MajmusSunda News, Senin (03/08/2026) – Perjalanan menuju Cilacap pagi itu terasa begitu tenang. Saya hanya didampingi seorang pengemudi yang sesekali memecah keheningan dengan percakapan seperlunya. Kami sedang menuju anak-anak mahasiswa IPB University yang menjalani Kuliah Kerja Nyata di wilayah Cilacap. Ada semangat yang selalu menyenangkan ketika melihat anak-anak muda sedang belajar mengenal kehidupan melalui masyarakat. Namun, ketika kendaraan perlahan melintasi Jembatan Serayu, entah mengapa hati saya tiba-tiba menjadi sangat tenang, seolah ada selimut waktu yang perlahan disingkapkan oleh Allah.
Saya meminta kendaraan berhenti sejenak. Lalu saya turun, berdiri di atas jembatan, memegang pagar besi sambil memandangi Sungai Serayu yang mengalir tenang di bawahnya. Airnya masih berwarna kecokelatan, seperti secangkir kopi susu yang sedang diaduk perlahan. Sungai memang tidak pernah sibuk menyimpan nama-nama manusia yang melintas di atasnya. Ia hanya terus mengalir, membawa musim demi musim, sambil diam-diam menyimpan begitu banyak cerita yang pernah singgah di tepinya.
Di situlah ingatan membawa saya kembali puluhan tahun ke belakang. Jalur antara Purwokerto dan Cilacap pernah menjadi jalan yang penuh kenangan. Sebuah Honda Win melaju sederhana, sementara di jok belakang duduk seorang gadis manis yang sepanjang perjalanan lebih sering menyandarkan wajahnya di punggung saya. Entah mengapa, sandaran sederhana itu selalu membuat dada seorang remaja berdegup lebih cepat, seakan seluruh dunia ikut melambat menikmati perjalanan. Kami pernah berhenti di tepian Serayu, memandang aliran air yang sama, tanpa pernah merasa perlu segera melanjutkan perjalanan. Waktu seolah memberi kami ruang untuk menikmati kebersamaan yang begitu sederhana. Tidak ada janji yang diucapkan, tidak pula percakapan yang panjang. Cukup sesekali jemarinya menyentuh lengan saya ketika angin sungai berembus pelan, lalu kami saling melempar senyum yang rasanya telah mampu menggantikan begitu banyak kata. Ketika usia masih begitu muda, kebahagiaan memang sering hadir melalui hal-hal yang sangat sederhana.
Kini jalan itu masih ada. Sungainya pun masih setia mengalir. Hanya kehidupan yang perlahan menuliskan kisahnya sendiri. Gadis manis itu telah lebih dahulu mendahului saya, kembali ke tempat yang paling indah di sisi Allah. Tidak ada yang perlu dipersoalkan kepada waktu. Sebab setiap perjumpaan telah membawa amanahnya, dan setiap langkah yang kemudian berubah arah pun berada dalam keluasan kasih-Nya.
Saya tetap berdiri memandang Serayu dari atas jembatan. Di hadapan saya, aliran sungai berjalan tanpa tergesa, sementara angin pagi berembus pelan menemani keheningan. Saya memilih menikmati percakapan lain, percakapan yang hanya terdengar oleh hati. Rupanya ada kenangan yang tidak meminta kita kembali kepadanya. Ia hanya ingin mengingatkan bahwa Allah pernah menghadirkan seseorang untuk menjadikan masa muda terasa begitu indah, sebelum kemudian melanjutkan kisah dengan takdir yang telah Allah tentukan.
Barangkali memang demikian cara Allah mendidik manusia. Kita dipertemukan dengan banyak wajah, berjalan melalui banyak musim, lalu perlahan memahami bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang benar-benar hilang. Semuanya tetap tinggal sebagai kelembutan yang membentuk hati, menjadikan kita lebih mudah bersyukur, lebih lapang menerima kehidupan, dan lebih bijaksana memandang waktu.
Ketika saya kembali melangkah menuju kendaraan dan perjalanan dilanjutkan menuju Cilacap, saya tidak merasa sedang meninggalkan sebuah sungai. Saya justru membawa pulang sesuatu yang tidak tampak oleh mata. Sebuah kesadaran bahwa kenangan bukanlah tempat untuk menetap, melainkan tempat untuk bersyukur. Terima kasih, ya Allah, karena Engkau pernah mempertemukan kami di tepian Serayu. Dan terima kasih pula, karena hingga hari ini Engkau masih mengizinkan hamba mengenangnya dengan senyum, lalu melanjutkan perjalanan yang Engkau tuliskan dengan penuh kasih.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Sungai Serayu, Antara Purwokerto dan Cilacap
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












