WISATABUMI NUSANTARA #Seri-39: “Ciremai: Gunung Api Soliter, Evolusi, Cincin Telaga Maar, dan Sabuk Air”

Oleh: Oman Abdurahman

Wisatabumi Nusantara

MajmusSunda News  – Bandung, Rabu (29/07/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-39 dengan mengajak pembaca menelusuri kemegahan Gunung Ciremai sebagai gunung api strato aktif soliter tertinggi di Jawa Barat. Melalui perspektif geologi, vulkanologi, hidrogeologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya, seri ini mengulas perjalanan evolusi panjang Gunung Ciremai, fenomena cincin telaga maar, sabuk air yang menghidupi masyarakat di sekitarnya, hingga nilai sejarah dan tradisi yang menjadikan kawasan ini sebagai salah satu laboratorium kebumian paling lengkap di Indonesia.

1. Sasis Tektonik Geodinamika Sunda dan Kemegahan Menara Vulkanik Soliter Ciremai

Bangunan bentang alam mahadahsyat di tatar Jawa Barat berdiri kokoh di atas sasis aktivitas geodinamika Busur Vulkanik Sunda Kuarter pada koridor Taman Nasional Gunung Ciremai. Struktur geologi makro kawasan ini dikontrol ketat oleh zona penunjaman lempeng aktif bawah samudra yang memicu peleburan batuan kerak dan menyuplai pasokan magma intensif melintasi lintasan zaman. Puncak evolusi abiotik (abiotic) daratan ini terekam monumental pada sosok Gunung Ciremai, gunung api strato aktif soliter tertinggi di Jawa Barat yang puncaknya menjulang hingga 3.078 meter di atas permukaan laut. Sebagai gunung api tunggal yang posisinya terisolasi dari klaster utama, Ciremai yang sekarang merupakan hasil evolusi sedikitnya lima fase perkembangan geologi. Fase pertama ditandai oleh batuan dasit di Batukuda, dilanjutkan fase kedua yang meninggalkan jejak Kaldera Gunung Kromong dengan bukti lava andesit-basalt di Batulawang, manifestasi hidrotermal berupa mata air panas di Cipanas, Batu Bleneng di sekitar Jalan Tol Jakarta–Cirebon Km 182, serta endapan lahar di Walahar. Pergerakan magmatisme kemudian bergeser ke arah timur pada fase ketiga di kawasan Darma yang meninggalkan Kawah Manuk, disusul fase keempat berupa runtuhan kompleks Kaldera Gegerhalang yang mengendapkan material piroklastik dalam jumlah besar hingga mengubur sejumlah mamalia yang fosilnya kini ditemukan pada Formasi Gintung. Evolusi tersebut mencapai fase kelima melalui tumbuhnya Gunung Ciremai modern di dalam kaldera purba Gegerhalang dengan karakter kawah ganda yang megah. Penjelajahan menuju rahim vulkanik soliter ini menuntun setiap jiwa untuk tertunduk bersujud, menyadari mutlaknya Kuasa dan Keagungan Sang Pangripta Jagat Raya yang menjadikan kawasan ini sebagai laboratorium kebumian yang luar biasa.

Wisatabumi Nusantara
Sumber ilustrasi: Sfw_2503. Gunung Ciremai, Wikimedia Commons. Lisensi CC BY-SA 4.0.

2. Manifestasi Volcanogenic Sedimentary Rocks, Sabuk Air, dan Cincin Telaga Maar

Keunggulan abiotik (abiotic) kawasan ini merupakan hasil nyata dari perjalanan evolusi geologi yang sangat panjang sehingga menghasilkan geodiversitas yang istimewa. Rentangannya membentang mulai dari hamparan volcanogenic sedimentary rocks (VSR) yang di bawah permukaan Arjawinangun diketahui menjadi batuan penyusun utama Formasi Jatibarang, salah satu reservoar minyak dan gas bumi produktif. Fenomena bawah permukaan ini diduga berlanjut ke kawasan Maja yang memiliki karakter tektonik serupa. Di sisi selatan, kawasan Waled menyimpan temuan fosil megalodon sebagai penanda bahwa wilayah tersebut pernah menjadi lingkungan laut purba sebelum Gunung Ciremai tumbuh. Seiring perjalanan evolusi gunung api, aktivitas hidrotermal memunculkan mata air panas dan rembesan gas alam di kawasan Sangkanhurip, Kawah Manuk, dan Cipanas, bersanding dengan pembentukan belasan maar atau kawah hasil letusan freatomagmatik yang kemudian terisi air tanah menjadi telaga alami. Di antaranya ialah Telaga Remis, Telaga Cicerem, Setu Patok, dan Situ Sangiang. Seluruh rangkaian sejarah geologi tersebut membentuk sabuk air (water belt) berupa sistem akuifer melingkar yang memancarkan ratusan mata air jernih sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat Kuningan, Majalengka, hingga Cirebon.

3. Benteng Keanekaragaman Hayati TNGC dan Laboratorium Eksklusif Flora-Fauna Endemik

Karakteristik fisik pegunungan soliter yang berhawa sejuk serta kaya unsur hara vulkanik secara alami menopang pilar hayati (biotic) sebagai benteng ekologi Jawa Barat. Kawasan hutan hujan tropis yang berada di bawah pengelolaan Taman Nasional Gunung Ciremai menjadi habitat penting bagi berbagai satwa yang dilindungi, seperti Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), dan Surili (Presbytis comata). Salah satu ikon biodiversitas kawasan ini ialah Ikan Dewa (Tor oro) yang hidup di mata air alami beroksigen tinggi, terutama di kawasan Cigugur dan Cibulan. Kekayaan hayati tersebut dilengkapi oleh keberadaan Edelweis Jawa (Anaphalis javanica) di zona subalpin, serta kura-kura Belawa (Amyda cartilaginea) yang dilestarikan di kawasan Belawa sebagai bagian dari kearifan lokal. Keseluruhan ekosistem ini berperan penting dalam menjaga stabilitas hidrologi sekaligus mengurangi potensi longsor di kawasan lereng Gunung Ciremai.

4. Sosiokultural “Kawin Cai” dan Kedigdayaan Tradisi Budaya Air

Pada panggung sejarah sosiokultural (cultural), masyarakat sekitar Gunung Ciremai mengembangkan hubungan yang erat dengan alam melalui berbagai tradisi yang diwariskan turun-temurun. Salah satunya adalah upacara adat Kawin Cai, ritual penyatuan air dari mata air keramat sebagai simbol kesuburan dan keberlanjutan kehidupan pertanian. Jejak peradaban kawasan ini juga tercermin dari keberadaan Situs Megalitikum Cipari, peninggalan Kerajaan Saunggalah di Kuningan, hingga kisah heroisme pasukan berkuda Kuda Kuningan yang dipimpin Adipati Arya Kemuning. Di lereng timur Gunung Ciremai berdiri Gedung Perundingan Linggarjati, saksi penting diplomasi internasional dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kekayaan budaya tersebut semakin lengkap melalui Seni Topeng Cirebonan serta warisan kuliner khas, seperti Sega Jamblang dan Empal Gentong. Keseluruhan tradisi itu menunjukkan bahwa masyarakat Sunda dan pesisir Cirebon telah lama mempraktikkan kearifan lokal dalam menjaga kelestarian hutan dan sumber mata air.

5. Penutup: Kompas Strategis Geowisata Menuju Keberlanjutan Peradaban Nusantara

Oleh karena itu, sinergi antara evolusi Gunung Ciremai, sistem sabuk air, cincin telaga maar, kekayaan hayati, serta warisan sejarah dan budaya kawasan ini layak dijadikan fondasi utama pembangunan geowisata berkelanjutan (Environmentally Sound and Sustainable Development). Pengelolaan potensi kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai bersama masyarakat diharapkan tidak hanya memperkuat sektor pariwisata, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan pemandu lokal (geoguide), perlindungan kawasan hulu, pengembangan ekonomi berbasis konservasi, dan wisata edukatif rendah emisi karbon. Memahami perjalanan panjang bumi dari evolusi gunung api hingga lahirnya peradaban di sekitarnya merupakan salah satu cara terbaik untuk menjaga kelestarian alam sekaligus memperkuat jati diri bangsa Indonesia.

#JawaBarat #GunungCiremaiSoliter #TamanNasionalGunungCiremai #SitusMegalitikumCipari #SaunggalahKuningan #PerjanjianLinggarjati #SeniTopengCirebonan #KulinerEmpalGentong #SabukAirKuninganMajalengka #CincinTelagaMaarPurba #IkanDewaCibulan #AdatKawinCaiSunda #WawasanKebangsaan

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: WISATABUMI NUSANTARA #Seri-39: “Ciremai: Gunung Api Soliter, Evolusi, Cincin Telaga Maar, dan Sabuk Air”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *