WISATABUMI NUSANTARA #Seri-40: “Pangandaran: Kuartet Dinamika Pesisir, Karst Dewa, dan Benteng Hijau Penolak Katastrofe”

Oleh: Oman Abdurahman

Wisatabumi Nusantara

MajmusSunda News  – Bandung, Rabu (29/07/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-40 dengan mengajak pembaca menyusuri bentang alam pesisir Pangandaran yang menyimpan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya yang saling terhubung. Melalui perspektif geomorfologi pantai, karst, ekologi, dan sejarah, seri ini mengulas terbentuknya Tombolo Pananjung, keunikan kawasan karst dewasa, benteng hijau alami penahan bencana pesisir, hingga nilai budaya yang memperkuat identitas kawasan selatan Jawa Barat.

1. Sasis Tektonik Busur Selatan, Evolusi Tombolo Pananjung, dan Karst Fase Dewasa

Bangunan bentang alam mahadahsyat di ujung tenggara Tatar Pasundan berdiri kokoh di atas sasis aktivitas geodinamika subduksi lempeng aktif samudra yang memahat morfologi pesisir selatan Jawa melintasi lintasan zaman. Puncak evolusi abiotik (abiotic) dari interaksi darat dan laut ini terekam monumental pada pilar pertama kuartet dinamika pesisir, yakni pembentukan Tombolo Pananjung, sebuah fenomena geomorfologi ketika pulau karang purba tersambung dengan daratan utama Jawa melalui akumulasi sedimen pasir. Bentuk alam yang unik ini berpadu dengan pilar kedua berupa kawasan karst fase dewasa yang memiliki karakter berbeda dibandingkan karst Karangbolong, Gunungsewu, Maros, maupun Raja Ampat. Sasis jembatan sedimen dan tinggian karbonat tersebut kemudian membentuk kawasan Cagar Alam Pananjung Pangandaran yang mengapit dua teluk dengan karakter gelombang yang berbeda. Penjelajahan menuju bentang alam tombolo ini menuntun setiap jiwa untuk tertunduk bersujud, menyadari mutlaknya Kuasa dan Keagungan Sang Pangripta Jagat Raya yang menghadirkan kawasan pesisir sebagai laboratorium geologi alam yang luar biasa.

Wisatabumi Nusantara
Sumber ilustrasi: Hahnsaja. Pantai Pangandaran. Wikimedia Commons. Lisensi CC BY-SA 4.0.

2. Labirin Ekskavasi Fluviokarst Dewasa dan Erosi Tebing

Keunggulan abiotik kawasan ini semakin menonjol melalui perkembangan sistem fluviokarst pada batu gamping terumbu berumur Miosen yang dapat dijumpai di kawasan Cukang Taneuh (Green Canyon). Di lokasi ini, Sungai Cijulang mengikis batu gamping hingga membentuk lorong alami yang spektakuler, berpadu dengan sistem sungai bawah tanah di Situmang dan Gua Satirah. Kekayaan geologi tersebut dilengkapi oleh dinamika abrasi pantai yang membentuk tebing Batu Layar, kawasan Karang Nini, hingga bentang alam Batu Hiu yang menyerupai sirip ikan hiu. Di bagian hilir, Muara Citanduy memperlihatkan proses sedimentasi estuari yang mempertemukan material dari daratan dengan dinamika arus laut selatan. Keseluruhan proses tersebut membentuk empat pilar dinamika geologi pesisir Pangandaran yang memberikan gambaran utuh mengenai evolusi kawasan pantai selatan Jawa.

3. Benteng Hijau Pandan Laut, Gumuk Pasir, dan Perisai Hayati Penolak Tsunami Pantai Selatan

Karakteristik pesisir yang dipengaruhi angin laut dan gelombang samudra secara alami membentuk benteng hayati (biotic) yang berfungsi melindungi kawasan pantai dari ancaman abrasi dan tsunami. Formasi gumuk pasir yang berpadu dengan vegetasi pantai menjadi pelindung alami terhadap energi gelombang besar. Tumbuhan seperti Pandan Laut (Pandanus tectorius), Katang-katang (Ipomoea pes-caprae), dan Nyamplung (Calophyllum inophyllum) berperan penting dalam mengikat pasir serta mengurangi laju abrasi pantai. Kawasan hutan pantai tersebut juga menjadi habitat satwa liar, seperti Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) dan rusa yang hidup di kawasan Cagar Alam Pananjung. Keberadaan benteng hijau ini menunjukkan bahwa ekosistem pesisir memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.

4. Jejak Arsitektur Kereta Api Wilhelmina, Mitologi Ronggeng Gunung, dan Hajat Laut

Pada panggung sejarah sosiokultural (cultural), masyarakat Pangandaran mewariskan berbagai peninggalan sejarah dan tradisi yang berkembang seiring perjalanan kawasan pesisir ini. Salah satu warisan penting adalah Terowongan Wilhelmina, yang pernah menjadi bagian dari jalur kereta api Banjar–Pangandaran pada masa kolonial. Kawasan Pananjung juga menyimpan berbagai cerita rakyat mengenai kerajaan kuno yang dikisahkan pernah diserang bajak laut. Dari kisah tersebut lahir legenda Ronggeng Gunung yang hingga kini menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Pangandaran. Tradisi Hajat Laut yang rutin diselenggarakan masyarakat nelayan menjadi wujud rasa syukur atas hasil laut sekaligus bentuk kearifan lokal dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir. Seluruh warisan budaya tersebut memperlihatkan eratnya hubungan antara masyarakat dengan lingkungan alam tempat mereka hidup.

5. Penutup: Kompas Strategis Geowisata untuk Ketahanan Pesisir Terpadu Nusantara

Oleh karena itu, sinergi antara keunikan Tombolo Pananjung, sistem karst Cukang Taneuh, Gua Situmang dan Satirah, kawasan Karang Nini, Muara Citanduy, benteng vegetasi pantai, hingga kekayaan sejarah dan budaya Pangandaran layak dijadikan fondasi utama pembangunan geowisata berkelanjutan (Environmentally Sound and Sustainable Development). Pengembangan kawasan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan daya tarik wisata, tetapi juga memperkuat mitigasi bencana berbasis masyarakat, konservasi lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi melalui pemandu lokal (geoguide), koperasi nelayan, dan pengelolaan kawasan pesisir yang ramah lingkungan. Memahami perjalanan panjang pembentukan bentang alam Pangandaran merupakan salah satu langkah penting dalam menjaga kelestarian alam sekaligus memperkuat identitas kebangsaan Indonesia.

#JawaBarat #SemenanjungPananjung #TomboloPangandaran #KarstDewasaCukangTaneuh #GuaSitumangSatirah #BatuHiuKarangNini #MuaraCitanduy #TerowonganWilhelmina #RonggengGunung #HajatLautPangandaran #WawasanKebangsaan

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: WISATABUMI NUSANTARA #Seri-40: “Pangandaran: Kuartet Dinamika Pesisir, Karst Dewa, dan Benteng Hijau Penolak Katastrofe”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *