WISATABUMI NUSANTARA Seri-32: Menelusuri Labirin Maar: Lanskap Ranu Purba dari Lemongan ke Semeru

Oleh: Oman Abdurahman

WISATABUMI NUSANTARA

MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (25/07/2026)WISATABUMI NUSANTARA memasuki Seri ke-32 dengan mengajak pembaca menjelajahi Kompleks Vulkanik Lemongan, Bromo, Tengger, dan Semeru di Provinsi Jawa Timur. Kawasan ini memperlihatkan bagaimana aktivitas vulkanisme purba membentuk bentang alam unik berupa deretan danau maar (ranu) yang menyimpan jejak letusan freatomagmatik, kekayaan keanekaragaman hayati, serta warisan budaya masyarakat Tengger. Seluruh potensi tersebut berpadu menjadi fondasi pengembangan pendidikan, konservasi, dan geowisata berkelanjutan.

Teman-teman, mari kita meluncur menembus kabut magis Jawa Timur untuk bergeowisata di Kompleks Vulkanik Lemongan, Bromo, Tengger, dan Semeru. Di sini, kita tidak menapak hamparan pantai berpasir putih, melainkan melacak labirin ranu-ranu raksasa yang menyimpan teka-teki letusan freatomagmatik masa lalu. Kehadiran jajaran danau maar yang eksotis ini bertindak sebagai sasis pembuka gerbang misteri geodinamika bumi yang menyimpan keindahan fisik luar biasa di kalangan komunitas peneliti dunia. Jalinan kosmis ini menuntun kita untuk tertunduk bersujud menyadari mutlaknya Kuasa dan Keagungan Sang Pencipta Jagat Raya yang merajut bekas kawah runtuhan menjadi telaga berair jernih, membawa pesan kuat bahwa melalui instrumen geowisata edukatif berbasis masyarakat, tata pariwisata hijau ini harus sukses menyejahterakan ekonomi masyarakat lokal secara nyata di atas kaki sendiri.

Keunggulan abiotik (Abiotic) pusaka bumi jajaran ranu ini dikontrol ketat oleh aktivitas vulkanisme katastrofik pada masa lalu. Perjalanan fisik kita dimulai dari kaki Gunung Lemongan sebagai episentrum kompleks maar (maar: kawah gunung yang tidak jadi) terpadat di Nusantara dengan koleksi dua puluh tujuh kawah runtuhan alami. Bentang alam lubang kawah melingkar berpiring dangkal ini terbentuk akibat ledakan uap hidrovolkanik dahsyat, menyisakan cekungan eksotis seperti Ranu Klakah, Ranu Bedali, dan Ranu Pakis (ranu: danau bekas kawah). Sasis tektonik-vulkanis ini membentang megah menuju Kaldera Purba Tengger (kaldera: kawah besar), menjebak klaster danau kawah maar berketinggian tinggi seperti Ranu Pani, Ranu Regulo, hingga keindahan Ranu Kumbolo di kaki Gunung Semeru.

WISATABUMI NUSANTARA
Sumber foto: Radar Malang/Jawa Pos.

Karakteristik fisik bentang alam air tawar yang jernih dan kaya hara mineral vulkanis secara alami merawat pilar hayati (Biotic) berkasta tinggi di kawasan pegunungan. Rahim basah jajaran danau maar ini bertindak secara ksatria menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kelestarian keanekaragaman hayati air tawar. Kecerlangan hidrologi ranu memelihara habitat alami bagi plankton, tumbuhan air, serta pasokan pakan bagi kawanan burung endemik pegunungan. Keheningan permukaan air danau juga diselimuti sabuk hijau hutan tropis lebat dan vegetasi perintis berupa cemara gunung purba yang mengunci stabilitas retensi air tanah sekaligus menahan ancaman erosi lereng terjal Kaldera Jambangan.

Pada panggung sejarah sosiokultural (Cultural), respons kebudayaan masyarakat adat merajut benang merah peradaban spiritual dan adaptasi ruang yang sangat bernilai sejarah. Warga Suku Tengger memegang teguh hukum adat mengenai kesucian air telaga melalui berbagai ritual sesaji untuk menjaga ekosistem mata air suci tetap lestari. Hubungan kosmologi puncak Mahameru berpadu harmonis dengan mitos dan warisan lokal sebagai tempat bersemayam para dewa, menenun sejarah spiritualitas yang tetap berdiri tegak menembus batas zaman. Keberadaan ranu-ranu ini turut membentuk cara hidup, struktur sosial, serta tata kelola pemanfaatan air bersih yang sarat nilai spiritual dan terbukti mampu menjaga kelestarian lingkungan hidup masyarakat pedesaan.

Oleh karena itu, pengembangan Kompleks Vulkanik Lemongan, Bromo, Tengger, dan Semeru dirancang secara ksatria dengan memadukan tiga pilar konservasi, yaitu keragaman abiotik, biotik, dan kultural, serta tiga kegiatan utama berupa geowisata, edukasi, dan ekonomi sirkular sebagai strategi akselerasi pembangunan kawasan. Pengelolaan lingkungan dikembangkan menjadi motor ekonomi sirkular masyarakat melalui pemberdayaan koperasi pemandu jip lokal (geoguide), penguatan produk unggulan desa, serta pengembangan pariwisata minat khusus rendah emisi karbon. Sektor pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi diperkuat melalui sosialisasi mitigasi bencana gunung api secara terpadu dengan melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat. Langkah antisipatif ini sangat penting mengingat Gunung Semeru hingga kini masih merupakan gunung api aktif yang berpotensi menyemburkan material vulkanik dan awan panas. Seluruh orkestrasi pariwisata hijau berbasis narasi keselamatan geologi tersebut diharapkan mampu menjadikan benteng ranu purba Jawa Timur semakin berwibawa dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mengantar setiap insan untuk semakin menyadari Kuasa, Keajaiban, dan Keagungan Sang Pencipta Jagat Raya.

#JawaTimur #KompleksVulkanikLemongan #GunungSemeru #GunungBromo #Tengger #RanuKumbolo #RanuPani #RanuKlakah #Geowisata #WawasanKebangsaan

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: WISATABUMI NUSANTARA Seri-32: Menelusuri Labirin Maar: Lanskap Ranu Purba dari Lemongan ke Semeru

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *