merasa telah memahami, padahal baru menyentuh sebagian kecil darinya. Di situlah menempel apa yang oleh orang-orang Yunani kuno disebut hubris, yaitu kecenderungan merasa telah mengetahui sesuatu secara utuh, padahal pemahaman kita masih sangat terbatas. Ia bukan sekadar kesombongan, melainkan keyakinan yang tumbuh lebih cepat daripada keluasan pemahaman.
Kecenderungan itulah yang sejak lama berusaha dipahami manusia. Peradaban Yunani mengisahkannya melalui Icarus yang terbang dengan sayap dari bulu dan lilin. Banyak orang mengingat matahari yang melelehkan sayap itu. Padahal, matahari tetap menjadi matahari dan langit tetap menjadi langit. Yang berubah adalah cara manusia memandang keluasan itu, lalu mengira dirinya telah cukup mengenalnya. Kisah itu bukan tentang hukuman, melainkan tentang keyakinan yang tumbuh melampaui pemahaman.
Kecenderungan itu tidak hanya hidup dalam kisah-kisah lama. Kehidupan sehari-hari memperlihatkannya dengan sangat sederhana. Musim berganti tanpa tergesa. Pohon yang sama menghadirkan daun yang berbeda, dan tanah yang sama tidak selalu menghasilkan panen yang serupa. Kehidupan selalu menyimpan sisi yang belum sempat kita lihat, sehingga ia tidak pernah menyukai kesimpulan yang lahir terlalu cepat.
Begitu pula ketika kita berjumpa dengan manusia. Satu percakapan belum tentu menghadirkan seluruh isi pikirannya. Satu peristiwa belum tentu menggambarkan seluruh perjalanan hidupnya. Bahkan keyakinan yang diucapkan dengan sangat mantap pun masih menyisakan ruang yang belum disentuh oleh pengalaman. Karena itu, penilaian yang lahir dari sepotong kenyataan sering kali lebih banyak mencerminkan cara pandang kita daripada kenyataan itu sendiri.
Barangkali karena itulah, kehidupan selalu mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru merasa telah sampai. Bahkan di dunia akademik, tempat ilmu terus dikembangkan, pengetahuan seharusnya melahirkan kerendahan hati untuk terus menguji, mendengar, dan belajar. Sebab, kenyataan selalu lebih luas daripada teori yang sedang kita pegang.
Karena itu, tidak setiap keadaan harus segera berubah menjadi penilaian. Ada waktunya kita membiarkan kenyataan memperkenalkan dirinya sedikit demi sedikit. Setiap orang berjalan dengan bekal dan pengalaman yang berbeda. Tidak ada perjalanan yang layak disimpulkan hanya dari satu langkah. Keluasan lahir bukan dari cepatnya kita menyimpulkan, melainkan dari kesediaan kita terus memahami.
Pada akhirnya, pandangan kita tetaplah polos, dan kepolosan itu memiliki keindahannya sendiri. Yang perlu dijaga adalah ketika hubris diam-diam menempel di dalamnya, membuat kita merasa telah cukup melihat hanya karena pernah memandang. Padahal, kehidupan selalu lebih luas daripada apa yang berhasil kita pahami. Semakin banyak yang kita ketahui, semakin besar pula kesadaran bahwa masih jauh lebih banyak yang belum kita mengerti.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Pandanganmu Sebenarnya Polos, Namun Ada Hubris Menempel di Dalamnya
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












