Saba Gunung Bandung: Nyukcruk Galur Empat Puncak di Pasirjambu

Oleh: Hayati Mayang Arum

Saba Gunung Bandung

MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (01/08/2026) – Pagi itu, kami yang berjumlah 15 orang memulai perjalanan dari Soreang menuju Kampung Pasir Dongko, Desa Cikoneng, Kecamatan Pasirjambu. Tujuan kami bukanlah gunung yang tinggi atau jalur populer, melainkan empat puncak kecil yang namanya lebih akrab di telinga masyarakat setempat daripada di kalangan pendaki.

Perjalanan ini merupakan bagian dari kegiatan Saba Gunung Bandung, sebuah perjalanan untuk menyusuri, mengenali, dan mendokumentasikan bentang alam pegunungan di kawasan Bandung. Melalui langkah kaki, catatan perjalanan, peta lama, serta pengamatan langsung di lokasi, kegiatan ini mencoba melihat gunung bukan hanya sebagai tempat yang didaki, tetapi sebagai ruang yang menyimpan cerita, sejarah, dan ingatan masyarakat.

Kali ini, perjalanan membawa kami menyusuri kawasan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, dengan tujuan mengenali empat puncak yang berada dalam satu rangkaian jalur, yaitu Gunung Kasur atau Pasir Pangukusan, Pasir Camat, Gunung Tilu Cilame, dan Gunung Batu Nengger. Perjalanan dipimpin langsung oleh Kang Adis sebagai leader perjalanan, dan kami memulai langkah dari sebuah jalan setapak di dekat lokasi kendaraan kami berhenti. Rumah Teh Siti menjadi titik awal perjalanan sekaligus tempat penitipan kendaraan sebelum kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalur pegunungan.

Suasana kampung dengan jalanan yang terjal dan berdebu menjadi pembuka perjalanan pagi itu. Tidak ada keramaian seperti jalur pendakian gunung-gunung populer. Yang ada hanyalah jalan kampung, kebun warga, udara pegunungan, dan rasa penasaran terhadap tempat-tempat yang akan kami lewati.

Perjalanan ini bukan sekadar mengejar titik tertinggi. Ada pertanyaan yang lebih menarik, mengapa tempat-tempat tersebut diberi nama demikian? Cerita apa yang tersimpan di balik sebuah lereng, batu, tumbuhan, atau jalur yang setiap hari mungkin dilalui masyarakat?

Sebab, sebuah tempat tidak hanya dibentuk oleh bentang alamnya, tetapi juga oleh ingatan manusia yang hidup bersamanya.

Gunung Kasur, Menelusuri Jejak Nama dalam Peta Lama

Tujuan pertama pendakian membawa kami menuju Gunung Kasur, atau yang oleh masyarakat lokal lebih dikenal dengan sebutan Pasir Pangukusan. Dari seluruh rangkaian perjalanan, jalur menuju titik ini menjadi bagian yang paling menguji langkah.

Salah satu persiapan sebelum melakukan perjalanan, leader kami menelusuri keberadaan Gunung Kasur melalui peta lama, baik peta Belanda tahun 1892–1920, peta AMS 1943, maupun peta RBI. Namun, dari ketiga peta tersebut, menariknya hanya pada peta AMS (Army Map Service) skala 1:50.000, lembar 39 Goenoeng Malabar, cetakan kedua tahun 1944, nama Gunung Kasoer tercatat. Lokasinya berada di sisi kiri peta, sekitar grid 03–04. Artinya, nama ini bukan penamaan baru, melainkan telah dikenal setidaknya sejak masa pemetaan tersebut.

Nama sebuah gunung bukan hanya penanda geografis. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang manusia dalam mengenali, memberi nama, dan membangun hubungan dengan lingkungannya.

Berdasarkan pengolahan data tracklog menggunakan Garmin Basecamp serta ArcGIS yang telah diolah sehingga dapat digunakan di Google Earth, jalur dari titik awal menuju Gunung Kasur ini memiliki jarak sekitar 1,37 kilometer dengan kenaikan elevasi mencapai 331 meter. Kemiringan maksimum jalur mencapai 36,3 derajat dengan estimasi waktu tempuh sekitar 45–60 menit.

Saba Gunung Bandung

Ada yang menarik dalam pengamatan di lapangan. Masyarakat lokal, khususnya masyarakat Kampung Pasir Dongko, tidak mengenal gunung tersebut sebagai Gunung Kasur, melainkan Gunung Pangukusan. Sayangnya, sosped yang kami lakukan terbatas karena kami harus melalui tiga gunung lainnya.

Secara angka, jaraknya memang tidak terlalu panjang. Namun, jalur yang terus menanjak membuat ritme langkah beberapa kali melambat. Langkah mulai menyesuaikan medan, napas mulai mengikuti ritme perjalanan, dan tubuh mulai memahami karakter lereng yang sebenarnya. Di titik inilah pendakian mengajarkan bahwa perjalanan bukan hanya tentang seberapa jauh kita bergerak, tetapi bagaimana kita mampu membaca kemampuan diri ketika berhadapan dengan alam.

Pasir Camat, Nama yang Bertahan dalam Ingatan Lokal

Dari Gunung Kasur, perjalanan dilanjutkan menuju Pasir Camat. Jalur ini memiliki jarak sekitar 613 meter dengan kenaikan elevasi 107 meter. Kemiringan maksimum mencapai 33,8 derajat dengan estimasi waktu tempuh sekitar 15–20 menit. Berbeda dengan Gunung Kasur yang masih dapat ditemukan dalam peta AMS, nama Pasir Camat belum ditemukan dalam peta kolonial maupun peta RBI yang kami telusuri.

Namun, justru di situlah menariknya. Sebab, tidak semua cerita mengenai sebuah tempat tersimpan dalam dokumen resmi. Sebagian nama hidup melalui percakapan masyarakat, kebiasaan, dan ingatan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sampai perjalanan ini dilakukan, kami belum menemukan nama Pasir Camat dalam peta kolonial maupun peta RBI. Karena itu, besar kemungkinan penamaan tersebut hidup melalui ingatan masyarakat setempat.

Pasir Camat menjadi contoh bahwa lanskap tidak hanya dibentuk oleh peta, tetapi juga oleh pengalaman manusia yang berinteraksi dengannya. Asal-usul nama atau toponimi tersebut masih menjadi ruang untuk ditelusuri lebih jauh. Siapa yang pertama kali menggunakan nama Pasir Camat? Apa peristiwa atau kondisi yang melatarbelakanginya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu justru menjadi bagian menarik dari perjalanan ini.

Gunung Tilu Cilame, Membaca Nama dari Sebuah Lanskap

Langkah berikutnya membawa kami menuju Gunung Tilu Cilame. Jalur menuju lokasi ini relatif singkat, sekitar 297 meter dengan kenaikan elevasi 46,8 meter. Kemiringan maksimum mencapai 28,1 derajat dengan waktu tempuh sekitar 8–12 menit.

Seperti halnya Pasir Camat, nama Gunung Tilu Cilame juga lebih dikenal melalui penamaan lokal masyarakat. Dalam budaya Sunda, nama tempat sering kali memiliki hubungan erat dengan cara masyarakat membaca lingkungan. Nama dapat berasal dari bentuk alam, peristiwa tertentu, tumbuhan, tokoh, atau pengalaman kolektif yang berkembang di suatu wilayah. Gunung Tilu Cilame mungkin belum banyak tercatat dalam dokumen sejarah, tetapi keberadaannya tetap menjadi bagian dari lanskap yang memiliki makna bagi masyarakat sekitar.

Gunung Batu Nengger, Ketika Alam Memberi Petunjuk

Tujuan terakhir perjalanan ini adalah Gunung Batu Nengger. Jalur menuju titik ini memiliki jarak sekitar 261 meter dengan kenaikan elevasi 31,4 meter. Kemiringan maksimum mencapai 31,8 derajat.

Di tempat inilah kami menemukan hal menarik dari hasil pengamatan langsung di lapangan. Di sekitar puncak terdapat sebuah batu besar yang posisinya tampak bertengger pada bagian atas gunung. Temuan tersebut kemudian memunculkan dugaan bahwa nama Batu Nengger mungkin berkaitan dengan keberadaan batu besar tersebut.

Walaupun masih membutuhkan kajian lebih lanjut, kemungkinan tersebut memberikan gambaran bagaimana masyarakat dahulu memberi nama berdasarkan apa yang mereka lihat dan rasakan dari alam sekitarnya. Sebuah batu tidak hanya menjadi benda geologi. Dalam kehidupan masyarakat, ia dapat menjadi penanda tempat, identitas wilayah, bahkan sumber lahirnya sebuah nama.

Vegetasi dan Jejak Kehidupan di Lereng

Musim kemarau sedang berlangsung ketika kami menyusuri jalur pendakian. Tanah di beberapa bagian terasa keras dan kering, bahkan langkah kaki sering kali menimbulkan debu. Di sepanjang perjalanan kami juga tidak menjumpai sumber air, sehingga cukup terasa bagaimana musim memengaruhi kondisi lereng gunung ini.

Meski demikian, lereng-lereng tersebut tetap digunakan untuk aktivitas masyarakat. Kami menemukan petani yang sedang membuka lahan, dan ada juga yang mencari rumput untuk pakan ternak. Pemandangan seperti itu berulang beberapa kali sepanjang perjalanan dan memperlihatkan bahwa kawasan ini bukan hanya jalur pendakian, melainkan juga ruang kerja bagi warga sekitar.

Salah satu momen yang paling saya ingat adalah ketika kami melintas di sebuah kebun. Tiba-tiba terdengar seseorang menyapa dari atas. Setelah kami menoleh, rupanya seorang petani sedang berada di atas pohon afrika untuk mengambil daunnya sebagai pakan ternak. Sapaan singkat itu membuat rombongan spontan ramai sahut-menyahut untuk membalas sapaannya. Di tengah-tengah jalur yang sedang panas-panasnya, hal unik itu justru menjadi salah satu momen yang mencairkan suasana.

Vegetasi di sepanjang lintasan pun cukup beragam. Rumpun bambu tumbuh di beberapa bagian jalur, disusul tegakan pinus, kebun kopi milik warga, kaliandra, rasamala, hingga albasia. Perpaduan antara vegetasi alami dan lahan garapan masyarakat membentuk wajah lereng Pasirjambu yang kami lalui hari itu.

Sebelum kita sampai pada titik akhir turun, ada satu hal kecil yang juga mengundang rasa penasaran. Di Google Maps, jalan menuju Kampung Pasir Dongko tertulis sebagai Jalan Sukatani Siluman, padahal secara administratif namanya hanya Jalan Sukatani. Kami belum sempat mencari tahu asal-usul penyebutan itu. Barangkali ada cerita yang masih tersimpan di kalangan warga, atau mungkin ada penjelasan lain yang belum kami temukan.

Perjalanan Pulang, Kejutan di Jembatan Rancagoong

Setelah menyelesaikan perjalanan empat puncak, kami tidak langsung mengakhiri kegiatan. Dalam perjalanan pulang, kami menyempatkan diri untuk mendokumentasikan Jembatan Rancagoong.

Dan kejutannya, ternyata kami harus melewati jembatan yang dulunya menjadi jalur kereta tersebut. Bagi sebagian orang, jembatan mungkin hanya sebuah sarana penghubung. Namun, ketika melihat langsung kondisi dan karakter jembatan tersebut, saya menemukan pengalaman yang berbeda. Saya termasuk orang yang memiliki rasa takut terhadap ketinggian dan takut melewati jembatan. Karena itu, melintas di Jembatan Rancagoong menjadi sebuah kejutan tersendiri. Pengalaman pertama bisa melewatinya dan mengendarai motor sendiri. Ada rasa ragu ketika melihat ruang terbuka di bawah dan posisi jembatan yang cukup membuat hati berdebar. Namun, mau tidak mau, bisa atau tidak bisa, jembatan itu harus dilewati karena jika tidak, bisa celaka.

Namun, justru pengalaman itulah yang membuat perjalanan ini semakin berkesan. Jika jalur pendakian menguji kekuatan fisik melalui tanjakan dan jarak, maka jembatan tersebut menguji keberanian menghadapi rasa takut yang ada dalam diri. Perjalanan ternyata tidak hanya membawa kami mengenal gunung, tetapi juga mengenal diri sendiri. Dan bagi saya, melintasi Jembatan Rancagoong justru menjadi bagian paling menegangkan sepanjang perjalanan hari itu.

Empat Puncak, Satu Cerita

Dengan jarak sekitar 3,68 kilometer dan kenaikan elevasi 575 meter, perjalanan ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam 54 menit hingga 3 jam. Namun, yang kami bawa pulang bukan hanya catatan pendakian, melainkan juga cerita tentang nama-nama tempat, bentang alam, dan kehidupan masyarakat yang menjadikan lereng Pasirjambu tetap hidup hingga hari ini.

Empat puncak yang kami datangi mungkin bukan tujuan yang banyak dicari pendaki. Namun, justru di sanalah kami menemukan banyak hal yang tidak tercantum di peta; cerita tentang nama tempat, aktivitas warga, hingga jejak-jejak kecil yang masih bertahan di lereng Pasirjambu. Perjalanan hari itu pun selesai, tetapi rasa ingin tahu untuk kembali menjelajahi gunung-gunung lain di Bandung rasanya baru saja dimulai.

Tidak semua perjalanan harus menuju puncak-puncak populer untuk memberikan pengalaman yang berkesan. Terkadang, sebuah perjalanan kecil menuju tempat yang jarang dikenal justru membuka ruang untuk memahami hubungan antara manusia, alam, dan sejarah yang tersimpan di dalamnya.

Judul: Saba Gunung Bandung: Nyukcruk Galur Empat Puncak di Pasirjambu
Penulis: Hayati Mayang Arum
Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *