Ketika Kulerai Ia, Kudapati Kecupan-Mu yang Paling Manis

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Selasa (28/07/2026) Sepanjang perjalanan hidup, kita hampir selalu diajak percaya bahwa kehidupan bertumbuh melalui penambahan. Pengetahuan bertambah, pengalaman bertambah, sahabat bertambah, bahkan cara kita memahami dunia pun semakin luas. Peradaban modern mengajarkan bahwa setiap persoalan memiliki metode, setiap gejala memiliki permodelan, dan setiap kemajuan dapat diukur. Tidak ada yang keliru. Memang demikianlah kehidupan bekerja di hadapan mata kita.

Namun, perjalanan yang panjang sering kali memperlihatkan sesuatu yang tidak seluruhnya dapat dijangkau oleh permodelan. Ada orang yang pengetahuannya semakin luas, tetapi kegelisahannya ikut membesar. Ada yang semakin mampu menjelaskan banyak hal, tetapi justru semakin sulit menjelaskan dirinya sendiri. Seolah-olah ada wilayah yang tidak menolak ilmu, tetapi juga tidak menyerahkan seluruh rahasianya kepada ilmu.

Kesadaran seperti itu ternyata bukan hanya lahir di ruang-ruang para pencari hikmah. Ia juga sering muncul pada mereka yang menghabiskan hidupnya di puncak ilmu pengetahuan. Imam Syafi’i pernah mengisyaratkan bahwa semakin luas ilmu seseorang, semakin ia menyadari betapa sedikit yang telah diketahuinya. Berabad-abad kemudian, Albert Einstein menggambarkan dirinya hanya seperti seorang anak kecil yang bermain di tepi pantai, sementara samudra kebenaran masih terhampar tanpa tepi. Barangkali memang demikian tabiat pengetahuan. Ketika ia masih muda, ia gemar menjelaskan. Ketika ia mulai dewasa, ia belajar mempertanyakan. Dan ketika ia mencapai puncaknya, ia memilih menundukkan kepala.

Barangkali karena itu, kehidupan diam-diam mengenalkan cara yang lain. Bukan selalu dengan menambah, melainkan dengan mengurai. Mengurai kelekatan pada pujian. Mengurai keyakinan bahwa segala sesuatu harus berada dalam genggaman nalar. Mengurai rasa memiliki yang terlalu rapat. Yang luruh ternyata bukan dunia, melainkan cara kita memeluk dunia. Dan setiap yang terurai tidak menghadirkan kekosongan, melainkan membuka ruang yang sebelumnya tertutup oleh diri sendiri.

Di titik itu, dunia tampak berubah tanpa benar-benar berubah. Ilmu tetap indah. Penelitian tetap penting. Ketelitian tetap diperlukan. Bahkan kehidupan material tetap layak diperjuangkan. Hanya saja, semuanya seperti bergeser dari singgasana menuju tempatnya yang wajar. Ia tidak lagi menjadi tujuan terakhir, melainkan menjadi jalan yang mengantarkan. Pengetahuan tentang benda-benda tidak kehilangan nilainya, justru menjadi lebih bening karena tidak lagi berhenti pada benda itu sendiri.

Di situlah paradoks kehidupan mulai memperlihatkan wajahnya. Semakin dunia tidak dikejar, semakin ia datang tanpa banyak meminta. Semakin materi tidak dipeluk sebagai tujuan, semakin ia menjadi alat yang menenangkan. Peluruhan duniawiah ternyata bukan menghadirkan kemiskinan makna, melainkan menempatkan dunia pada martabatnya yang paling mulia. Materi tidak lagi menjadi mahkota yang diperebutkan, tetapi berubah menjadi hamparan yang mengantarkan langkah. Seperti karpet merah yang indah, ia bukan tujuan perjalanan, melainkan jalan menuju sebuah gerbang yang jauh lebih kekal.

Mungkin pada titik itulah manusia mulai mengenali dirinya sendiri. Seluas apa pun ilmu yang dipelajari, setinggi apa pun peradaban yang dibangun, sedalam apa pun permodelan yang disusun, selalu ada batas yang tidak pernah berhasil dilewati. Batas itu bukan kekalahan ilmu, melainkan penanda bahwa manusia memang tidak diciptakan sebagai sumber dari segala pengetahuan. Ada ruang yang membuatnya tetap rapuh, tetap bergantung, tetap merindukan sesuatu yang tidak dapat diproduksi oleh akal, tidak dapat dibeli oleh materi, dan tidak dapat diwariskan oleh peradaban. Barangkali itulah hakikat kedhaifan manusia; bukan kelemahan yang memalukan, melainkan anugerah yang menjaga agar pengetahuan tidak berubah menjadi kesombongan, dan kemajuan tidak menjelma menjadi berhala baru.

Lalu, tanpa suara dan tanpa argumentasi, perlahan tersingkap bahwa tidak ada satu pun yang benar-benar datang dari genggaman manusia. Dunia yang indah itu dihadirkan. Ilmu yang menyejukkan itu pun diantarkan. Dan ketika satu demi satu itu kulerai, justru kudapati kecupan-Mu yang paling manis. Dunia tidak hilang. Ilmu tidak ditinggalkan. Keduanya tetap tinggal, hanya menjadi hamparan yang mengantar kaki melangkah menuju-Mu. Di sanalah akhirnya nama Allah tidak lagi hadir sebagai sesuatu yang dicari, melainkan sebagai Dia yang sejak awal telah lebih dahulu menunggu setiap pengembara yang perlahan meluruhkan dirinya.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Ketika Kulerai Ia, Kudapati Kecupan-Mu yang Paling Manis
Penulis:Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *